26.7 C
Jakarta
Jumat, April 17, 2026

Latest Posts

BRIN Teliti Kitab Patambaan Siliwangi di Sukabumi, Ungkap Warisan Pengobatan Tradisional Sunda

Wartain.com || Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN) tengah mengkaji naskah kuno Kitab Patambaan Siliwangi yang tersimpan di Museum Prabu Siliwangi, Kota Sukabumi. Manuskrip tersebut memuat beragam pengetahuan tentang pengobatan herbal tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Penelitian ini menjadi kali keenam yang dilakukan BRIN di museum tersebut. Filolog dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mewakili BRIN, Ilham Nurwansah, menjelaskan bahwa proses awal telah dilakukan sejak 2025 melalui identifikasi dan inventarisasi naskah selama sepekan. Selanjutnya, penelitian lanjutan berlangsung pada Februari 2026 selama kurang lebih satu setengah bulan.

Ia mengungkapkan, isi kitab tersebut merupakan catatan pengalaman empiris masyarakat masa lalu dalam meramu obat tradisional berbasis tanaman.

“Jadi di dalam naskah ini banyak sekali informasi yang berkaitan dengan pengobatan-pengobatan tradisional yang mungkin dulu itu dicatat berdasarkan pengalaman empiris ya. Jadi dari pengalaman-pengalaman orang tua zaman dulu dituliskan, kemudian sebagai pegangan, tumbuhan apa yang memiliki khasiat, kemudian diolahnya seperti apa, dan manfaatnya seperti apa,” ujar Ilham Nurwansah, Rabu (15/4/2026).

Tak hanya memuat daftar tanaman berkhasiat, naskah tersebut juga mencakup metode pengolahan obat, hingga aspek tradisi lain seperti perhitungan hari lahir, penanggalan, serta perbintangan.

“Selain terkait jenis tanaman, kemudian metode pengobatannya, juga ada kaitannya dengan perhitungan-perhitungan hari lahir, perhitungan bulan gitu tanggal dan lintang atau perbintangan atau zodiak lah kalau dalam istilah barat begitu. Nah di dalam naskah ini sangat kompleks sebetulnya,” katanya.

“Mulai dari perhitungan hari, hari baik, hari lahir, hari nahas begitu ya, kemudian juga bahkan sampai menghitung barang hilang itu ada di situ ya. Jadi sangat luas,” paparnya.

Memuat 28 Jenis Tanaman Obat
Secara etimologis, kata patambaan berarti pengobatan, sehingga kitab ini berfokus pada praktik pengobatan tradisional khas Sunda. Dalam naskah tersebut tercatat setidaknya 28 jenis tanaman herbal yang digunakan sebagai bahan obat.

Ilham mencontohkan, untuk mengatasi sakit kepala, kitab ini menyarankan penggunaan daun sirih dan buah mengkudu sebagai bahan ramuan.

“Nah di dalam naskah ini disebutkan juga ada misalnya obat sakit kepala gitu, obat sakit kepala disebutkan tadi daun sirih, kemudian mengkudu juga disebutkan gitu. Jadi dari 28 itu memang naskah nama-nama tumbuhannya itu yang sangat familiar sebetulnya terutama di Pulau Jawa. Hanya saja mungkin ada beberapa yang sudah langka seperti pohon loa disebutkan, pohon lame itu sudah susah ya digunakan daunnya di dalam resep itu,” ucapnya.

Dari sisi fisik, naskah ini ditulis di atas kertas yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Total terdapat 148 halaman dengan penggunaan bahasa Jawa Cirebonan yang memiliki pengaruh kosakata Sunda.

“Bahasanya memang Jawa Cirebon, ciri khasnya adalah bahasa Jawa yang memiliki beberapa kosa kata Sunda di sana. Dan itu kemungkinannya sih 1800-an akhir kalau dilihat dari jenis kertasnya dan formatnya itu sudah format buku dan awal 1900-an,” ungkapnya.

Menurut Ilham, kandungan informasi dalam kitab tersebut sangat potensial untuk dikaji lebih lanjut secara ilmiah, terutama dalam bidang medis melalui penelitian laboratorium terhadap kandungan kimia tanaman yang disebutkan.

“Secara praktisi mungkin perlu memang ahli-ahli atau pakar-pakar pengobatan tradisional seperti Pak Kiai di sini, yang secara praktik dari dulu sudah melihat khasiatnya betul-betul ada. Khasiatnya ini memang secara empirik ya, memang perlu diperiksa lagi secara medis, secara kandungan kimianya apa, kandungan khasiatnya secara apa namanya uji lab gitu harus dilakukan,” paparnya.

“Jadi ini sumber informasi yang sangat bagus, sangat penting ya nanti untuk budidaya menjadi ciri khas misalnya di Kota Sukabumi ada tanaman-tanaman obat,” jelasnya.

Sementara itu, pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana, menyampaikan bahwa kitab tersebut merupakan warisan keluarga yang telah lama ia miliki. Ia sengaja menggandeng BRIN untuk meneliti naskah tersebut, mengingat dirinya juga merupakan praktisi pengobatan tradisional berbasis Etnofarmaka Al Fath.

“Sebagai seorang praktisi pengobatan, saya belajar ilmu pengobatan dari kakek saya turun-temurun. Waktu umur 25 tahun saya sudah mengobati dengan obat herbal tersebut, tapi tidak tahu sumber bukunya. Karena saya nggak bisa baca kitabnya,” ucap Fajar.

“Kemudian saya minta ke BRIN untuk meneliti kitab ini. Ternyata kemudian punya korelasi apa yang saya dapatkan secara langsung dari keluarga saya itu dengan bukunya, padahal saya nggak baca bukunya,” lanjutnya.

Ia berharap hasil penelitian ini dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah, salah satunya dengan mengusulkan Patambaan Siliwangi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Kota Sukabumi.

“Sehingga kemudian Kota Sukabumi punya aset tambahan hari ini, ada warisan budaya tak benda lagi, yaitu Patambaan Siliwangi atau Etnofarmaka yang sudah saya praktikkan selama 30 tahun. Maka ini bisa menjadi usulan untuk warisan budaya tak benda dari Kota Sukabumi untuk Provinsi Jawa Barat dan untuk Indonesia,” jelasnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.