Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Abstrak
Wartain.com || Perbedaan pemahaman tauhid di tengah umat Islam kerap melahirkan saling menyesatkan, bahkan takfir, meskipun bersumber dari kitab suci dan nabi yang sama. Artikel ini menawarkan kerangka Tauhid Kenabian Universal, sebuah model integratif yang memandang tauhid sebagai sistem berlapis sesuai fungsi kenabian dan tingkat kesadaran manusia. Dengan pendekatan ini, perbedaan tidak lagi dipahami sebagai penyimpangan, melainkan sebagai variasi maqām dalam satu kesatuan tauhid.
Pendahuluan
Tauhid merupakan inti risalah seluruh nabi. Namun dalam praktik sejarah, tauhid sering direduksi menjadi satu sudut pandang: hukum, rasionalitas teologis, pengalaman spiritual, atau slogan ideologis. Reduksi ini melahirkan konflik internal umat, di mana satu kelompok memonopoli kebenaran dan menyesatkan yang lain. Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa para rasul diutus sesuai bahasa dan kapasitas kaumnya (QS. Ibrahim: 4). Ini menandakan bahwa tauhid memiliki dimensi pedagogis, bukan sekadar dogmatis.
Tauhid dalam Perspektif Kenabian
Nabi Muhammad ﷺ merepresentasikan integrasi sempurna tauhid: paling lurus aqidahnya, paling dalam ma‘rifahnya, dan paling kuat komitmen syariatnya. Tauhid Ulūhiyyah menegakkan ibadah, Tauhid Rubūbiyyah menanamkan tawakal, Tauhid Asmā’–Shifāt mengenalkan Allah tanpa tasybih, Tauhid Ihsān melahirkan muraqabah, dan Tauhid Fanā’ menghancurkan ego tanpa meniadakan syariat.
Imam Junayd al-Baghdadi menegaskan, “Tauhid adalah memisahkan Yang Qadim dari yang hadits,” menolak penyatuan zat antara Allah dan makhluk. Ini menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tertinggi tetap berada dalam bingkai aqidah Ahlus Sunnah.
Akar Masalah Saling Menyesatkan
Fenomena menyesatkan muncul ketika:
Pengalaman khusus dijadikan aqidah umum.
Teks dipahami tanpa konteks maqām,
Hakikat dilepaskan dari syariat.
Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa kesesatan sebagian kaum sufi bukan karena pengalaman ruhani, tetapi karena kesalahan menafsirkan pengalaman tersebut. Sebaliknya, kalangan legalistik pun dapat tergelincir ketika membekukan tauhid pada hukum semata, tanpa ihsan dan tazkiyah.
Tauhid Kenabian Universal sebagai Solusi.
Model Tauhid Kenabian Universal menyatukan seluruh lapisan tauhid dalam satu sistem. Setiap lapisan memiliki fungsi, batas, dan audiensnya. Dengan demikian, umat diajak memahami bahwa perbedaan pendekatan bukanlah ancaman, melainkan keniscayaan tarbiyah ilahiyah. Yang dilarang bukan perbedaan maqām, melainkan klaim kebenaran eksklusif.
Penutup
Tauhid kenabian tidak melahirkan arogansi, tetapi kerendahan hati. Semakin tinggi pemahaman seseorang, semakin besar adab dan ketundukannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan mengembalikan tauhid pada kerangka kenabian universal, umat Islam dapat keluar dari konflik internal dan kembali pada misi utama: menjadi saksi keesaan Allah dengan hikmah dan rahmat.***
III. REFERENSI.
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qusyairi, Al-Risālah al-Qusyairiyyah.
Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn.
Ibn ‘Arabi, Al-Futūhāt al-Makkiyyah.
As-Suyuthi, Tanbīh al-Ghabī fī Tabri’ati Ibn ‘Arabī.
Ibn Taymiyyah, Majmū‘ al-Fatāwā.
Abdul Qadir al-Jailani, Al-Fath ar-Rabbānī.
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
