Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Mukadimah
Wartain.com || Dengan menyebut Nama Tuhan Yang Maha Esa, Sumber segala kehidupan, keadilan, dan kebenaran, kami—umat Muslim dunia bersama seluruh umat beragama dan manusia berkesadaran moral—menyatakan sikap tegas dan tak tergoyahkan terhadap setiap upaya yang mengatasnamakan perdamaian namun berdiri di atas fondasi ketidakadilan, dominasi, dan penyangkalan martabat manusia.
Kami meyakini bahwa perdamaian bukanlah produk kekuasaan, melainkan buah dari keadilan. Perdamaian bukan hasil rekayasa kekuatan dominan, melainkan hasil pengakuan atas hak, kebenaran, dan martabat seluruh umat manusia tanpa kecuali.
Karena itu, setiap lembaga, struktur, atau proyek global yang mengklaim membawa perdamaian namun mengabaikan keadilan, menyingkirkan korban, dan memusatkan kekuasaan pada satu entitas dominan, adalah pengkhianatan terhadap nilai Ketuhanan dan kemanusiaan itu sendiri.
Landasan Ketuhanan dan Moral Universal
Kami menegaskan bahwa seluruh agama besar dunia mengajarkan prinsip yang sama:
Bahwa Tuhan adalah Maha Adil, dan tidak meridhai kezaliman.
Bahwa manusia dimuliakan, dan tidak boleh dijadikan objek dominasi.
Bahwa perdamaian sejati tidak dapat dipisahkan dari keadilan sejati.
Dalam Islam, Allah menegaskan bahwa keadilan adalah perintah ilahi, bahkan terhadap pihak yang dibenci. Dalam Kekristenan, perdamaian adalah buah dari kebenaran dan kasih. Dalam Yudaisme, keadilan adalah fondasi perjanjian suci. Dalam Hindu dan Buddha, dharma dan kebenaran adalah keseimbangan kosmik yang tidak boleh dilanggar.
Dengan demikian, setiap perdamaian yang dibangun di atas ketidakadilan adalah pelanggaran terhadap kehendak Ilahi.
Pernyataan Penolakan terhadap Board of Peace
Kami dengan ini menyatakan bahwa apa yang disebut sebagai Board of Peace merupakan struktur yang secara moral, spiritual, dan kemanusiaan tidak memiliki legitimasi.
Kami menolak Board of Peace karena:
Ia mengabaikan prinsip keadilan sebagai fondasi perdamaian, dan menggantinya dengan logika dominasi kekuasaan.
Ia menyingkirkan rakyat yang menjadi korban konflik dari hak menentukan nasib mereka sendiri, dan menjadikan mereka objek rekonstruksi, bukan subjek kedaulatan.
Ia memusatkan kekuasaan pada entitas dan kepentingan tertentu, sehingga menghancurkan prinsip kesetaraan umat manusia.
Ia berpotensi mengubah penderitaan manusia menjadi komoditas ekonomi, dan menjadikan rekonstruksi sebagai instrumen keuntungan, bukan pemulihan martabat.
Ia melemahkan tatanan moral dan hukum internasional, dan membuka jalan bagi dominasi global yang tidak terkendali.
Pernyataan Moral dan Spiritual Global
Kami menyatakan bahwa tidak ada kekuasaan di dunia yang memiliki hak untuk mendefinisikan perdamaian dengan mengorbankan keadilan.
Kami menyatakan bahwa perdamaian tanpa keadilan bukanlah perdamaian, melainkan bentuk lain dari penindasan.
Kami menyatakan bahwa setiap upaya untuk memaksakan perdamaian tanpa pengakuan terhadap hak dan martabat manusia adalah bentuk kezaliman yang terstruktur.
Kami menyatakan bahwa umat beragama memiliki kewajiban moral dan spiritual untuk menolak setiap bentuk perdamaian palsu yang bertentangan dengan nilai Ketuhanan.
Seruan kepada Umat Muslim dan Seluruh Umat Beragama Dunia
Kami menyerukan kepada umat Muslim dunia, sebagai umat yang memegang amanah tauhid dan keadilan, untuk berdiri tegas dalam menolak segala bentuk rekayasa perdamaian yang mengkhianati nilai Ilahi.
Kami menyerukan kepada seluruh pemimpin agama, cendekiawan, dan umat beriman dari semua tradisi spiritual untuk bersatu dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
Kami menyerukan kepada seluruh negara dan bangsa untuk tidak memberikan legitimasi moral, politik, atau spiritual kepada struktur yang melembagakan ketidakadilan.
Komitmen Kami
Kami berkomitmen untuk:
Menegakkan keadilan sebagai fondasi perdamaian.
Membela martabat manusia di atas kepentingan kekuasaan.
Menolak setiap struktur global yang dibangun di atas dominasi dan ketidakadilan.
Berdiri bersama seluruh korban ketidakadilan, tanpa memandang bangsa, agama, atau identitas.
Kami percaya bahwa kekuasaan manusia bersifat sementara, tetapi keadilan adalah abadi.
Kami percaya bahwa struktur dominasi akan runtuh, tetapi kebenaran akan tetap berdiri.
Kami percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kezaliman bertahan selamanya.
Penutup
Deklarasi ini bukanlah pernyataan kebencian, melainkan pernyataan iman.
Bukan seruan konflik, melainkan seruan keadilan.
Bukan penolakan terhadap perdamaian, melainkan penolakan terhadap perdamaian palsu.
Kami berdiri bukan sebagai musuh siapa pun, tetapi sebagai saksi kebenaran.
Dan kami menyatakan kepada dunia:
Tidak ada perdamaian tanpa keadilan.
Tidak ada legitimasi tanpa kebenaran.
Tidak ada kekuasaan di atas kehendak Tuhan Yang Maha Adil.
Ditetapkan sebagai Deklarasi Moral dan Spiritual Umat Beragama Dunia.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
