Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartwin.com || Zaman ini menyaksikan tragedi terbesar umat manusia: kekuasaan jatuh ke tangan para pendusta, penindas, dan pemanipulasi. Mereka berbicara atas nama agama, tapi mengkhianati ruhnya. Mereka membawa kitab suci, tapi memutarbalikkannya demi kepentingan pribadi dan kelompok. Maka rakyat pun hidup dalam penderitaan panjang: ekonomi dikuasai oligarki, agama dijadikan alat kekuasaan, dan hati nurani dikubur di balik propaganda.
Dan celakanya, para pecinta Tuhan dan Nabi justru memilih diam. Mereka menepi, menjauh dari kekuasaan karena jijik terhadap kebusukan dunia politik. Tapi inilah kesalahan besar: ketika orang-orang baik diam, maka dunia dikuasai oleh orang-orang jahat.
Saatnya sunyi tidak hanya menjadi tempat tafakur—tapi menjadi dasar gerakan. Saatnya para pencinta yang marifat, yang memahami hakekat, turun dari gunung kontemplasi dan memimpin peradaban.
Saatnya Para Pecinta Tuhan Memimpin Dunia
Sudah cukup dunia dipimpin oleh mereka yang pandai berslogan tapi kosong dari cinta.
Sudah cukup agama dikotori oleh para elit yang memperjualbelikan Tuhan.
Sudah cukup rakyat dikhianati oleh politikus yang hanya mengulang sandiwara.
Kini saatnya kekuasaan dikembalikan kepada yang layak:
kepada mereka yang bersujud dalam sunyi,
yang menangis dalam rindu kepada Ilahi,
yang mencintai Nabi bukan sebagai simbol politik, tapi sebagai teladan hidup dalam kebenaran dan kasih.
Imam Ali berkata:
“Kekuasaan itu adalah amanah. Bila engkau tidak menempatkannya di tangan orang jujur, ia akan menjadi alat kerusakan.”
Para pencinta Tuhan harus berhenti mengasingkan diri. Sunyi bukan berarti mundur.
Sunyi adalah tempat mempersiapkan kejernihan.
Dan kejernihan itulah yang harus dibawa ke pusat kehidupan.
Tugas pecinta bukan hanya berzikir di gua, tapi membebaskan masyarakat dari belenggu kezaliman.
Tugas pencari hakekat bukan hanya tafakur, tapi menghadirkan nilai-nilai Ilahi ke dalam sistem yang nyata.
Jangan biarkan dunia terus dikuasai oleh pengkhianat dan perampas hak rakyat.
Jangan terus mendoakan dari jauh, lalu membiarkan para pendusta berkuasa.
Tuhan tidak menyuruh kita hanya bersabar, tapi juga bangkit menegakkan keadilan.
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa’: 58)
Siapa yang Layak Memimpin?
Mereka yang memimpin dengan cinta, bukan nafsu.
Mereka yang memahami hakekat manusia, bukan hanya mengejar suara pemilu.
Mereka yang tidak tergoda kursi, tapi bersedia menjadi pelayan bagi rakyat dan penjaga amanah Ilahi.
Ibnu ‘Arabi berkata:
“Pemimpin sejati adalah bayangan Allah di bumi. Bila ia tidak adil, maka bayangan itu retak, dan bumi pun terguncang.”
Penutup: Dari Sunyi ke Medan Kebenaran
Risalah ini bukan ajakan berebut kekuasaan. Ini ajakan mengembalikan kekuasaan kepada jiwa-jiwa yang tercerahkan.
Kini saatnya para pencinta Tuhan keluar dari sunyi dan masuk ke gelanggang—bukan dengan kebencian, tapi dengan kasih yang membebaskan.
Jangan biarkan lagi dunia ditentukan oleh mereka yang tidak mengenal Allah.
Jangan serahkan masa depan anak-anak kita kepada para pembohong.
Inilah waktunya.
Bukan untuk memberontak, tapi untuk memimpin.
Bukan untuk mencaci, tapi untuk menuntun.
Bukan untuk bersembunyi, tapi untuk membawa cahaya turun ke bumi.
Wahai para pecinta Tuhan, saatnya engkau memimpin dunia.***
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
