26.7 C
Jakarta
Jumat, Mei 1, 2026

Latest Posts

Mengenal Hari Nahas dalam Al-Qur’an : Bagaimana Menggunakan Waktu Dengan Tepat

Oleh : AM Soleh/Pimpinan Ponpes Cahaya Kapuas, Pontianak, Kalbar

Wartain.com || Sejak dahulu Orang tua kita sebelum melakukan suatu aktivitas -terutama hal-hal yang bersifat penting- seperti acara pernikahan, buka usaha, pindah rumah dan sebagainya, jauh-jauh hari mereka telah memilih hari dan jam yang baik, mereka sangat menghindari hari nahas untuk aktivitas-aktivitas yang baik.

Dalam Astrologi Abu Ma’syar al-Falaki terdapat konsep siklus waktu (Dawur As-Sa’ah) yaitu diantaranya pada perputaran hari yang tujuh beserta karakteristik pada setiap jamnya, apakah dia sa’adah, nahas, atau mumtajizah (bercampur). (Lihat abu masyar alfalaki)

Tahukah anda bahwa istilah “Hari Nahas” ternyata ada dalam Al-Qur’an. Terdapat dua ayat dalam surat yang berbeda yang menyebutkan tentang Hari Nahas;

Pertama: dalam bentuk mufrad (tunggal) “yaumi nahsin” ( يوم نحس ) dalam surat Al-Qamar ayat 19 :
إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada HARI NAHAS yang terus menerus.” (Q.S al-Qamar (54:19)

Kedua: dalam bentuk jamak “Ayyamin nahisaatin” ( ايام نحسات ) dalam Surat Fushilat ayat 16:
فَأَرۡسَلۡنَا عَلَیۡهِمۡ رِیحࣰا صَرۡصَرࣰا فِیۤ أَیَّامࣲ نَّحِسَاتࣲ لِّنُذِیقَهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡیِ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَاۖ وَلَعَذَابُ ٱلۡـَٔاخِرَةِ أَخۡزَىٰۖ وَهُمۡ لَا یُنصَرُونَ

Artinya: Maka Kami tiupkan angin yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami ingin agar mereka itu merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. Sedangkan azab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan. [Surat Fushilat: 16]

Dalam konteks konsep siklus waktu dan sifat-sifatnya, selain menyebutkan Hari yang Nahas, pada ayat lain Al-Qur’an juga menyebutkan malam yang diberkahi ( ليلة مباركة ) yakni malam saat diturunkannya Al-Qur’an (QS 44:3).
إِنَّاۤ أَنزَلۡنَـٰهُ فِی لَیۡلَةࣲ مُّبَـٰرَكَةٍۚ
Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi [Surat Ad-Dukhan: 3]

Apabila kita tela’ah secara seksama pada ayat-ayat tersebut (yang menyebut hari nahas dan malam yang diberkahi), ada hikmah besar yang bisa kita petik, yaitu bahwa Allah SWT mengabarkan tentang dua peristiwa berbeda, yang terjadi pada Waktu berbeda, dengan sifat/karakteristik waktu yang berbeda pula, yaitu :

Pertama: Menurunkan adzab pada hari yang bersifat nahas, dan kedua: menurunkan Al-quran pada malam yang bersifat diberkahi

Ini mengandung pelajaran (‘ibrah) tentang penyesuaian antara aktivitas dan waktu, bagaimana Allah SWT memberikan contoh penyesuaian keduanya dengan tepat, yaitu: pertama; menempatkan peristiwa yang baik (Nuzulul Qur’an) dilakukan pada waktu yang baik. dan kedua; peristiwa yang menimbulkan keburukan (menimpakan adzab) terjadi pada waktu yang berkarakter nahas.

Beberapa ulama hikmah diantaranya imam Ali al-Buni dan Abu Ma’syar al-Falaki telah melakukan kajian mendalam pada siklus waktu. Diantaranya Mereka membagi siklus waktu menurut perputaran hari yang tujuh (ahad – senin – selasa – rabu – kamis – jum’at – sabtu) yang setiap harinya dibagi dalam 12 jam siang dan 12 jam malam, serta sifat masing-masing jam berdasarkan nama-nama bintang yaitu: mirikh, Zuhal, qamar, syams, Zahrah, Atharid, dan Musytari. tujuannya supaya kaum muslimin mudah dalam melakukan penyesuaian antara aktivitas dan waktu dengan tepat. (Lihat kitab abu Masyar al-Falaki dan kitab Syamsu al-ma’arif al-kubra)

Beberapa aktifitas yang baik seperti melamar, penanda tanganan kontrak usaha, seyogyanya dilakukan pada waktu yang baik supaya tambah-tambah kebaikan dan keberkahan nya. Dan Aktivitas yang menimpakan Keburukan seperti membasmi hama, menyerang musuh, seyogyanya dikerjakan pada waktu yang nahas agar maksimal dampak yang ditimbulkannya.

Caranya yaitu dengan menyesuaikan jenis aktivitas dengan jadwal hari yang tujuh berikut jamnya Masing-masing. Sebagai contoh: anda akan melangsungkan pernikahan, maka lihat dan sesuaikan pada jadwal; hari apa dan jam berapa yang baik/sa’adah, hindari hari atau jam yang berkarakter nahas. Namun apabila anda hendak menaklukkan musuh, atau menimpakan hukuman kepada penjahat maka carilah waktu yang berkarakter nahas.

Kesimpulan

Semua hari itu adalah baik, itu benar adanya. adapun sa’adah maupun nahas itu hanyalah sifat yang telah Allah SWT tetapkan padanya. Tinggal kita sebagai manusia pandai-pandai menempatkan aktivitas yang tepat pada waktu yang tepat, sehingga hasilnya maksimal dan tidak menimbulkan mudharat.

Hari yang sa’adah itu baik, apabila digunakan padanya aktivitas yang mengandung kebaikan, hari yang nahas juga baik apabila digunakan untuk melakukan aktivitas yang sesuai dengannya seperti menyerang musuh atau menimpakan hukuman.

Hal ini Persis seperti pada kasus ketika Allah SWT telah menetapkan karakteristik memotong pada pisau, atau karakteristik membakar pada api. Keduanya baik jika kita gunakan dengan seharusnya. Dan akan menimbulkan mudharat jika salah dalam penggunaannya.

Dengan memahami konsep sifat-sifat waktu, baik yang sa’adah maupun yang Nahas, kita dapat menggunakan waktu dengan lebih efektif dan bijak, sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal, menambah keberkahan, dan mengurangi mudharat.***

Foto : Ilustrasi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.