26.7 C
Jakarta
Sabtu, Mei 9, 2026

Latest Posts

Rahasia Perpecahan Umat : Menyelami Hadis 73 Golongan dalam Tafsir Hakiki dan Pandangan Para Sufi

Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu.”
(Sabda Nabi Muhammad ﷺ, riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lainnya)

Hadis ini telah dikutip berkali-kali dalam sejarah Islam dan ceramah ceramah,khutbah khutbah jumat.Namun, seringkali ia dipakai sebagai alat pengukuhan identitas golongan tertentu, untuk menjustifikasi bahwa hanya satu kelompoklah yang selamat—sementara lainnya sesat.

Tafsir yang dangkal atas sabda ini menumbuhkan perpecahan lebih jauh. Padahal, di balik sabda ini tersembunyi rahasia ilahiah yang agung jika didekati dengan tafsir hakiki, yaitu pendekatan ruhani, batiniah, dan maknawi sebagaimana dipraktikkan oleh para sufi arifin billah.

Hadis Ini Bukan Statistik, Tapi Isyarat Ruhani

Angka 73 bukan angka statistik literal. Dalam tafsir hakiki, setiap angka membawa simbol spiritual:

Angka 7 sering dikaitkan dengan nafs (7 lapisan jiwa), 7 langit, 7 tingkat kesempurnaan.

Angka 3 adalah lambang kesempurnaan dalam qalb, ruh, dan sirr (hati, ruh, rahasia).

Maka 73 menunjukkan: umat akan terpecah secara ruhani, batin, kesadaran, dan jalan pencarian.

Yang terpecah bukan hanya tubuh umat, tapi kesadaran mereka tentang kebenaran—tentang Tuhan, tentang makna Islam, tentang tujuan hidup.

Pandangan Para Sufi Agung: Perpecahan adalah Perpecahan dari Nur Muhammad

Para sufi besar tidak melihat hadis ini secara fiqhiah atau madzhabiah, tapi secara ruhaniah:

1. Ibnu Arabi:

Dalam Futuhat al-Makkiyyah, beliau menyatakan bahwa setiap jalan (mazhab, pemahaman) membawa cahaya, tetapi hanya yang sampai kepada cahaya Muhammad yang menyatu dalam hakikat Islam. Beliau menulis:

“Tidak ada keselamatan kecuali bagi siapa yang memandang kebenaran dalam semua wajahnya, dan mengikutinya dalam kemurnian tauhid tanpa fanatisme bentuk.”

Golongan yang selamat bukan mereka yang menyempitkan Islam dalam satu mazhab, tetapi mereka yang sampai kepada Hakikat Muhammad, Nur Muhammad, dan berjalan di atas ma‘rifatullah.

2. Imam al-Ghazali:

Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, ia menyindir mereka yang sibuk mengklaim kebenaran golongan sambil melupakan penyucian hati dan mujahadah nafs.

“Celakalah orang yang sibuk mencari-cari kesesatan orang lain sementara hatinya sendiri penuh kebodohan dan kesombongan terhadap Allah.”

Menurut beliau, neraka dalam hadis itu mencakup kondisi batin: neraka fanatisme, kebencian, kebodohan rohani.

3. Jalaluddin Rumi:

Rumi dalam Mathnawi menulis bahwa semua golongan yang merasa benar sedang tidur dalam kesombongan, dan hanya yang kembali kepada “angin cinta Nabi” yang akan bangun.

“Bukan agama yang membuatmu benar, tapi cinta kepada Dia yang menjadi asal agama.”

Golongan yang selamat adalah yang meleburkan diri dalam cinta kepada Tuhan dan Rasul-Nya tanpa batasan kaku.

4. Al-Hakim at-Tirmidzi:

Dalam Bayan al-Farq, ia menyebut bahwa perbedaan bukanlah bencana, tapi ketika hati meninggalkan Allah, itulah perpecahan sejati. Yang selamat adalah yang hatinya shadiq (jujur) dalam mencari Tuhan, bukan dalam membela kelompok.

Tafsir Hakiki: Neraka Adalah Keadaan Jiwa yang Terbakar.

“Neraka” di sini bukan semata tempat pasca-maut, tapi api batin:

Neraka karena menyembah ego.

Neraka karena menjadikan agama sebagai kebanggaan dunia.

Neraka karena menyangka kebenaran hanya miliknya.

Neraka karena tidak menyentuh Tuhan dalam hatinya.

Sementara itu, “yang selamat” adalah mereka yang menyatu kembali dengan jalan Nabi secara hakiki:

Jalan adab, cinta, penyaksian tauhid, dan pembersihan jiwa.

Maka sabda Nabi:
“Mā ana ‘alayhi wa aṣḥābī”
adalah jalan batin:

Menyatu dalam jiwa Nabi,

Mewarisi cahaya para sahabat (shuhbah dan shidq),

Menjadi cermin rahmat Tuhan.

Kesimpulan: Umat Terpecah Karena Lupa Jalan Ruhani.

Umatku terpecah—karena lupa makna. Terbakar dalam neraka—karena menyangka kebenaran adalah bendera, bukan kebenaran sebagai cahaya Allah. Yang selamat—bukan kelompok tertentu, tapi jiwa yang kembali kepada Tauhid yang murni, yang berjalan bersama Nur Muhammad.

Islam bukan tentang siapa yang benar secara formal, tapi siapa yang kembali kepada Tuhan secara hakiki.

Penutup Renungan

Dalam zaman ini, di mana umat saling mengutuk atas nama kebenaran,
mari kita bertanya dalam sunyi:

Apakah aku termasuk yang “selamat” dalam cahaya Muhammad?
Ataukah termasuk yang “terbakar” dalam api kebanggaan golongan?

Semoga Allah menanamkan dalam dada kita jalan cinta Nabi, bukan hanya syiarnya,
dan mengangkat kita menjadi umat yang satu — di hadapan-Nya.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.