Kepala DKUKM Sri Hastuty: Koperasi Harus Sehat, Profesional, Transparan & Beri Manfaat Nyata ke Anggota
Wartain.com – DKUKM Kabupaten Sukabumi nggak mau koperasi cuma jadi nama di akta. Belum lama ini mereka gelar Diklat Pengelolaan Organisasi dan Manajemen Koperasi Angkatan I. Tujuannya satu: kuatkan fondasi kelembagaan ekonomi warga dari bawah.
Kepala DKUKM Sri Hastuty Harahap, SP., MSE., MA., bilang penguatan koperasi harus mulai dari tata kelola yang baik good corporate governance. Tanpa itu, koperasi rawan jalan di tempat atau malah bubar jalan.
“Saat ini tantangan utama kita adalah memastikan koperasi yang telah terbentuk tidak sekadar papan nama. Mereka harus mampu tumbuh jadi organisasi dan badan usaha yang aktif, sehat, profesional, transparan, serta berkelanjutan,” tegas Sri Hastuty.
Peserta diklat mayoritas pengurus koperasi baru. Materinya nggak main-main: regulasi tata kelola organisasi, strategi manajemen usaha, administrasi kelembagaan, sampai manajemen keuangan. Semua fundamental buat koperasi modern.
Sri Hastuty khusus sorot soal Rapat Anggota Tahunan RAT. Dia sebut RAT itu jantungnya koperasi. Di situ pemegang kekuasaan tertinggi nentuin arah kebijakan dan pembagian SHU. Kalau RAT asal-asalan, koperasi bisa kehilangan arah.
Harapannya jelas. “Setelah diklat ini, koperasi nggak cuma kokoh secara administrasi di kertas. Tapi benar-benar jalan aktivitas organisasi serta unit usahanya. Harus ada asas manfaat dan dampak ekonomi nyata buat anggota,” tambahnya.
Bank bjb Tandamata hadir dukung acara. Sinergi BUMD dan DKUKM ini penting biar koperasi baru nggak cuma paham teori, tapi juga ngerti akses permodalan + layanan keuangan yang sehat.
Pemkab Sukabumi lewat DKUKM komitmen kawal koperasi lokal. Sri Hastuty bilang pengawalan itu konkret: program peningkatan kapasitas SDM berkelanjutan, penguatan sistem kelembagaan, plus pembinaan + pengawasan langsung ke lapangan.
Kenapa penting? Karena koperasi itu soko guru ekonomi. Kalau pengurusnya paham manajemen, anggota dapat SHU, usaha unit koperasi jalan, ekonomi desa ikut muter. Efeknya berantai ke UMKM.
Tantangan koperasi baru emang berat: ngerti regulasi, atur pembukuan, kelola SDM, sampai bersaing di pasar. Makanya diklat angkatan I ini jadi bekal awal biar nggak salah langkah dari awal.
DKUKM nggak mau kejadian koperasi “tidur” terulang. Setelah diklat, tim pembina bakal turun cek: RAT jalan apa nggak, laporan keuangan rapi apa nggak, unit usaha produktif apa nggak.
Pesan akhirnya: koperasi kuat, artinya ekonomi rakyat kuat. Dengan tata kelola beres, Sukabumi bisa punya barisan koperasi sehat yang jadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal, bukan cuma pajangan nama.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
