Oleh: Aam Abdul Salam/Presidium MD KAHMI Sukabumi, Penasehat Rumah Literasi Merah Putih, Sekjen PPJNA 98, Penasehat PWI dan SMSI Sukabumi
Wartain.com – Waktu terus bergulir, namun jejak para kekasih Allah tidak pernah benar-benar terhapus oleh debu sejarah. Menjelang peringatan haol wafatnya KH Ahmad Sanusi, Sukabumi tidak sekadar sedang mengenang seorang Pahlawan Nasional. Lebih dari itu, bumi moci ini sedang diundang untuk melakukan sebuah napak tilas spiritual dan filosofis. Kita diajak menyelami kembali samudera pemikiran dan perjuangan seorang ulama yang menghabiskan hidupnya demi tegaknya martabat umat dan bangsa.
Secara filosofis, perjuangan KH Ahmad Sanusi adalah sebuah manifesto dari konsep khairunnas anfahum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Bagi beliau, agama bukanlah menara gading yang menjauhkan manusia dari realitas sosial. Islam adalah energi penggerak, sebuah kompas moral, dan senjata spiritual untuk melawan kebodohan serta belenggu penjajahan.
Secara spiritual, setiap peluh, air mata, dan darah yang tertumpah dalam garis perjuangan beliau adalah bentuk thariqah (jalan sunyi) pengabdian untuk meraih rida Allah SWT. Membaca riwayat hidup beliau adalah membaca sebuah epos tentang bagaimana kecerdasan intelektual bersanding mesra dengan kesucian spiritual.
Lentera Pendidikan dan Jihad Mencerdaskan Umat
Di tengah kegelapan kolonialisme yang sengaja memelihara kebodohan, KH Ahmad Sanusi hadir membawa obor kecerdasan. Beliau memahami betul bahwa kemerdekaan sejati harus dimulai dari kemerdekaan berpikir. Melalui jalur pendidikan formal maupun pondok pesantren, beliau menanamkan benih-benih ilmu yang tak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghidupkan hati.
Bagi generasi muda Sukabumi khususnya, dan umat Islam Jawa Barat pada umumnya, visi pendidikan KH Ahmad Sanusi adalah sebuah cetak biru (blueprint) yang melampaui zamannya. Beliau ingin mencetak generasi muda Islam yang maju, responsif terhadap perubahan zaman, namun tetap kokoh berpijak pada nilai-nilai tradisi kepesantrenan. Beliau membuktikan bahwa santri tidak boleh gagap zaman, dan modernitas tidak boleh mencabut akar iman.
Dari rahim pemikiran beliaulah, lahir konsep nasionalisme yang religius. Patriotisme di mata KH Ahmad Sanusi adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Cinta tanah air (hubbul wathan) diwujudkan dengan pengabdian tanpa batas untuk bangsa dan negara.
Karya yang Abadi: Kompas Para Ulama dan Ajengan
Jasad boleh terkubur di dalam tanah, namun pemikiran KH Ahmad Sanusi menolak mati. Melalui untaian kitab dan karya-karya tulisnya yang monumental, beliau terus berbicara kepada kita melintasi sekat generasi. Hingga detik ini, karya-karya beliau tetap menjadi nur (cahaya) penerang yang menuntun langkah generasi muda dari ketersesatan ideologis.
Bagi para kiai, para ajengan, dan para ulama, warisan intelektual KH Ahmad Sanusi adalah arah dan rujukan utama. Beliau memberikan teladan bagaimana cara memberikan penerangan kepada umat dengan sejuk, mendalam, namun tetap tegas dalam prinsip. Dakwah beliau adalah dakwah yang merangkul, membangun kesadaran, dan membebaskan, bukan dakwah yang memecah belah atau menghujat.
Ajakan: Meneladani Sang Mujahid
Haol wafatnya KH Ahmad Sanusi yang kita peringati saat ini jangan hanya terjebak pada ritual seremonial tahunan. Momentum ini harus menjadi ajang refleksi diri (muhasabah) kolektif. Sudahkah kita, sebagai warga Sukabumi dan umat Islam Jawa Barat, melanjutkan estafet perjuangan beliau? Sudahkah para pemuda kita memiliki semangat juang dan patriotisme yang sama?
Mari kita jadikan momentum haol ini untuk merapatkan barisan, menghidupkan kembali tradisi literasi dan pendidikan Islam, serta memperkuat kepedulian sosial. Kita teladani keluhuran budi, ketajaman berpikir, dan keteguhan iman beliau dalam setiap jengkal aktivitas kita sehari-hari.
Kita bersaksi bahwa seluruh hidup, ilmu, karya, dan pengabdian KH Ahmad Sanusi telah menjadi lentera yang menerangi bumi Pasundan dan nusantara. Kita berdoa dengan ketulusan hati terdalam, semoga segala amal saleh beliau diterima di sisi-Nya, setiap tetes keringat perjuangannya dinilai sebagai jihad, dan beliau ditempatkan di maqam yang paling mulia di sisi Allah SWT bersama para nabi dan syuhada.
Amiin Ya Rabbal Alamiin. ***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
