Wartain.com – Di balik selamatnya seorang bocah berusia lima tahun yang sempat tenggelam di kolam renang Wisata Alam Oasis, Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, terdapat aksi heroik seorang pengunjung bernama Ressi Monica (35). Berbekal ilmu keperawatan yang dimilikinya, perempuan tersebut sigap memberikan pertolongan pertama hingga nyawa korban berhasil diselamatkan.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat kejadian, Ressi bersama keluarganya baru saja tiba di lokasi wisata dan tengah bersiap mendampingi anak-anaknya berenang.
Namun suasana liburan yang semula santai mendadak berubah ketika sang suami menghampirinya dengan tergesa-gesa dan memberitahukan bahwa ada seorang anak yang tenggelam di kolam renang.
Tanpa berpikir panjang, Ressi langsung menuju lokasi. Setibanya di sana, ia mendapati korban sedang dievakuasi oleh seorang pria dengan posisi kepala berada di bawah dan kaki di atas. Melihat kondisi tersebut, ia segera mengarahkan agar anak itu dibaringkan di tempat yang datar untuk memudahkan pemeriksaan dan penanganan.
Saat dilakukan pemeriksaan awal, kondisi korban sangat kritis. Anak tersebut tidak menunjukkan respons, tubuhnya lemas, denyut nadi hampir tidak teraba, tangan dan kaki terasa dingin, serta bibirnya membiru akibat kekurangan oksigen.
Melihat situasi darurat tersebut, Ressi segera melakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) sesuai prosedur pertolongan pertama pada korban tenggelam.
Selama kurang lebih empat hingga lima menit, ia terus memberikan kompresi dada secara intensif dengan ritme sekitar 100 hingga 120 kali per menit. Upaya itu dilakukan tanpa henti hingga korban mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
“CPR saya lakukan sekitar empat sampai lima siklus sampai akhirnya korban mulai memberikan respons dan bantuan medis lainnya datang,” ujar Ressi, Selasa (16/6/2026).
Di tengah proses penyelamatan, Ressi mengaku menghadapi tantangan karena tidak ada tenaga kesehatan lain yang langsung membantu. Padahal, dalam prosedur CPR, idealnya tindakan dilakukan secara bergantian setiap dua menit agar kualitas kompresi tetap maksimal dan penolong tidak mengalami kelelahan.
Ia bahkan sempat berteriak meminta bantuan tenaga medis lain karena mulai kehabisan tenaga. Namun, bantuan baru datang setelah kondisi korban berangsur membaik.
Menurutnya, saat itu beberapa orang sempat mendesak agar korban segera dibawa ke rumah sakit. Namun Ressi memilih melanjutkan proses CPR karena menilai kondisi anak tersebut belum stabil untuk dipindahkan.
Keputusan itu terbukti tepat. Setelah beberapa saat, korban mulai menunjukkan refleks batuk, mengeluarkan cairan dari hidung dan mulut, serta memperlihatkan gerakan tubuh sebagai tanda adanya respons.
Barulah setelah kondisi korban membaik, Ressi mengizinkan anak tersebut dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Meski suasana di sekitar lokasi sempat dipenuhi kepanikan, Ressi dan suaminya berusaha tetap fokus. Sang suami juga turut membantu dengan mengimbau para pengunjung agar tidak berkerumun sehingga proses penyelamatan dapat berlangsung lebih leluasa.
Rasa syukur pun tak bisa disembunyikan saat korban akhirnya berhasil diselamatkan.
“Alhamdulillah, saya merasa lega karena korban bisa tertolong,” ucapnya.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya pengetahuan pertolongan pertama bagi masyarakat. Ressi menilai keterampilan CPR seharusnya tidak hanya dimiliki tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat umum karena kondisi darurat bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.
Menurutnya, tindakan sederhana yang dilakukan dengan teknik yang benar dan pada waktu yang tepat dapat menjadi penentu antara hidup dan mati seseorang.
Selain mengingatkan para orang tua agar selalu mengawasi anak-anak saat bermain di area perairan, Ressi juga mendorong pengelola tempat wisata untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
Ia menilai seluruh karyawan yang bertugas di lokasi wisata sebaiknya dibekali pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD), termasuk kemampuan melakukan CPR, sehingga dapat memberikan pertolongan cepat sebelum tenaga medis tiba.
“Kejadian seperti ini bisa terjadi kapan saja. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia di lokasi wisata sangat penting untuk meminimalkan risiko dan menyelamatkan nyawa,” pungkasnya.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
