Oleh: Aam Abdul Salam (Sekjen PPJNA98/Presidium MD KAHMI Sukabumi/Sekjen Komite Pergerakan Indonesia untuk Kedaulatan Pangan dan Energi)
Wartain.com – Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa profan pemutusan belenggu kolonialisme di atas kertas sejarah. Secara hakiki, kemerdekaan adalah momentum spiritual saat sebuah bangsa diizinkan Tuhan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, sebuah panggilan melintasi langit Nusantara.
PPJNA98, Majelis Sholawat Cahaya Nusantara, Rumah Literasi Merah Putih, dan Sinergi Media Merah Putih menginisiasi gerakan batin yang masif: “Satu Bulan Gema Dzikir dan Doa Mensyukuri Kemerdekaan RI ke-81”. Ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah laku spiritual untuk mengetuk pintu langit.
Secara filosofis, bumi Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke adalah laboratorium anugerah Ilahi. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan amanah ideologis yang harus disyukuri. Berdzikir berarti menapakuri kebesaran Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Ketika dzikir digemakan di setiap rumah, perkampungan, hingga pelosok Nusantara, terjadi resonansi energi positif yang besar. Secara spiritual, getaran doa ini bertujuan memancarkan cahaya Nur Muhammad—sebuah konsep ruang spiritual yang membawa rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Cahaya inilah yang diharapkan menjadi benteng makro dari segala bentuk perpecahan dan bencana.
Doa untuk Pemimpin: Pilar Stabilitas Negara
Dalam filsafat kenegaraan transendental, pemimpin adalah bayang-bayang keadilan Tuhan di muka bumi (zillullah fil ardh). Oleh karena itu, menjaga pemimpin dengan doa adalah kewajiban moral setiap warga negara.
Melalui momentum 81 tahun Indonesia Merdeka, doa tulus tanpa henti dipanjatkan untuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Semoga beliau senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, serta bimbingan langsung dari Allah SWT dalam menakhodai kapal besar bernama Indonesia.Tak kalah penting, dukungan Do’a spiritual juga mengalir deras untuk para pilar pertahanan dan hukum negara: Panglima TNI, Kapolri, Menkopolhukam, Kepala BIN, dan Jaksa Agung
Merupakan garda terdepan penegak keadilan dan kedaulatan NKRI. Kekuatan fisik dan strategi militer mutakhir tidak akan lengkap tanpa adanya intervensi spiritual. Sinergi antara ketegasan hukum, kekuatan militer, dan kebersihan hati para pemimpinnya adalah kunci utama menghadapi tantangan geopolitik global.
Menuju Indonesia Emas 2045: Pertahanan Rakyat Semesta
Satu bulan penuh gema dzikir ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik. Fondasi karakter manusia yang spiritualis dan nasionalis adalah motor penggerak utama.
Ketika TNI, Polri, dan seluruh elemen pemerintah bersatu bersama rakyat dalam bingkai Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sihanrata) yang diberkahi doa, maka kejayaan Indonesia bukan lagi sekadar impian.
Mari jadikan bulan kemerdekaan ke-81 ini sebagai bulan mengetuk pintu langit. Nyalakan pelita dzikir di rumah Anda, pancarkan energi positif ke tetangga, dan biarkan seluruh wilayah Nusantara berselimut cahaya keberkahan.
Merdeka lahirnya, jaya ruhaninya, menuju Indonesia emas 2045 !.(***)
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
