26.7 C
Jakarta
Kamis, Juli 30, 2026

Latest Posts

Octahelix Whole of Society Approach: Jangan Bangun Menara di Tengah Rakyat yang Masih Mencari Tangga

Oleh: Salman Rizkatillah Abdussalam

Wartain.com – Ada satu pertanyaan besar yang harus kita ajukan hari ini: mengapa begitu banyak program pembangunan berjalan, tetapi perubahan sosial yang kita harapkan masih terasa lambat?

Kita memiliki anggaran, memiliki lembaga, memiliki regulasi, bahkan memiliki sumber daya manusia yang besar. Namun, persoalan ketimpangan, pengangguran, kemiskinan, krisis lingkungan, lemahnya partisipasi publik, dan minimnya ruang aktualisasi generasi muda masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Mungkin persoalannya bukan semata-mata kekurangan program. Bisa jadi persoalan utamanya adalah cara kita memandang pembangunan.

Selama ini pembangunan terlalu sering diperlakukan sebagai urusan pemerintah. Masyarakat hadir ketika diminta, organisasi bergerak ketika diberikan ruang, dan generasi muda sering kali hanya diposisikan sebagai penerima estafet masa depan.

Padahal sejarah membuktikan bahwa perubahan besar tidak pernah lahir hanya dari ruang kekuasaan. Perubahan selalu tumbuh dari pertemuan antara gagasan, keberanian, dan gerakan masyarakat.

Karena itu, kita membutuhkan paradigma baru: OCTAHELIX WHOLE OF SOCIETY APPROACH.

Sebuah cara pandang yang menegaskan bahwa pembangunan bukan proyek satu institusi, tetapi perjuangan bersama seluruh kekuatan masyarakat.

Mengakhiri Ego Sektoral dalam Pembangunan

Pembangunan hari ini menghadapi masalah yang tidak mengenal batas sektor.

Kemiskinan bukan hanya persoalan ekonomi. Pengangguran bukan hanya persoalan tenaga kerja. Krisis lingkungan bukan hanya persoalan pemerintah. Krisis karakter bukan hanya persoalan pendidikan.

Semua persoalan tersebut saling berhubungan.

Namun, pendekatan kita sering kali masih terjebak dalam kotak-kotak sektoral. Setiap lembaga bekerja sendiri, setiap kelompok memperjuangkan kepentingannya sendiri, sementara masyarakat menunggu hasil akhirnya.

Padahal tantangan besar membutuhkan kerja bersama.

OCTAHELIX hadir dengan gagasan bahwa perubahan harus dibangun melalui delapan kekuatan utama: pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, komunitas masyarakat sipil, generasi muda, budaya lokal, dan mitra strategis.

Bukan untuk menambah rumit struktur pembangunan, tetapi untuk menyatukan energi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Dari Masyarakat Sebagai Objek Menuju Masyarakat Sebagai Subjek

Salah satu kritik terbesar terhadap pembangunan hari ini adalah masih kuatnya paradigma bahwa masyarakat hanya sebagai penerima manfaat.

Masyarakat diberikan program, tetapi tidak selalu diberikan ruang untuk menentukan arah.

Masyarakat diberikan bantuan, tetapi tidak selalu diberikan kesempatan membangun kemandirian.

Padahal rakyat bukan angka statistik. Rakyat adalah pemilik pengalaman, pengetahuan, dan kekuatan sosial.

Petani memahami tanahnya. Nelayan memahami lautnya. Komunitas memahami persoalan lingkungannya. Pemuda memahami keresahan generasinya.

Pembangunan yang mengabaikan suara masyarakat hanya akan melahirkan kebijakan yang jauh dari realitas.

Pemuda Harus Berhenti Menjadi Penonton Sejarah

Sebagai aktivis muda, saya melihat ada satu persoalan besar dalam pembangunan kepemudaan: terlalu sering pemuda dipuji dalam pidato, tetapi kurang diberikan ruang dalam pengambilan keputusan.

Pemuda sering disebut sebagai masa depan bangsa, tetapi masa depan tidak pernah datang tanpa peran hari ini.

Pemuda harus ditempatkan sebagai mitra strategis pembangunan, bukan sekadar objek kegiatan seremonial.

Energi pemuda harus diarahkan menjadi kekuatan inovasi sosial, kewirausahaan, advokasi masyarakat, transformasi digital, dan penguatan demokrasi.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam, tetapi bangsa yang mampu mengelola energi generasi mudanya.

Budaya Adalah Modal Perubahan, Bukan Sekadar Simbol

Di tengah arus modernisasi, kita sering terjebak pada anggapan bahwa kemajuan harus meninggalkan tradisi.

Padahal bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu maju tanpa kehilangan akar.

Nilai gotong royong, kepedulian sosial, solidaritas, dan kebersamaan adalah modal sosial yang telah diwariskan oleh masyarakat.

Pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan nilai kemanusiaan akan melahirkan masyarakat yang maju secara material, tetapi rapuh secara sosial.

Whole of Society: Jalan Keluar dari Krisis Kepercayaan

Hari ini kita menghadapi tantangan yang tidak kalah penting: krisis kepercayaan.

Masyarakat mulai mempertanyakan apakah pembangunan benar-benar hadir untuk mereka.

Karena itu, pembangunan membutuhkan pendekatan baru yang mengembalikan hubungan antara pemerintah dan masyarakat sebagai hubungan kemitraan.

Whole of Society bukan berarti semua pihak harus memiliki peran yang sama, tetapi semua pihak harus memiliki tanggung jawab yang sama terhadap masa depan.

Pemerintah membuat kebijakan. Masyarakat memberikan energi sosial. Dunia usaha menghadirkan kekuatan ekonomi. Akademisi menghadirkan ilmu. Media menjaga ruang publik. Pemuda menghadirkan keberanian perubahan. Budaya menjaga nilai kemanusiaan.

Semuanya harus terhubung.

Saatnya Bergerak dari Kompetisi Menuju Kolaborasi

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan organisasi. Tidak kekurangan potensi.

Yang sering kurang adalah kemampuan untuk menyatukan kekuatan.

Kita terlalu lama membangun tembok antar sektor, antar kelompok, bahkan antar generasi.

Padahal masa depan membutuhkan jembatan.

OCTAHELIX WHOLE OF SOCIETY APPROACH bukan sekadar konsep pembangunan, tetapi sebuah seruan moral bahwa perubahan harus menjadi kerja bersama.

Kita harus berhenti bertanya siapa yang paling berkuasa, dan mulai bertanya siapa yang paling siap berkontribusi.

Sebab pembangunan bukan hanya tentang membangun gedung, jalan, atau infrastruktur fisik.

Pembangunan adalah tentang membangun manusia, membangun kesadaran, dan membangun kekuatan bersama.

Masa depan tidak akan lahir dari satu tangan yang bekerja sendiri. Masa depan akan lahir dari jutaan tangan yang bergerak bersama.

Dan sudah saatnya kita membangun Indonesia bukan hanya dengan program, tetapi dengan gerakan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(SAL/Biro Garut)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.