Oleh: Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Hari ini, kita menyaksikan realitas aneh dan ironis: ormas-ormas berperilaku premanistik tumbuh subur di negeri yang katanya demokratis. Lihat saja GRIB dan kawan-kawannya. Aksi main hakim sendiri, intimidasi di jalanan, bahkan perebutan proyek dan wilayah sering kali berlangsung dengan tameng “legalitas ormas”. Namun, mari kita lihat lebih dalam: ini bukan semata soal ormas. Ini adalah cermin retak dari negara yang kehilangan fungsinya.
Ketika Negara Lumpuh, Premanisme Tumbuh
Di mana hukum tak lagi mampu melindungi, masyarakat menciptakan hukum sendiri. Di mana aparat tak hadir, kelompok-kelompok informal menggantikannya. Maka tumbuhlah ormas-ormas yang mengklaim mewakili rakyat, padahal kerap memperalat rakyat untuk kepentingan segelintir elite. Ini adalah bentuk patologi sosial — penyakit sistemik yang timbul ketika institusi resmi gagal menjalankan perannya.
Ormas sebagai Gejala Gagalnya Negara
Negara idealnya hadir sebagai pelindung, pengatur, dan pemberi kesejahteraan. Namun ketika rakyat merasa tidak merdeka secara ekonomi, tidak adil dalam hukum, dan tidak sejahtera dalam hidup, mereka membentuk simpul-simpul perlindungan alternatif. Maka lahirlah ormas—dari yang berbasis ideologi hingga yang berwatak preman.
Ironisnya, sebagian negara justru merangkul ormas-ormas itu sebagai alat kekuasaan. Maka kita menyaksikan ormas bukan hanya menjadi negara dalam negara, tapi juga preman yang diresmikan oleh negara.
Bahaya di Balik Simbiosis Kekuasaan dan Ormas Premanistik
Ketika kekuasaan memelihara ormas-ormas liar demi kelanggengan politik, kita sedang bermain api di ladang kering. Hari ini mereka dipakai sebagai alat kekuatan, besok mereka bisa menjadi sumber pemberontakan.
Banyak elite haus kekuasaan memanfaatkan ormas sebagai buzzer jalanan, pelobi kasar, bahkan intimidator atas nama rakyat. Mereka menjadikan ormas sebagai bayangan kekuatan politik, menciptakan ketakutan, dan memanipulasi hukum. Akhirnya, rakyatlah yang jadi korban dua kali: tak dilindungi oleh negara, dan ditindas oleh ormas.
Apa Sikap Kita?
Sebagian memilih diam. Bahkan ada yang berkata, “Sudahlah, biarkan negara ini dihukum oleh perbuatannya sendiri. Kita syukuri saja hidup kita, jalani perjalanan ini dengan tenang menuju akhirat.” Ungkapan ini tampaknya penuh pasrah dan keikhlasan. Tapi perlu hati-hati, sebab jika disalahpahami, ia justru mengajak pada apatisme spiritual—pasrah tanpa ikhtiar, diam di hadapan kezaliman.
Syukur sejati bukan berarti diam terhadap kebusukan. Justru rasa syukur yang benar menuntut kita peduli, bersuara, dan memperbaiki. Spirit perjalanan menuju akhirat bukanlah pelarian dari kenyataan, tapi semangat untuk mengubah kenyataan sesuai nilai langit.
Penutup: Kembali ke Hati Nurani Bangsa
Negeri ini tak butuh ormas preman. Ia butuh negara yang berfungsi. Ia butuh keadilan ditegakkan tanpa tebang pilih. Ia butuh keberanian rakyat untuk berkata: cukup sudah!
Dan bagi kita yang mencintai negeri ini, mari jangan diam. Tetap bersyukur, ya. Tapi syukur itu harus menyalakan keberanian. Keberanian untuk menolak kezaliman, sekecil apa pun.
Karena jika suara kita terus diam, maka ormas itu tak akan pernah berhenti berteriak.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
