Oleh: Yosep Maulana
(Mahasiswa STKIP Bina Mutiara Sukabumi)
Wartain.com || Pendidikan hari ini seringkali terjebak dalam lorong sempit yang pragmatis. Di ruang-ruang kelas, dari sekolah dasar hingga bangku perkuliahan, aroma persaingan bukan lagi soal kedalaman ilmu, melainkan seberapa cepat seseorang bisa mendapatkan slip gaji setelah wisuda. Fenomena ini menciptakan pergeseran orientasi yang mengkhawatirkan, siswa dan mahasiswa seolah dididik hanya untuk menjadi pemohon kerja (job seeker) ketimbang menjadi pencipta lapangan kerja (job creator). Pendidikan telah direduksi menjadi sekadar birokrasi perburuan ijazah, sebuah kertas formalitas yang dianggap sebagai tiket otomatis menuju keamanan ekonomi.
Padahal, arti sesungguhnya dari pendidikan adalah sebuah usaha sadar, terencana, dan berkelanjutan. Ia merupakan proses panjang untuk mengembangkan potensi, karakter, dan kepribadian individu. Pendidikan sejatinya bertujuan untuk memanusiakan manusia sebuah proses transisi dari ketidaktahuan menuju pencerahan, yang membekali seseorang dengan keterampilan hidup, pola pikir kritis, serta akhlak mulia. Jika pendidikan hanya berhenti pada urusan perut, maka esensi dari pembentukan jiwa yang bermanfaat bagi masyarakat luas akan tercerabut dari akarnya.
Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, telah meletakkan fondasi filosofis yang sangat kuat melalui konsep Among. Beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam pandangan Ki Hajar, pendidik bukanlah penguasa, melainkan petani yang hanya bisa menuntun tumbuhnya padi. Output yang diharapkan bukanlah hamba bagi industri, melainkan jiwa yang merdeka secara lahir dan batin, yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Selaras dengan itu, Nurcholish Madjid atau Cak Nur menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan inklusif. Bagi Cak Nur, pendidikan adalah sarana untuk mengembangkan intelektualitas yang dibarengi dengan integritas moral. Pendidikan seharusnya melahirkan sosok yang modern namun tetap berakar pada etika, di mana ilmu pengetahuan digunakan untuk memecahkan masalah sosial (problem solving), bukan sekadar menjadi koleksi gelar yang steril dari realitas masyarakat di sekelilingnya.
Jika kita membedah lebih dalam melalui kacamata Paulo Freire dalam buku legendarisnya, “Pendidikan Kaum Tertindas”, kita akan menemukan kritik tajam terhadap “sistem bank” dalam pendidikan. Freire melihat bahwa pendidikan seringkali hanya berupa proses mendepositokan informasi ke dalam kepala siswa yang dianggap kosong. Hal ini menciptakan mentalitas tertindas yang pasif dan penurut. Freire menawarkan pendidikan yang membebaskan (conscientization), di mana pendidikan menjadi alat bagi manusia untuk menyadari realitas sosialnya dan tergerak untuk melakukan perubahan atau transformasi sosial secara aktif.
Relevansinya dengan keadaan hari ini sangatlah mencolok. Di era disrupsi teknologi, di mana kecerdasan buatan mulai mengambil alih pekerjaan-pekerjaan repetitif, mentalitas asal kerja menjadi sangat rentan. Banyak lulusan sarjana yang terombang-ambing karena hanya memiliki keterampilan teknis tanpa kemandirian berpikir. Jika orientasi pendidikan tetap statis pada mencetak pekerja, maka angka pengangguran intelektual akan terus meroket karena pasar kerja memiliki batas jenuh, sementara kreativitas manusia yang terdidik secara benar seharusnya tidak terbatas.
Ketakutan untuk memulai usaha atau membuka lapangan kerja seringkali lahir dari sistem pendidikan yang terlalu menekankan pada kepatuhan terhadap instruksi, bukan pada keberanian mengambil risiko. Ruang kuliah jarang sekali memberikan ruang bagi kegagalan sebagai proses belajar, sehingga mahasiswa tumbuh menjadi pribadi yang takut salah dan hanya mencari zona nyaman di bawah naungan perusahaan besar. Pendidikan seolah-olah telah memenjarakan imajinasi kolektif kita bahwa sukses hanya berarti menjadi karyawan.
Kenyataannya, tantangan global saat ini menuntut individu yang mampu melihat peluang di tengah krisis. Kita membutuhkan manusia-manusia yang memiliki empati untuk melihat masalah di lingkungannya dan memiliki keberanian untuk menciptakan solusi melalui kewirausahaan sosial maupun ekonomi. Inilah yang dimaksud dengan pendidikan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat; sebuah proses yang melahirkan pemimpin, inovator, dan penggerak, bukan sekadar pengikut yang menunggu arahan.
Oleh karena itu, reorientasi pendidikan nasional harus segera dilakukan. Kampus tidak boleh hanya menjadi menara gading yang memproduksi tenaga kerja murah bagi korporasi. Kurikulum harus diisi dengan penguatan literasi kemandirian dan pembebasan berpikir. Kita perlu mengembalikan marwah sekolah sebagai tempat untuk belajar menjadi diri sendiri (learning to be) dan belajar untuk melakukan sesuatu (learning to do) yang memiliki dampak luas, bukan sekadar menghafal teori untuk ujian akhir.
Sebagai penutup, pendidikan sesungguhnya adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia, namun senjata itu tumpul jika penggunanya hanya berpikir tentang bagaimana bertahan hidup hari ini. Mari kita memaknai kembali ijazah bukan sebagai bukti berakhirnya masa belajar, melainkan sebagai lisensi untuk mulai berkarya. Pendidikan harus membebaskan kita dari belenggu ketergantungan dan mengantarkan kita pada kemerdekaan yang sesungguhnya: menjadi manusia yang berdaulat atas pikirannya dan bermanfaat bagi sesama.***
Editor : Aab Abd Malik
(YM)
