Wartain.com – Warga di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, menyatakan penolakan terhadap kemungkinan terduga pelaku pencabulan berinisial MH (72) kembali tinggal di lingkungan mereka.
Sikap tersebut muncul setelah dugaan pencabulan terhadap 13 anak perempuan terungkap. Warga dan para orang tua korban sepakat meminta agar MH tidak lagi menetap di kawasan permukiman tersebut.
Ketua RW setempat, Hendra (52), mengatakan keputusan itu diambil karena masyarakat ingin memastikan lingkungan tetap aman bagi anak-anak, terutama mereka yang diduga menjadi korban.
“Kalau dari lingkungan, warga berharap bapak ini tidak tinggal lagi di sini. Kami khawatir kehadirannya bisa membuat anak-anak kembali trauma,” ujar Hendra, Kamis (27/7/2026).
Menurut Hendra, MH merupakan warga pendatang yang telah tinggal di wilayah tersebut selama kurang lebih tiga tahun. Selama berada di lingkungan itu, MH dikenal warga sebagai sosok yang rajin beribadah.
Namun, dugaan perbuatan asusila terhadap sejumlah anak membuat warga merasa terkejut. Dugaan tindakan tersebut disebut terjadi di beberapa titik yang biasa digunakan warga, termasuk sekitar pelataran masjid dan gardu.
Berdasarkan informasi yang diterima pengurus lingkungan, terduga pelaku diduga melakukan tindakan tidak senonoh terhadap korban pada siang hari. Anak-anak juga disebut mendapat ancaman agar tidak menceritakan kejadian tersebut.
Selain ancaman, korban diduga diberi uang dengan nominal tertentu.
“Anak-anak takut karena ada ancaman supaya tidak bercerita. Mereka juga katanya diberi uang, mulai Rp2.000 sampai Rp5.000. Itu berdasarkan keterangan yang kami terima,” kata Hendra.
Kasus ini mulai diketahui setelah salah satu anak menyampaikan cerita kepada orang tuanya ketika mengikuti kegiatan pengajian.
Informasi tersebut kemudian ditelusuri dan jumlah anak yang diduga menjadi korban bertambah. Dari semula tujuh anak, data yang dihimpun pengurus lingkungan kemudian mencatat 13 anak perempuan.
“Awalnya ada tujuh anak, kemudian berkembang. Setelah Isya, ada catatan dari ibu korban dan ternyata jumlahnya menjadi 13 anak perempuan,” ungkapnya.
Pengurus lingkungan telah menyerahkan data kependudukan dan informasi awal terkait dugaan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.
Hendra berharap proses penanganan perkara dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi psikologis anak-anak. Ia meminta agar pemeriksaan dilakukan secara hati-hati sehingga tidak membuat para korban kembali mengalami tekanan atau trauma.
“Saya sudah ke polisi. Harapannya anak-anak jangan terlalu banyak ditanya lagi karena kasihan dan bisa trauma. Tadi juga ada sedikit pengakuan dari terduga pelaku,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
