26.7 C
Jakarta
Jumat, April 17, 2026

Latest Posts

Pemuda Garut Menjawab Tantangan Zaman: dari Kampung untuk Masa Depan Daerah

Wartain.com || Garut hari ini tidak sedang baik-baik saja. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat masih berada di kisaran 7–8 persen dalam beberapa tahun terakhir—lebih tinggi dari rata-rata nasional. Garut sebagai bagian dari Jawa Barat tentu ikut merasakan dampaknya, terutama bagi anak muda yang baru lulus sekolah maupun kuliah.

Belum lagi soal kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut, angka kemiskinan di Garut masih berada di atas 10 persen. Artinya, masih banyak masyarakat yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ini bukan sekadar angka, tapi realita yang ada di sekitar kita.

Di sisi lain, Garut punya potensi besar. Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung, dengan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah. Selain itu, potensi pariwisata seperti Gunung Papandayan, Pantai Santolo, hingga kawasan Darajat Pass terus menarik wisatawan setiap tahunnya. Bahkan sebelum pandemi, kunjungan wisatawan ke Garut sempat menembus jutaan orang per tahun.

Namun persoalannya, potensi ini belum sepenuhnya dikelola secara maksimal oleh generasi muda. Banyak peluang yang masih belum disentuh secara serius—baik dari sisi inovasi, digitalisasi, maupun penguatan brand lokal.

Di tengah tantangan ini, pemuda Garut tidak bisa hanya diam. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia menunjukkan bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Ini adalah peluang besar bagi pemuda untuk terjun langsung, bukan hanya mencari kerja tapi juga menciptakan lapangan kerja.

Dalam wawancara yang dilakukan, sejumlah pemuda Garut menyampaikan pandangannya.

Salman Rizkatillah menegaskan bahwa pemuda harus menjadi motor perubahan. “Hari ini kita tidak bisa hanya mengkritik. Pemuda harus hadir dengan solusi, mulai dari membangun usaha, komunitas, sampai gerakan sosial yang berdampak langsung,” ujarnya.

Senada dengan itu, Elvan Syah Muharam menyampaikan bahwa potensi lokal Garut sangat besar jika dikelola serius. “Kita punya sumber daya, tinggal bagaimana kita berani mengolah dan memasarkan. Jangan sampai orang luar yang lebih dulu mengambil peluang ini,” katanya.

Sementara itu, Ari Ramdani menyoroti pentingnya kolaborasi. “Pemuda tidak bisa jalan sendiri. Harus ada kolaborasi dengan pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat supaya dampaknya lebih terasa,” jelasnya.

Nanan Nugraha juga menambahkan bahwa kesadaran sosial harus diperkuat. “Banyak masalah di masyarakat yang butuh kepedulian. Pemuda harus jadi yang paling depan membantu dan menggerakkan,” ungkapnya.

Di sisi lingkungan, Afsal Adrian mengingatkan pentingnya menjaga alam Garut. “Pembangunan jangan sampai merusak lingkungan. Kalau alam rusak, yang rugi kita semua,” tegasnya.

Terakhir, Ghiyats A Fawwaz menekankan pentingnya keberanian untuk memulai. “Tidak perlu menunggu sempurna. Mulai saja dulu dari apa yang kita bisa, dari lingkungan terdekat,” ujarnya.

Kuncinya ada pada keberanian untuk bergerak. Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu disuruh. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Garut ke depan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tapi juga oleh sejauh mana pemudanya mau terlibat. Dari kampung, dari komunitas, dari hal kecil—semua bisa jadi awal perubahan besar.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Salman/Biro Garut)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.