Wartain.com || Menurunnya daya beli masyarakat akan mainan layang-layang, membuat para pengrajin layangan terjerat hutang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Dari pengakuan beberapa pengrajin layangan di Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, mereka menuturkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal itu disebabkan harga jual layangan terjun bebas sehingga mencapai level paling rendah, sehingga para pengrajin hanya bisa pasrah dengan kondisi seperti ini.
“Biasanya, untuk harga satu rim (1000 biji) layangan siap jual, dihargai oleh pengepul dengan harga 250 ribu sampai 300 ribu rupiah per rim, namun saat ini harga layangan terjun bebas di bawah 200 ribu, sedangkan modalnya untuk saat ini hampir 200 ribu rupiah per rim nya,” ungkap Ibu EN (40 Tahun) kepada Jurnalis wartain.com, Rabu (28/08/2024).
Lanjut EN, dengan harga yang terjun bebas tersebut, banyak dari kalangan pengrajin yang terbelit hutang, karena tak mampu untuk memenuhi kewajiban mereka sebagai nasabah, sehingga beberapa nasabah yang biasa minjam ke Bank Emok dengan terpaksa harus menunggak pembayaran.
“Kayak tetangga saya aja yang terbelit Bank Emok, ia terpaksa sembunyi di kebon orang, padahal anak-anaknya masih kecil-kecil yang di tinggalkan di rumah, karena petugas Bank Emok datang menagih, walaupun bukan pada hari penagihan,” ujar EN.
Kalau harga layangan lagi bagus, kata EN para pengrajin biasanya masih bisa untuk menyisihkan uang untuk membayar hutang pinjaman.
“Kasihan kalau kondisinya seperti ini, uang susah, para pengrajin tidak bisa berbuat banyak, sedangkan suami mereka kebanyakan hanya butuh serabutan yang tak pasti pendapatannya,” tambah EN.
Senada, juga di sampaikan oleh salah satu pengrajin layangan di Desa Girijaya, AN (37 Tahun). Janda anak satu ini juga mengaku kesulitan ekonomi saat ini, dampak dari terjun bebasnya harga layangan di pasaran.
“Sama dengan beberapa warga lainnya, saya juga terpaksa pinjam ke Bank Keliling untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari, kadang-kadang lagi tak punya uang, saya terpaksa sembunyi dulu kalau ada orang yang nagih hutang, sebab hasil sebagai pengrajin layangan belum mendapatkan hasil,” kata dia.
Ia, berharap agar harga layangan kembali normal seperti sediakala. Karena usaha sebagai pengrajin layangan sudah menjadi usaha turun temurun di desa kami.
“Semoga saja harga layangan kembali naik, jadi saya bisa membayar hutang dan juga bisa menyekolahkan anak yang masih duduk di bangku PAUD,” harapnya.***
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
Reporter : Dul
