Wartain.com – Upaya pelestarian budaya dan kearifan lokal Sunda kembali dilakukan melalui Gelar Upacara Adat Budaya Sunda “Bakti Guru Bumi” yang digelar di kawasan Situs Gunung Padang, Cianjur, Kamis, 27 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut di Inisiasi oleh Perkumpulan Cinta Tanah Air Kalacakra di dukung oleg Haneuleum Alas Pawitran, Dadali Pati, Mandala Sanghyang Tapak, PNBL, Daya Sunda yang diikuti puluhan peserta yang terdiri dari tokoh adat, sesepuh, budayawan, akademisi, pemerhati budaya, serta masyarakat dan tamu undangan.
Selain menjadi momentum pelaksanaan ritual adat, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi dan refleksi untuk mengenalkan kembali nilai-nilai sejarah, budaya, serta kearifan lokal masyarakat Sunda kepada generasi masa kini.
Prof. Dr. H.C. Rido Hermawan, M.Sc. hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Dalam pemaparannya, ia menyoroti pentingnya menjaga kesinambungan tradisi dan memahami warisan budaya berdasarkan sumber sejarah serta naskah yang menjadi rujukan masyarakat Sunda.
Situs Gunung Padang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting. Penyelenggara memandang keberadaan situs tersebut tidak hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai bagian dari ruang budaya yang perlu terus dikaji, dirawat, dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Mengacu pada Naskah Pantun Pajajaran Bogor
Pelaksanaan Upacara Adat Bakti Guru Bumi memiliki landasan filosofis dan literatur yang bersumber dari tradisi Sunda lama. Salah satu rujukan utama yang digunakan adalah Naskah Pantun Pajajaran Bogor, yang dituturkan oleh Aki Uyut Baju Rambeng dan disalin oleh Anis Djatisunda pada periode 1969–1971 Masehi.
Naskah tersebut merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Sunda Pajajaran pada masa lalu, mulai dari kehidupan sosial, ideologi, hingga pranata Religius.
Dalam perspektif antropologis, pantun Sunda tidak sekadar dipandang sebagai cerita atau hiburan. Di dalamnya terdapat simbol, nilai sakral, serta gambaran mengenai alam pikiran masyarakat Sunda.
Pelaksanaan upacara juga berpegang pada prinsip Tali Paranti, yaitu tradisi yang dilaksanakan berdasarkan waktu, tempat, dan tata cara yang semestinya.
Upaya Rekonstruksi Ritual Adat
Salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah merekonstruksi sekaligus melestarikan pelaksanaan ritual Mapag Bakti Guru Bumi atau Bakti Purnamasari serta Bakti Guru Bumi berdasarkan sumber tradisi dan Naskah Pantun Pajajaran Bogor.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana untuk membuka kembali ruang pembelajaran mengenai identitas budaya Sunda dan nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang pada masa lalu.
Memaknai Bakti Guru Bumi
Dalam tradisi yang menjadi dasar kegiatan, Bakti Guru Bumi dipahami sebagai ritual puncak tahunan atau Seren Taun yang dilaksanakan pada malam bulan purnama di penghujung tahun yang disebut Mangsa Bakti.
“Bakti” melambangkan penghormatan dan kasih kepada Sang Pencipta. Sementara “Guru” dan “Bumi” memiliki makna yang berkaitan dengan awal atau mangsa kesatu dan kedua dalam periodik talimangsa Sunda Pajajaran.
Pemaknaan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami hubungan manusia dengan Sang Pencipta, alam, serta lingkungan sosial dan budaya dalam tradisi masyarakat Sunda.
Melalui kegiatan Bakti Guru Bumi yang digelar pada 27 Agustus 2026 tersebut, penyelenggara berharap tradisi Sunda dapat terus hidup, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
