26.7 C
Jakarta
Jumat, Juni 5, 2026

Latest Posts

Negara Sebagai Alat Penyembahan Pada Tuhan atau Pengkhianatan?

Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Sepuluh tahun pasca pemerintahan Jokowi, bangsa ini memasuki babak baru dengan naiknya Prabowo sebagai presiden. Namun, satu tahun perjalanan pemerintahannya justru diwarnai dengan berbagai gejolak dan chaos. Rakyat resah melihat kondisi sosial yang rusak, budaya yang terkikis, ekonomi yang rapuh, serta mental bangsa yang semakin terperosok dalam jurang korupsi.

Pertanyaan yang layak diajukan: di manakah peran agama, khususnya Islam, dalam pergulatan negara ini? Apakah kerja-kerja pemerintah dalam melayani rakyat dapat dianggap sebagai ibadah kepada Tuhan, atau justru sebaliknya, menjadi pengkhianatan terhadap-Nya?

Dalam perspektif filsafat agama, kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan amanah. Al-Qur’an mengingatkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisā’: 58). Ayat ini menegaskan bahwa menjalankan negara tidak bisa dilepaskan dari dimensi ilahiah. Memimpin rakyat adalah ibadah, bila dilandasi niat suci untuk menegakkan keadilan dan menyejahterakan umat.

Sebaliknya, kekuasaan menjadi pengkhianatan bila dipakai untuk melestarikan dinasti, memperkaya kelompok tertentu, dan menutup akses rakyat terhadap keadilan. Menyalahgunakan kekuasaan pada hakikatnya sama dengan merampas hak Tuhan, sebab negara adalah instrumen yang seharusnya menyalurkan nilai-nilai Ilahi ke dalam kehidupan sosial.

Dengan kata lain, negara adalah wadah agar manusia dapat menemukan jalan kembali kepada Tuhannya melalui keadilan, kasih sayang, dan kesejahteraan bersama.
Sayangnya, yang terjadi di negeri ini adalah kebalikan dari cita-cita tersebut. Agama lebih sering dijadikan simbol politik dan alat legitimasi, bukan sebagai ruh transformatif. Islam, yang semestinya hadir sebagai kompas moral, tereduksi menjadi slogan tanpa substansi. Padahal, dalam sejarahnya, agama hadir bukan sekadar mengatur ritual pribadi, melainkan untuk menata masyarakat, membangun peradaban, dan menegakkan keadilan sosial.

Filsafat agama memberi kita kerangka untuk memahami relasi antara Tuhan, negara, dan manusia. Tuhan adalah sumber nilai, negara adalah instrumen, dan manusia adalah subjek yang menempuh jalan ibadah melalui keteraturan sosial yang adil. Ketika negara gagal menghadirkan nilai-nilai Tuhan, maka negara sedang melawan fitrah agama. Inilah yang kini tampak: krisis keadilan, lemahnya integritas, dan rapuhnya kepemimpinan moral.

Lalu apa jalan keluarnya? Pertama, pemerintahan harus kembali menegaskan bahwa melayani rakyat adalah ibadah, bukan transaksi kekuasaan. Kedua, agama harus dipulihkan pada fungsi sejatinya, yakni membentuk kesadaran dan karakter bangsa. Ketiga, rakyat harus disadarkan bahwa korupsi, ketidakadilan, dan penindasan bukan hanya pelanggaran hukum positif, tapi juga dosa sosial yang meruntuhkan hubungan dengan Tuhan.

Maka, satu tahun perjalanan pemerintahan Prabowo harus menjadi momentum tafakur. Bila ia menjadikan kekuasaan sebagai amanah ibadah, bangsa ini berpeluang bangkit menuju kemuliaan. Namun bila ia terjebak dalam pusaran kekuasaan yang korup, maka sejarah akan mencatat bahwa kekuasaan itu telah berubah menjadi pengkhianatan terhadap Tuhan dan rakyat-Nya.Semoga Allah swt memberikan taufik dan hidayah pada Presiden Prabowo Subianto dan kesehatan serta kekuatan dlm menjalankan AmanahNya, dalam bimbingannya dan lindunganNya.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abd Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.