Wartain.com – Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyampaikan duka cita atas meninggalnya lima peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahun 2026 saat mengikuti latihan bela negara dan manajerial.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan, mengatakan seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur di fasilitas kesehatan satuan hingga rumah sakit rujukan.
“Pertama-tama, atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, panitia seleksi nasional, dan seluruh penyelenggara Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta Program SPPI KDKN PKNP Tahun 2026 yang sedang mengikuti latihan bela negara dan manajerial,” ujar Ketut, Minggu (28/6/2026).
Ia menegaskan, setiap peserta memiliki kondisi kesehatan yang berbeda dan telah memperoleh penanganan medis sejak munculnya keluhan.
“Kelima peserta tersebut memiliki karakter dan kondisi medis yang berbeda-beda. Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan,” katanya.
Kelima peserta yang meninggal dunia adalah Yonanda Muhammad Taufiq, Anisa Muyassaroh, Novia Rahmadhani Sihotang, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, dan Nola Dya Sari.
Berdasarkan penjelasan Kemhan, penyebab meninggalnya kelima peserta berbeda-beda. Yonanda meninggal akibat henti jantung (cardiac arrest) setelah mengalami penurunan kesadaran saat kegiatan pengenalan lingkungan. Anisa dinyatakan meninggal karena heat stroke. Novia meninggal setelah mengalami infeksi paru yang dalam pemeriksaan lanjutan didiagnosis sebagai tuberkulosis aktif, sementara tim kesehatan TNI menyebut penyebabnya mengarah pada pneumonia akibat infeksi virus. Adapun Rifki meninggal akibat pneumonia yang disertai komplikasi medis, sedangkan Nola mengalami henti jantung setelah sebelumnya mengeluhkan sesak napas dan demam.
Ketut menjelaskan, seluruh peserta sebenarnya telah menjalani seleksi kesehatan sebelum mengikuti pelatihan, meliputi pemeriksaan laboratorium, rontgen, EKG, USG, pemeriksaan mata, gigi, postur hingga kesehatan jiwa. Namun, beberapa kondisi medis disebut tidak terdeteksi pada pemeriksaan awal.
Kemhan juga menegaskan bahwa pelatihan SPPI tidak disamakan dengan pendidikan militer bagi prajurit. Materi yang diberikan lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter, disiplin, semangat bela negara, kerja sama, serta kemampuan manajerial.
“Penyelenggaraan latihan bela negara dan manajerial ini disusun secara terukur dengan memperhatikan latar belakang peserta sebagai masyarakat sipil. Kegiatan ini tidak disamakan dengan pendidikan militer atau prajurit,” ujar Ketut.
Menurutnya, aktivitas fisik yang dijalani peserta hanya berupa senam, jalan kaki, peraturan baris-berbaris (PBB), serta Peraturan Penghormatan Militer (PPM), sehingga belum masuk kategori latihan fisik berat.
Sebagai tindak lanjut atas kejadian tersebut, Kemhan melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan terhadap seluruh peserta, termasuk observasi, isolasi bagi yang memerlukan, serta pelacakan terhadap peserta yang diduga terpapar penyakit menular.
“Sebagai langkah mitigasi, penyelenggara juga telah melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan, observasi, dan isolasi terhadap peserta yang memerlukan, serta koordinasi intensif dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan TNI untuk memastikan seluruh peserta memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat dan optimal,” kata Ketut.
Sementara itu, Tim Kesehatan Pusat Kesehatan (Puskes) TNI, Letkol Ckm Ichsan, mengatakan hasil pemeriksaan awal telah dilakukan sesuai prosedur. Namun, untuk kasus Novia, hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan adanya infeksi paru yang tidak terdeteksi saat proses seleksi kesehatan.
“Pada saat pemeriksaan rontgen itu tidak terdapat TBC. Sedangkan hasil diagnosis terakhir mengarah pada pneumonia atau infeksi paru-paru yang disebabkan oleh virus,” ujar Ichsan.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
