Wartain.com – Peta jalan Jakarta bakal berubah. Pemerintah lewat Permenko Nomor 16 Tahun 2025 kembali tancap gas masukkan 6 proyek tol dalam kota ke daftar Proyek Strategis Nasional. Sekaligus ngebut penyelesaian Jalan Tol Jakarta – Cikampek II Sisi Selatan penghubung DKI-Jabar. Tujuannya satu: kepung macet dari semua sisi.
Aturan mainnya kali ini lebih ketat. Pasal 2A ayat 2 jadi “pengunci” proyek. Kalau jadwal meleset, penanggung jawab PSN gak bisa diam. Wajib lapor progres dan ajukan revisi rencana ke Menko Perekonomian.
“Dalam hal Proyek Strategis Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat diselesaikan tepat waktu, penanggung jawab Proyek Strategis Nasional melaporkan pelaksanaan dan usulan revisi rencana penyelesaian kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,” bunyi pasal tersebut, Minggu 14/6/2026.
Menko Perekonomian bilang, tol dalam kota Jakarta itu urat nadi ekonomi. Macet sejam aja kerugiannya triliunan. Makanya 6 ruas tol ini naik kelas jadi PSN lagi biar pengawasan dananya diprioritaskan.
“Jakarta butuh distribusi kendaraan yang cepat dan presisi. Enam tol dalam kota ini jawabannya. Kami kunci lewat PSN agar tidak ada alasan molor tanpa laporan,” tegas Menko Perekonomian.
“Setiap ruas tol yang tembus berarti waktu tempuh warga terpotong, logistik lancar, produktivitas naik,” lanjutnya.
Enam proyek tol dalam kota itu fokus pecah simpul macet. Polanya bukan bikin lingkar baru, tapi tusuk langsung ke kawasan padat: pusat bisnis, stasiun, dan gerbang tol eksisting. Detail nama ruas masih dimatangkan, tapi konsepnya integrasi.
PR besar lainnya: Tol Jakarta – Cikampek II Sisi Selatan. Jalur ini bakal jadi alternatif Japek I yang tiap hari overload. Dari Jakarta Timur, Bekasi, Karawang sampai Bandung, semua bisa belok ke “jalur selatan” tanpa harus adu banteng di Cikarang.
Kepala BPJT Kementerian PUPR menyebut Japek II Selatan itu katup pelepas tekanan. Begitu nyambung, beban Japek I bisa turun 30-40%. Truk logistik juga diuntungkan karena punya jalur khusus.
“Percepatan Japek II Sisi Selatan bukan pilihan, tapi kebutuhan. Ini backbone penghubung DKI-Jabar yang memecah konsentrasi kendaraan di satu koridor,” jelas Kepala BPJT.
“Dengan adanya sisi selatan, distribusi barang dari industri Jabar ke pelabuhan Jakarta jadi lebih efisien,” tambahnya.
Di Utara Jakarta, dua proyek langsung dikerjakan. Pertama, pengembangan Tol Ir. Wiyoto Wiyono Section Harbour Road II lewat pembangunan Tol Ancol Timur – Pluit Elevated. Model elevated dipilih supaya lahan warga aman dan aliran lalu lintas ke pelabuhan tetap jalan.
Kedua, New Priok Eastern Access NPEA. Ini akses khusus truk kontainer ke Tanjung Priok Timur Baru. Selama ini truk terjebak di arteri Yos Sudarso. Begitu NPEA jadi, waktu bongkar-muat di Priok dipangkas, biaya logistik turun.
Kombinasi 6 tol dalam kota + Japek II Selatan + 2 akses Utara bikin Jakarta punya “sistem peredaran darah” baru. Ada arteri besar, ada kapiler penghubung. Harapannya titik rawan macet kayak Cawang, Semanggi, Grogol bisa terurai pelan-pelan.
Tapi pembangunan tol di tengah kota bukan perkara gampang. Pembebasan lahan, pemindahan utilitas, dan rekayasa lalu lintas saat konstruksi jadi ujian. Pemerintah janji libatkan Pemprov DKI dan RT/RW biar warga gak kaget ada alat berat tiba-tiba.
Buat warga, efeknya langsung kerasa di dompet dan waktu. Dari Bekasi ke Sudirman, dari Tangerang ke Ancol, dari Depok ke Pluit bisa lebih cepat 20-40 menit. BBM hemat, stres berkurang. Jalan arteri juga lebih lega karena mobil roda empat pindah ke tol.
Intinya, Permenko 16/2025 itu “garis finish” baru buat PSN tol Jakarta. Ada target, ada sanksi lapor kalau molor. Kalau semua ruas tembus sesuai jadwal, Jakarta 2027-2028 wajahnya bakal beda: mobilitas cepat, logistik lancar, ekonomi bergerak.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
