Wartain.com || Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, resmi mengakhiri rangkaian kunjungan kenegaraan lintas benua dan tiba kembali di Tanah Air pada Jumat (27/2/2026) pagi. Meski baru saja menempuh perjalanan panjang, Kepala Negara dijadwalkan langsung memimpin Rapat Terbatas (Ratas) untuk membahas isu-isu strategis nasional pada sore hari ini.
Pesawat Garuda Indonesia yang membawa rombongan kepresidenan mendarat di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sekitar pukul 08.40 WIB. Kedatangan Presiden setelah melawat ke Amerika Serikat, Inggris, Yordania, dan Uni Emirat Arab (UEA) ini disambut langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka beserta jajaran petinggi keamanan dan kabinet.
Presiden Prabowo tampak keluar dari pesawat mengenakan pakaian safari cokelat khasnya lengkap dengan peci hitam. Di bawah tangga pesawat, selain Wapres Gibran, tampak hadir menjemput Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Mensesneg Prasetyo Hadi.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengonfirmasi bahwa agenda Presiden tidak berhenti pada penyambutan seremonial. Presiden dijadwalkan segera bekerja membahas poin-poin krusial di Istana.
“Hari ini juga sore beliau akan melaksanakan rapat terbatas. Menjelang berbuka puasa, mungkin sekitar jam 4 sore,” ujar Teddy kepada wartawan di lokasi.
Meski demikian, Teddy menambahkan belum di ketahui secara pasti, bahasa apa yang akan di bawakan pada saat rapat nanti. Namun, kuat dugaan rapat ini berkaitan dengan tindak lanjut hasil kesepakatan dari kunjungan luar negeri sebelumnya.
Selama lawatannya, Kepala Negara telah bertemu dengan beberapa pemimpin dunia untuk membahas isu strategis kawasan. Salah satu fokus utama adalah upaya mendorong perdamaian di Gaza melalui solusi dua negara (two-state solution) serta penguatan koordinasi antarnegara di kawasan Timur Tengah.
Kunjungan kenegaraan ini telah menghasilkan sejumlah kesepahaman dan komitmen kerja sama, baik secara bilateral maupun kemitraan strategis jangka panjang. Langkah diplomasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat posisi Indonesia sebagai jembatan perdamaian dunia sekaligus motor pertumbuhan ekonomi global yang tetap selaras dengan kepentingan nasional.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Sule)
