26.7 C
Jakarta
Jumat, Mei 15, 2026

Latest Posts

Korban Baru Muncul, Dugaan Penipuan Investasi Hijab di Sukabumi Kian Meluas

Wartain.com || Kasus dugaan penipuan dan penggelapan berkedok investasi bisnis hijab di Sukabumi terus berkembang. Setelah sebelumnya seorang korban mengaku merugi hingga Rp1,1 miliar, kini korban lain mulai angkat bicara dan mengungkap pengalaman serupa.

Salah satunya SI, pengusaha konveksi asal Jakarta, yang mengaku memiliki hubungan bisnis dengan terduga pelaku berinisial SMW. Keduanya diketahui telah saling mengenal cukup lama setelah bertemu dalam sebuah kelas bisnis.

Bahkan, SI sempat memberikan keringanan harga kain kepada SMW sebagai bentuk dukungan saat rekannya itu mengalami kesulitan usaha.

“Sebetulnya dulu teman kenal udah beberapa tahun, lebih dari 5 tahun, kenal di kelas bisnis. Jadi sering berteman, sering bertemu, dia juga produksi di tempat kami, awalnya ya baik-baik aja kayak gitu. Sampai kemarin itu kami tahu kondisi beliau sedang jatuh banget gitu. Sebagai teman dekat, aku merasa dekat sama dia, merasa seperjuangan gitu ya, aku nolong tuh silakan produksi dengan harga tidak seperti biasanya, yang penting kamu bisa jalan lagi gitu,” kata SA, Rabu (15/4/2026).

Namun, memasuki tahun 2024, hubungan bisnis tersebut mulai menunjukkan masalah. SI mengaku kesulitan menagih pembayaran, sementara pihak SMW dinilai tidak kooperatif.

“Semua staf kami admin-admin kami itu sudah tidak mau karena tidak kooperatif. Jadi dia produksi itu setahun sebelumnya, dimintain pelunasan susah, koordinasinya sama adminnya susah, sama manajernya juga susah,” tuturnya.

Keanehan lain juga muncul ketika SMW kerap meminta bantuan untuk mentransfer uang melalui rekening suami SI, tanpa penjelasan yang jelas terkait transaksi tersebut. Nominalnya pun tidak kecil, bahkan mencapai ratusan juta rupiah.

“Tidak pernah terbuka dengan kami. Tidak pernah terbuka tapi dia bilang ‘Teteh tolong langsung transfer balik ya’ kayak gitu aja. Numpang transfer kayak gitu aja,” ujarnya.

Hingga saat ini, sisa pembayaran sekitar Rp30 juta belum juga diselesaikan. Upaya SI untuk bertemu langsung dengan SMW pun selalu gagal.

“Saya bilang jangankan mau nyari rumahnya, kita yang sudah tahu pondoknya tahu ini dicari ke sini lari ke sana, dia lari ke sana lari ke sini kayak gitu, ya sudahlah capek gitu,” paparnya.

Setelah kasus ini mencuat ke publik, SI kemudian berkomunikasi dengan korban lain, termasuk pasangan Ahmad Abdur Ra’uf (30) dan Indah Febriani. Dari komunikasi tersebut, terungkap adanya pola kejadian serupa yang dialami beberapa korban lainnya.

Indah menyebut, salah satu vendor kain asal Bandung bahkan sempat dihubungi pihak kepolisian terkait transaksi mencurigakan di rekeningnya.

“Untuk vendor asal Bandung ini menghubungi kembali bahwa dia mendapatkan panggilan dari polisi terkait ada transaksi di rekeningnya sebesar Rp127.552.000. Ketika saya tanyakan itu untuk transaksi apa, beliau mencari notanya tidak ada, ternyata setelah dicek kembali katanya untuk yang 128 juta ini itu kesalahan transfer SMW. Dia salah transfer,” ucap Indah.

Menurutnya, hingga kini sudah ada sekitar 10 orang yang mengaku menjadi korban, baik melalui pertemuan langsung maupun komunikasi via telepon. Kerugian yang dialami pun bervariasi, mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah.

Sementara itu, Ahmad Abdur Ra’uf menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kejelasan terkait dana Rp1,1 miliar miliknya yang diduga dibawa oleh terlapor.

“Kita sampai detik ini mempertanyakan uang Rp1,1 miliar saya itu digunakan untuk apa. Sampai detik ini sampai kita laporan, kita belum mendapatkan kejelasan dari terlapor,” ujar Ra’uf.

Ia berharap aparat kepolisian segera mengambil langkah tegas untuk mengusut tuntas kasus tersebut, mengingat jumlah korban yang terus bertambah.

“Kami berharap pihak kepolisian bisa bertindak cepat karena korbannya ternyata banyak, bukan cuma kami saja,” jelasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.