Wartain.com – Janjinya kerja. Kenyataannya eksploitasi. Empat anak asal Kabupaten Sukabumi diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang berkedok lowongan asisten rumah tangga (ART) di Solo, Jawa Tengah. Bukannya mendapat pekerjaan layak, mereka malah terjebak dalam situasi yang kini ditangani lintas provinsi.
Kabar pemulangan mereka membuat Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi bergerak cepat.
“Kami sudah koordinasi dengan UPTD PPA Provinsi Jabar. Karena pemulangan dari Jawa Tengah, mekanismenya ditangani provinsi dulu,” kata Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, saat dihubungi, Jumat (30/10/2026).
Agus menegaskan, setelah empat anak itu tiba di Jawa Barat dan berada di bawah penanganan UPTD PPA Provinsi, barulah DP3A Sukabumi akan masuk untuk pendampingan penuh.
Skema pendampingannya berlapis: psikolog untuk memulihkan trauma, pendampingan hukum jika ada unsur pidana, hingga koordinasi dengan Disnakertrans untuk menelusuri pola perekrutan.
“Pendampingan psikologi tidak bisa buru-buru. Kita lihat dulu kondisi anaknya beberapa hari setelah pulang. Setiap anak traumanya beda,” ujar Agus.
Modus Lama, Korban Anak-anak
Kasus ini bukan yang pertama. Modus tawaran kerja ART dengan gaji menggiurkan kerap menyasar anak di bawah umur dari daerah. Minim informasi, desakan ekonomi, membuat mereka mudah tergiur.
Karena itu, DP3A mengaku tak hanya fokus pada pemulangan, tapi juga pencegahan.
Tahun ini saja, ada 10 SMP di Kabupaten Sukabumi yang menjadi sasaran sosialisasi Kekerasan, Eksploitasi, dan Diskriminasi (KED). Anak-anak diedukasi agar waspada terhadap tawaran kerja instan di luar daerah.
“Edukasi harus dari sekolah, keluarga, dan lingkungan. Jangan sampai anak kita berangkat karena janji kerja, pulang dengan trauma,” kata Agus.
Hingga Kamis kemarin (29/10/2026), keberadaan keempat korban masih dalam proses koordinasi pemulangan dari Solo ke Jawa Barat. DP3A belum membuka identitas demi perlindungan anak.
Yang pasti, kasus ini menjadi alarm keras: di balik iklan lowongan ART yang bertebaran di media sosial, ada risiko eksploitasi anak yang mengintai. Dan Sukabumi kembali menjadi titik berangkatnya.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
