Oleh: Ade Ruslan Hidayat/Dosen UMN Sukabumi
Wartain.com – Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari tradisi keilmuan pesantren yang kuat. Kitab kuning, sanad keilmuan, penghormatan kepada ulama, serta nilai tawasuth, tawazun, tasamuh, dan iātidal menjadi bagian penting dari identitasnya. Namun, hari ini NU menghadapi ruang baru: dunia digital yang digerakkan oleh algoritma.
Dahulu, masyarakat mencari ilmu melalui pesantren, madrasah, masjid, dan majelis taklim. Kini, cukup dengan sebuah telepon pintar, berbagai ceramah dan informasi keagamaan dapat diakses dalam hitungan detik. Persoalannya, informasi yang paling viral belum tentu yang paling benar, dan yang paling banyak ditonton belum tentu memiliki otoritas keilmuan.
Di sinilah tradisi pesantren memiliki relevansi besar. Kitab kuning mengajarkan bahwa memahami agama membutuhkan ilmu, metodologi, guru, sanad, dan adab. Sementara algoritma bekerja berdasarkan perhatian dan perilaku pengguna.
Karena itu, NU tidak perlu mempertentangkan tradisi dan modernitas. Keduanya justru dapat dipertemukan.
Kitab kuning dapat menjadi sumber pengetahuan, pesantren menjadi pusat pembentukan karakter, ulama menjadi penjaga otoritas keilmuan, sementara teknologi menjadi sarana penyebarluasan gagasan.
Tantangan NU bukan sekadar bagaimana menjadi viral di media sosial, tetapi bagaimana menghadirkan dakwah digital yang berilmu, beradab, moderat, dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Generasi muda NU perlu menjadi generasi yang mampu membaca kitab sekaligus membaca zaman; memahami khazanah ulama sekaligus memahami teknologi; memiliki kedalaman ilmu sekaligus kecakapan digital.
Sebab, tradisi harus menjadi akar, bukan belenggu. Modernitas harus menjadi ruang inovasi, bukan ancaman. Dan teknologi harus menjadi alat, bukan tuan.
Pada akhirnya, NU tidak harus memilih antara kitab kuning dan algoritma. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mempertemukan keduanya: tradisi yang tetap berakar dan modernitas yang tetap beradab.
Dengan demikian, kitab kuning tidak menjadi sekadar warisan masa lalu, tetapi menjadi sumber nilai untuk menuntun masyarakat menghadapi masa depan.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
