Oleh: Kang Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com – Manusia adalah satu-satunya makhluk yang sadar bahwa dirinya akan mati.
Sejak pertama kali membuka mata di dunia, sesungguhnya manusia sedang berjalan menuju satu titik yang tidak pernah dapat dihindari: kematian. Tidak ada kekuasaan yang mampu menolaknya, tidak ada kekayaan yang dapat membelinya, tidak ada ilmu pengetahuan yang dapat menghentikannya. Raja dan rakyat, nabi dan pengikutnya, ilmuwan dan orang awam, semuanya berdiri sama di hadapan kematian.
Namun pertanyaan terbesar sepanjang sejarah bukanlah: “Apakah manusia akan mati?”
Karena jawabannya sudah pasti.
Pertanyaan terbesar yang terus menghantui peradaban manusia adalah:
“Apa yang terjadi setelah kematian?”
Apakah kematian adalah akhir dari segalanya?
Apakah kesadaran manusia lenyap seperti api yang padam?
Apakah seluruh cinta, harapan, pengorbanan, dan perjuangan manusia berakhir menjadi kehampaan?
Ataukah kematian hanyalah sebuah pintu menuju kehidupan yang lebih luas?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang telah melahirkan agama, filsafat, sains, dan berbagai pencarian spiritual sepanjang sejarah manusia. Dari para nabi hingga para filsuf, dari para sufi hingga para ilmuwan modern, semuanya berusaha memahami misteri terbesar kehidupan ini.
Tulisan ini lahir dari kegelisahan yang sama
Bukan untuk menambah ketakutan manusia terhadap kematian, melainkan untuk membebaskannya dari ketakutan itu.
Karena sesungguhnya, yang menakutkan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan ketidaktahuan tentang apa yang berada di baliknya.
Dalam pandangan Tauhid Profetik Ma’rifatullah, Kematian bukanlah kegelapan yang menelan kehidupan. Kematian adalah perpindahan. Sebuah perjalanan dari satu alam menuju alam berikutnya. Sebagaimana seorang bayi meninggalkan rahim ibunya untuk memasuki dunia, demikian pula manusia meninggalkan dunia untuk memasuki dimensi kehidupan yang lebih luas.
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
Namun Al-Qur’an tidak pernah mengatakan bahwa manusia akan musnah.
Yang mati adalah tubuh.
Yang kembali adalah ruh.
Yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah kesadaran manusia atas seluruh pilihan hidupnya.
Karena itu, kematian bukanlah lawan kehidupan.
Kematian adalah bagian dari kehidupan
Ia adalah gerbang yang menghubungkan dunia yang fana dengan kehidupan yang abadi.
Ironisnya, manusia modern hidup seolah-olah kematian tidak akan pernah datang. Mereka membangun gedung-gedung tinggi, mengumpulkan harta tanpa batas, mengejar popularitas dan kekuasaan, namun melupakan satu kenyataan yang pasti mendatangi setiap manusia.
Kematian
Dan justru karena melupakan kematian, manusia kehilangan makna kehidupan.
Padahal mereka yang memahami kematian dengan benar akan lebih menghargai hidup, lebih mencintai sesama, lebih bijaksana dalam menggunakan waktu, dan lebih sadar akan tujuan keberadaannya.
Tulisan ini mengajak pembaca menempuh perjalanan panjang yang jarang dibahas secara utuh.
Kita akan menelusuri perjalanan ruh sejak sebelum manusia lahir ke dunia, ketika seluruh anak cucu Adam bersaksi di hadapan Tuhan.
Kita akan membahas hakikat kehidupan dunia sebagai fase pendidikan dan ujian.
Kita akan memasuki misteri kematian, alam kubur, barzakh, kebangkitan, mahsyar, hisab, hingga kehidupan abadi yang tidak pernah berakhir.
Namun lebih dari itu, tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
Mengapa manusia diciptakan?
Mengapa manusia harus mati?
Mengapa manusia merindukan keabadian?
Dan mengapa di dalam hati setiap manusia selalu ada suara yang berbisik bahwa dirinya diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar daripada sekadar lahir, bekerja, menua, lalu mati?
Karena sesungguhnya kerinduan manusia terhadap keabadianbukanlah ilusiKerinduan itu adalah jejak asal-usulnya.
Ruh manusia berasal dari Tuhan dan selalu merindukan untuk kembali kepada-Nya.
Sebagaimana sungai merindukan lautan.
Sebagaimana cahaya merindukan sumbernya.
Sebagaimana jiwa merindukan Sang Pencipta.
Maka jika tulisan ini dapat membantu pembaca memandang kematian bukan sebagai akhir, melainkan sebagai awal perjalanan yang sesungguhnya, maka tujuan penulis telah tercapai.
Sebab pada akhirnya, kematian bukanlah musuh manusia.
Kematian adalah tabir
Dan di balik tabir itu terbentang kehidupan yang tidak pernah berakhir.
“Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nya kita kembali.” (***)
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
