26.7 C
Jakarta
Senin, Mei 25, 2026

Latest Posts

Tauhid Membumi : Jejak Syekh Syarif Hidayatullah

Seri 1 – Menapak Awal Jejak Sang Wali
Oleh Kang Dzikri Nur.

Pembuka

Wartain.com || Di tepi pesisir utara Jawa, angin laut bercampur harum rempah menyambut kedatangan seorang musafir muda. Namanya Syarif Hidayatullah. Dari jalur darah Arab–Hadramaut dan Sunda, ia membawa misi suci: menegakkan tauhid di bumi Nusantara. Kedatangannya bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan langkah awal menghidupkan kesadaran ilahiah di tengah masyarakat yang kaya tradisi.

Latar Kelahiran dan Perjalanan

Syekh Syarif Hidayatullah lahir sekitar pertengahan abad ke-15. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri Prabu Siliwangi dari Pajajaran; ayahnya Syarif Abdullah, keturunan Rasulullah melalui jalur Hasan. Sejak muda ia menempuh rihlah ilmu: dari Pasai hingga Makkah. Di setiap perjalanannya, tauhid menjadi inti pelajaran—pengakuan bahwa hanya Allah satu-satunya yang layak disembah, tanpa sekutu, tanpa bayang-bayang kekuasaan dunia.

Ketika kembali ke tanah Sunda, ia membawa bekal spiritual dan wawasan budaya. Ia memahami bahwa masyarakat pesisir Cirebon terbiasa dengan keragaman kepercayaan, mulai dari sisa-sisa Hindu-Buddha hingga praktik animisme. Inilah medan dakwah yang menuntut kearifan.

Tauhid sebagai Fondasi Dakwah

Bagi Syarif Hidayatullah, tauhid bukan sekadar hafalan kalimat lā ilāha illallāh. Tauhid adalah jantung peradaban: menyatukan keyakinan, amal, dan tatanan sosial. Ia menolak sikap memaksa; sebaliknya, ia merangkul adat dan seni sebagai jembatan menuju keesaan Allah. Wayang, gamelan, dan tradisi pesisir diisi dengan makna Ilahi. Masyarakat tidak merasa kehilangan identitas, justru menemukan kedalaman baru.
Tauhid yang diajarkan beliau menegaskan tiga dimensi:

Keyakinan – hati yang hanya bersandar pada Allah

Perbuatan – amal yang selaras dengan keesaan-Nya.

Tatanan sosial – keadilan dan kasih sayang sebagai pancaran tauhid.

Membangun Kesultanan Cirebon

Langkah berikutnya adalah menata kehidupan bersama. Berdirilah Kesultanan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahan. Bagi beliau, politik hanyalah amanah. Kepemimpinan harus mencerminkan sifat Rabb al-‘Alamīn: adil, melindungi, menebar rahmat. Dengan prinsip ini, tauhid tidak berhenti di masjid, tetapi mengalir ke pasar, pelabuhan, dan balai pemerintahan.

Renungan Awal

Jejak awal Syekh Syarif Hidayatullah mengajarkan bahwa tauhid yang hidup bukanlah kata-kata di mimbar, melainkan kekuatan yang menembus budaya dan mengubah masyarakat tanpa kekerasan. Di tengah zaman yang masih menyimpan puja kepada dewa atau roh, beliau menunjukkan bahwa keesaan Allah dapat hadir dengan lembut—menyatu dalam seni, adat, dan politik.

Seri pertama ini menegaskan pijakan: tauhid adalah pusat gerak sejarah. Dalam seri berikutnya, kita akan menyelami lebih dalam bagaimana beliau menanamkan kesadaran lā ilāha illallāh di hati rakyat Cirebon dan sekitarnya, hingga Islam menjadi pelita yang membumi dan menyejukkan.***

Foto : Ilustrasi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.