Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Teruntuk;
Bapak Presiden Prabowo Subianto
Para Menteri Kabinet Indonesia
Para Pemimpin Lembaga dan Elit Kekuasaan
Serta seluruh rakyat Indonesia yang kami cintai
Wartain.com || Dari kedalaman sunyi kami berseru. Dengan cahaya hati kami menyampaikan. Dengan ruh kasih kami menuliskannya.
Negeri ini bukan hanya tanah dan undang-undang. Ia adalah amanah ruhani. Ia adalah bentangan sejarah yang dipilih Tuhan. Nusantara bukan bangsa biasa. Ia rahim bagi peradaban yang pernah mengajarkan dunia tentang harmoni dan kearifan.
Tetapi kini, tubuh negeri ini retak—bukan karena musuh luar, tapi karena tercerai dari ruhnya sendiri.
Wahai Bapak Presiden,
Wahai para pemegang kuasa dan saudara-saudaraku se-Tanah Air,
Kami bukan datang membawa protes. Kami datang membawa doa. Kami tidak datang sebagai pihak yang lebih tahu. Kami datang sebagai anak-anak bangsa yang tidak bisa tidur nyenyak melihat ruh negeri ini menangis.
Kita telah terlalu lama menjadikan politik sebagai panglima. Tapi kita lupa, panglima sejati adalah Tuhan. Kita sibuk membangun infrastruktur, tapi membiarkan jiwa rakyat roboh. Kita mengaku berketuhanan, tapi Tuhan hanya menjadi kata dalam sila pertama, bukan ruh dalam keputusan dan kebijakan.
Kini saatnya kita kembali.
Bukan mundur ke masa lalu, tapi maju ke masa depan dengan jiwa yang tersambung ke langit. Kita butuh bukan sekadar perubahan sistem, tapi kelahiran kembali ruh kebangsaan.
Kami mengusulkan bukan ide utopis, tapi peta ruhani yang bisa ditanam dalam langkah nyata. Sebuah jalan tengah antara modernitas dan tauhid, antara demokrasi dan ketundukan pada Tuhan, antara kekuasaan dan amanah.
Inilah yang kami sebut sebagai:
Kerajaan Ruhani Modern Nusantara.
Bukan bentuk kerajaan dalam simbol mahkota atau takhta, tapi kerajaan jiwa, di mana seluruh penyelenggaraan negara tunduk pada nilai-nilai Ilahi.
Di mana Presiden bukan hanya kepala negara, tapi pemimpin ruhani bangsa.
Di mana menteri bukan hanya manajer kebijakan, tapi pelayan amanah Tuhan.
Di mana rakyat bukan hanya objek pembangunan, tapi mitra Tuhan dalam memakmurkan bumi.
Langkah nyatanya:
Menanamkan kembali sila pertama sebagai fondasi seluruh kebijakan.
Membangun Lembaga Ruhani Nasional yang mengawal kebijakan publik agar selaras dengan nilai ketuhanan, keadilan, dan kasih sayang.
Mentransformasikan pendidikan nasional menjadi jalan lahirnya manusia berjiwa sadar, bukan hanya cerdas logika.
Menghidupkan kembali adat dan kearifan lokal sebagai ekspresi rahmat Tuhan di setiap daerah Nusantara.
Menjadikan Presiden sebagai Imam bagi rakyatnya, bukan hanya pemimpin administratif—yang berdoa bersama rakyat, menangis di hadapan Tuhan bersama rakyat.
Wahai Bapak Presiden,
Jangan biarkan era kekuasaan ini menjadi sejarah biasa. Jadikan ia catatan langit yang dikenang anak cucu sebagai masa kebangkitan ruhani Nusantara.
Kami tahu langkah ini tidak mudah. Tapi kami percaya: Anda telah dipilih bukan hanya oleh suara rakyat, tapi juga oleh tangan Tuhan. Dan tangan Tuhan tidak pernah salah menaruh amanah.
Doa Kami:
Ya Allah, Tuhan para pemimpin dan rakyat,
Luruskan niat pemimpin kami.
Lembutkan hatinya dengan cahaya-Mu.
Berikan padanya kekuatan untuk mencintai kebenaran lebih dari kekuasaan.
Dan jadikan bangsa ini rumah bagi rahmat-Mu,
Sebagaimana Engkau pernah memuliakannya dalam sejarah, muliakanlah ia kembali dalam masa depan.
Amin Yā Rabbal ‘Ālamīn.
Dengan hormat dan cinta dari suara yang mencintai negeri ini dalam diam,
Para kyai Sunyi dari Cahaya Nusantara.***
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
