26.7 C
Jakarta
Selasa, Mei 26, 2026

Latest Posts

Kisah Pilu Emalia: Bertahan Hidup Sambil Menanti Kepulangan Anak yang Disekap di Cina

Wartain.com || Hidup Emalia (55), warga Kampung Cikiray, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, berubah drastis setelah putri bungsunya, RR (23), dilaporkan menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan kini disekap di Cina. Sejak enam bulan terakhir, ia harus berjuang sendirian untuk menyambung hidup di rumah kontrakan sederhana yang ditempatinya.

Setiap pagi sebelum matahari terbit, Emalia berjalan kaki hampir satu jam menuju tempat kerjanya sebagai buruh pembungkus kue ali. Ia bekerja hingga larut malam dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari, uang yang pas-pasan untuk makan dan kebutuhan sehari-hari.

“Berangkat jam enam pagi, sampai ke tempat kerja sekitar jam tujuh. Pulangnya jam empat sore, kadang lanjut lagi malam. Seminggu bisa empat kali kerja. Penghasilannya paling Rp50 ribu. Itu pun hanya cukup untuk makan sama beli kebutuhan rumah,” tutur Emalia dengan suara lirih, Sabtu (20/9/2025).

Emalia mengaku masih terkejut saat mengetahui anaknya berada di Cina dalam kondisi disekap. Awalnya, RR berpamitan untuk bekerja di sebuah pabrik sepatu di Kecamatan Cikembar, Sukabumi. Namun, ketika berbulan-bulan tak kunjung pulang, kecurigaan mulai muncul.

“Dia bilang kerja di Cikembar. Tapi pas saya suruh pulang, jawabannya malah ‘doain aja biar bisa pulang’. Dari situ saya mulai curiga. Ternyata benar, tiba-tiba ada kabar dari saudara kalau dia menelepon dan bilang lagi di Cina dalam keadaan disekap. Saya kaget, semalaman nggak bisa tidur,” ungkapnya.

Emalia masih ingat, putrinya pernah berkeinginan bekerja di luar negeri, namun keluarga menentangnya karena khawatir akan risiko yang dihadapi.

“Dulu dia sempat mau ke Jepang, tapi saya, kakeknya, dan bibinya melarang. Saya bilang lebih baik kerja di sekitar Sukabumi saja. Tapi ternyata diam-diam dia tetap berangkat,” kenangnya.

Kini, selain harus memikirkan keberlangsungan hidup sehari-hari, Emalia juga dibayangi rasa cemas memikirkan nasib RR yang kabarnya disiksa dan tidak bisa pulang karena diminta tebusan Rp200 juta oleh sindikat pelaku.

“Setiap malam saya hanya bisa berdoa supaya anak saya cepat pulang dengan selamat. Mudah-mudahan ada jalan keluar,” katanya penuh harap.

Diketahui sebelumnya, kasus RR tengah ditangani pihak berwenang. Korban disebut mengalami penyiksaan, eksploitasi, bahkan dijadikan objek pemuas nafsu para pelaku selama berada di Cina.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.