Oleh ; Umar Supardi (Aktivis HMI Cabang Sukabumi)
Wartain.com || Aktivisme, yang seharusnya menjadi sorotan bagi keadilan dan kesejahteraan masyarakat, saat ini menghadapi tantangan yang menghujam jauh lebih dalam. Lunturnya semangat aktivis tidak hanya dipicu oleh kelelahan dan rintangan, tetapi juga oleh fenomena yang semakin meresahkan: aktivis yang lebih memprioritaskan keuntungan pribadi daripada perjuangan kolektif.
Keadaan ini memberikan warna kelam pada panorama aktivisme modern. Aktivis, yang semula berdiri di garis depan melawan ketidaksetaraan dan ketidakadilan, sekarang terkadang terpinggirkan oleh pilihan pribadi yang mementingkan diri sendiri.
Dalam keterlaluan ini, kelelahan aktivis menjadi semakin nyata. Bukan hanya kelelahan fisik dan emosional akibat berjuang tanpa henti, tetapi juga kelelahan moral melihat rekan-rekan aktivis berpaling untuk keuntungan pribadi. Fenomena ini menciptakan semacam ketidakharmonisan dalam kelompok aktivis.
Pemeliharaan diri, yang seharusnya menjadi tonggak dalam mempertahankan semangat perjuangan, seringkali dikesampingkan. Aktivis yang terlalu fokus pada keuntungan diri sendiri bisa kehilangan keseimbangan dan keberlanjutan yang esensial untuk mempertahankan semangat perubahan.
Frustrasi dan rintangan, yang seharusnya menguatkan semangat aktivis, sekarang diwarnai oleh dinamika internal yang merugikan. Kekecewaan karena melihat sesama aktivis mengejar keuntungan pribadi menjadi batu sandungan, merusak kolaborasi dan solidaritas.
Perubahan politik dan sosial, yang seharusnya menginspirasi semangat, kini menjadi sumber keputusasaan. Aktivis terkadang tergoda untuk mengubah tujuannya, mengorbankan nilai-nilai untuk mencapai kepentingan diri.
Meskipun semuanya tampak kelam, ada juga potensi transformasi. Dari lunturnya semangat, seorang aktivis dapat muncul sebagai pribadi yang lebih kuat dan tahan banting. Transformasi ini, bagaimanapun, harus bersifat positif dan menumbuhkan semangat kolaboratif, bukan menghadirkan risiko lunturnya semangat kolektif.
Dukungan komunitas tetap menjadi kunci. Di tengah-tengah gemuruh kepentingan pribadi, ada kebutuhan mendesak untuk menguatkan solidaritas dan memberikan tempat yang aman bagi para aktivis yang masih setia pada misi perubahan positif.
Dengan membahas realitas ini, kita diharapkan bisa lebih memahami dinamika internal yang meresahkan dalam dunia aktivisme saat ini. Semoga kita dapat menemukan cara untuk menyuarakan kembali semangat perubahan kolektif dan mencegah senyapnya jiwa aktivisme di tengah badai kepentingan pribadi.
Foto : ilustrasi/pixabay
Editor : Aab Abdul Malik
(Redaksi)
