Wartain.com – Ketua Umum Pengurus Pusat Jaringan Nasional Aktivis 98 (PPJNA 98) Anto Kusumayuda menyatakan dukungan kepada KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin untuk maju sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU.
Dukungan itu disampaikan Anto pada Rabu (26/8/2026). Menurutnya, Gus Kikin memiliki kapasitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta pengalaman mengelola organisasi dan lembaga pendidikan Islam.
“Menurut kami Gus Kikin memiliki kemampuan manajerial yang baik. Beliau juga memiliki pengalaman mengelola Pesantren Tebuireng dan memimpin PWNU Jawa Timur,” ujar Anto Kusumayuda.
Nama Gus Kikin memang semakin menguat dalam bursa calon Ketum PBNU. Pada Juli 2026, PWNU Jawa Timur secara resmi memberikan mandat kepada Gus Kikin untuk maju sebagai kandidat. Gus Kikin pun menyatakan siap menjalankan amanah tersebut.
“Saya sebetulnya tidak banyak tahu apa yang akan dilakukan. Begitu masuk acara, saya langsung didaulat dan diberi tugas itu. Jadi saya harus menyiapkan diri,” kata Gus Kikin.
Anto menilai pengalaman Gus Kikin mengelola Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang menjadi modal penting untuk memimpin organisasi sebesar NU. Penilaian serupa sebelumnya juga disampaikan Ketua PBNU KH Ahmad Fahrur Rozi yang menyebut Gus Kikin sebagai pemimpin pesantren besar, mandiri, pengusaha sukses, dan memiliki kemampuan manajerial yang baik.
Gus Kikin meneruskan kepemimpinan Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Proses suksesi sudah dipersiapkan sejak 2016 melalui musyawarah keluarga besar keturunan KH M Hasyim Asy’ari.
Di ranah organisasi, Gus Kikin memiliki rekam jejak sebagai Ketua PWNU Jawa Timur. Ia ditunjuk sebagai Pj Ketua PWNU Jatim pada Januari 2024 dan kemudian terpilih definitif untuk masa khidmat 2024-2029.
Dari sisi nasab, Gus Kikin juga memiliki hubungan dengan pendiri NU. Berdasarkan profil Direktorat Jenderal Pajak, ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari garis ibunya, nasab tersambung ke Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Meski begitu, bagi PPJNA 98 garis keturunan bukan satu-satunya alasan. “Kami melihat Gus Kikin bukan hanya dari sisi dzurriyah atau keturunan pendiri NU, tetapi juga dari kemampuan mengelola organisasi dan pesantren serta pengalaman memimpin PWNU Jawa Timur,” kata Anto.
Gus Kikin sendiri menyampaikan salah satu gagasan yang ingin dikedepankan jika terpilih, yaitu mengembalikan NU kepada Qanun Asasi. Ia menilai NU akan kuat jika ukhuwah dan soliditas organisasi terjaga serta tidak terlalu dibebani kepentingan pribadi.
Dukungan PPJNA 98 menambah daftar kelompok yang menyatakan simpati terhadap pencalonan Gus Kikin. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan Muktamar ke-35 NU dan para pemilik suara sesuai ketentuan organisasi.
Anto berharap proses pemilihan Ketum PBNU berlangsung bermartabat dan mengutamakan kepentingan jam’iyah serta umat.
“Yang terpenting adalah NU membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga persatuan, mempunyai kemampuan manajerial dan memahami akar sejarah serta tradisi NU,” pungkasnya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
