Wartain.com || Tanggal 10 Februari 2024 diperingati sebagai Hari Raya Imlek oleh masyarakat Tionghoa. Secara etimologis, Imlek berarti Tahun Baru Cina yang jatuh pada tanggal satu bulan pertama di awal tahun dalam kalender Cina.
Dalam bahasa Tiongkok, istilah kata imlek dibagi menjadi dua suku kata yaitu, Im berarti “bulan”, sedangkan lek artinya penanggalan. Imlek berarti penggalan bulan.
Tahun Baru Imlek biasanya dimeriahkan dengan berbagai macam tradisi. Mulai dari festival lampion atau Cap Go Meh, pertunjukan barongsai, hingga berbagi angpao.
Namun perlu diketahui, bahwa terdapat satu tujuan utama dalam perayaan Imlek, yakni untuk mencapai kesejahteraan, ketentraman, dan kebahagiaan.
Ritual Imlek sendiri berlangsung selama 21 hari, dimulai dengan doa kepada Dewa Dapur dan diakhiri dengan perayaan Festival Lampion atau Cap Go Meh.
Proses penghantaran Dewa Dapur ke langit dilakukan tanggal 23 atau 24 bulan 12 kalender Lunar atau kurang lebih seminggu sebelum perayaan Imlek. Dewa Dapur ini bernama Tjiao Kun Kong, diyakini mempunyai tugas untuk memberikan laporan mengenai kehidupan manusia kepada Thian (Dewa Tertinggi).
Pada hari pertama perayaan Imlek, komunitas Tionghoa umumnya mengenakan pakaian baru, saling bertukar ucapan, dan berbagi kebahagiaan melalui tradisi memberikan hóng bāo (红包), atau lebih dikenal dengan sebutan angpao, yang berupa amplop merah yang berisi uang.
Dalam merayakan Imlek, warna dominan yang digunakan adalah merah dan kuning. Merah melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan, sementara kuning melambangkan keceriaan.
Oleh karena itu, tanaman-tanaman yang dipajang selama perayaan Imlek cenderung berwarna merah, kuning, dan ungu. Anggrek, adenium, dan bambu emerald adalah contoh tanaman yang umumnya dipilih.
Tidak hanya tanaman, buah-buahan seperti kurma, semangka merah, jeruk, apel, dan pear juga disiapkan. Kurma melambangkan kelimpahan, semangka merah sebagai simbol keberuntungan, pear sebagai simbol kebahagiaan, dan apel sebagai simbol kesehatan dan keselamatan.
Jeruk dianggap sebagai simbol kekayaan, kedamaian, dan kemewahan, dan biasanya disajikan bersama daunnya untuk melambangkan pertumbuhan kekayaan yang berkelanjutan.
Selain tanaman dan buah, masyarakat Tionghoa juga menyiapkan kacang, kuaci, kue lapis, kue mangkok, kue keranjang, dan agar-agar, yang dianggap sebagai simbol kelahiran.***
Foto: Wartain.com/Ruswandi
Editor: Raka A. Firmansyah
(Ruswandi)
