26.7 C
Jakarta
Selasa, April 28, 2026

Latest Posts

Menjadi Muslim dalam Jiwa: Bukan Warisan, Tapi Kesadaran

Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || “Engkau adalah muslim karena dilahirkan oleh garis keturunan. Tapi aku berharap engkau menjadi muslim karena dilahirkan kembali oleh cahaya kesadaran.”

Layang Muslimin dan Muslimah

Kata-kata itu membuka lorong sunyi yang dalam. Ia bukan sekadar nasihat dari seorang ayah pada anaknya, melainkan gema dari jiwa yang telah jauh berjalan. Banyak yang menjadi muslim karena lahir dari keluarga muslim. Tapi sedikit yang benar-benar menjadi muslim karena tersentuh oleh kehadiran Allah dalam jiwanya.

Hari ini, banyak dari kita mengenakan Islam seperti mengenakan pakaian adat. Ia adalah identitas luar yang diwarisi, tapi belum tentu menyentuh lapisan batin. Seperti tubuh yang dibasuh tanpa menyentuh luka di dalam dada. Lalu kita bertanya, mengapa hati tetap kosong, meski nama kita “muslim”?

Kitab Layang Muslimin dan Muslimah tidak menawarkan fatwa. Ia menawarkan getaran, menawarkan kesadaran bahwa iman bukan sekadar hasil turunan, tapi perjalanan. Bahwa menjadi muslim sejati bukan perihal kelahiran, melainkan kelahiran kembali. Sebuah rebirth ruhani yang terjadi saat hati disentuh cahaya.

Islam yang Terwariskan vs Islam yang Tersadarkan

Perbedaan antara keduanya seperti antara tanah dan langit. Islam yang diwariskan menjadikan kita mengenal nama Allah, tapi Islam yang tersadarkan menjadikan kita mengenal Wujud Allah di dalam diri.

Yang pertama adalah pengetahuan, yang kedua adalah makrifat. Yang satu lahir dari sejarah, yang lain lahir dari pertemuan sunyi antara hamba dan Rabb-nya.

Dalam suratnya, sang penulis tidak pernah memaksa. Ia merayu. Ia tidak menggurui, melainkan membelai. Karena hanya kelembutan yang bisa menembus tembok hati yang keras. Dan hanya cinta yang bisa mengajak jiwa yang beku untuk berjalan pulang.

Ayat Jiwa: Lahir Kedua Kali

“Maka apakah orang yang dilapangkan Allah dadanya untuk (menerima) Islam, lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya…” (QS Az-Zumar: 22)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sejati adalah saat dada dilapangkan, dan hati disinari cahaya. Artinya, ada momen di mana jiwa kita dibuka dan dijemput oleh kehadiran-Nya. Di situlah kita menjadi muslim yang sesungguhnya—bukan karena garis keturunan, tapi karena kita telah disentuh oleh Tangan yang Tak Terlihat.
Cahaya ini tidak datang dari luar, tapi dari dalam. Ia bukan hasil belajar semata, tapi hasil hancurnya ego, runtuhnya keakuan, dan hadirnya Allah dalam dada.

Kisah: Sufi yang Belum Lahir

Seorang pemuda mendatangi seorang sufi. Ia berkata dengan bangga, “Aku telah menjadi muslim sejak lahir.”
Sang sufi tersenyum. “Engkau belum lahir, anakku.”

Pemuda itu terkejut. “Apa maksud Tuan?”
“Engkau hanya muncul. Tapi belum benar-benar lahir dari rahim kesadaran. Islam yang hakiki bukan dari rahim ibumu, tapi dari rahim Nur Allah yang menyentuh hatimu.”

Sejak hari itu, pemuda itu tidak lagi menyebut dirinya muslim karena nama. Ia menyebut dirinya muslim karena ia telah merasa fana dalam Yang Satu.

Layang Sebagai Jalan Pulang

Kitab Layang Muslimin dan Muslimah adalah cahaya kecil yang menuntun ke cahaya besar. Ia bukan kitab akademik. Ia tidak tebal. Tapi justru karena itu ia bisa menyelinap ke dalam dada orang-orang yang letih. Setiap kata seperti senyuman seorang ayah kepada anaknya. Tidak keras, tapi menghujam. Tidak kaku, tapi menusuk.

Dan di balik surat-surat itu, ada ruh seorang sufi tua yang sudah terlalu lama diam, menuliskan pesan dengan tinta cinta, berharap suatu hari nanti, anak-anaknya akan membacanya bukan dengan mata, tapi dengan hati yang telah luluh.

Bisikan Jiwa: Wahai yang Maha Hadir

Wahai yang Wujud-Nya melingkupi aku, bahkan sebelum aku mengucap syahadat,
Engkau telah lebih dulu bersyahadat atas diriku.
Aku bukan menjadi muslim karena nama atau warisan, tapi karena Engkau menyalakan cahaya dalam hatiku.
Ajari aku menjadi muslim bukan hanya dengan lidah, tapi dengan keberadaanku yang sirna dalam-Mu.

Inilah Islam yang tidak didapat di sekolah, tapi di ruang sunyi hati. Inilah cahaya yang tidak bisa diwariskan, hanya bisa ditemukan. Dan tugas kita, sebagai jiwa-jiwa yang sedang pulang, adalah mengajak dengan cinta, bukan menghukum dengan lidah. Mendekap, bukan mendorong. Karena sesungguhnya, setiap manusia adalah surat cinta Tuhan yang belum sempat dibaca.***

Foto : Dok. Pribadi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.