Wartain.com || Jika duet Ridwan Kamil dan Bima Arya terealisasi, sejumlah pihak menilai siapapun lawannya termasuk anak buah Prabowo Subianto dari Gerindra bakal keok.
Sebelumnya, Bima Arya yang juga mantan Wali Kota Bogor menyatakan siap maju sebagai Calon Gubernur Jawa Barat pada Pilkada 2024 serentak.
Tentunya bukan hal yang mudah bagi Bima Arya memenangkan kursi 01 Jabar jika nantinya Ridwan Kamil juga ikut kembali bertarung.
Meski belakangan, Ridwan Kamil disebut condong bakal memilih berkontestasi di Pilgub Jakarta 2024.
Bahkan Ridwan Kamil sudah mendapat lampu hijau dari Golkar hingga Gerindra untuk Pilgub Jakarta 2024.
Sejumlah pihak menilai, Gerindra condong mendorong Ridwan Kamil ke Pilgub Jakarta 2024 lantaran tengah bermanuver demi memuluskan jalan kadernya yakni Dedi Mulyadi.
Sebagai gambaran berdasarkan survei terbaru Pilgub Jabar 2024, elektabilitas Ridwan Kamil masih yang tertinggi.
Di posisi kedua ada Dedi Mulyadi sementara Bima Arya elektabilitasnya terbilang cukup rendah.
Inilah yang kemudian membuat Gerindra bermanuver.
Ridwan Kamil terkesan dipaksakan ke Pilgub Jakarta 2024, sementara Dedi Mulyadi ambil ancang-ancang untuk Pilgub Jabar 2024.
Paket Ridwan Kamil – Bima Arya Sulit Dikalahkan
Bima Arya dan Ridwan Kamil bakal menjadi pasangan yang sulit ditandingi, jika keduanya berduet pada Pilgub Jabar 2024, menjadi calon gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat (Jabar) 2024.
Hal itu diungkapkan pengamat politik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, saat dihubungi Sabtu (4/5/2024).
Bima Arya berduet dengan RK (Ridwan Kamil), karena ini akan menjadi kekuatan politik yang sulit untuk ditandingi,” ujar Kristian dilansir dari Tribun Jabar.
Mantan Wali Kota Bogor, Bima Arya sendiri baru saja menyatakan diri akan maju di Pilgub Jabar 2024.
Sedangkan Ridwan Kamil, hingga saat ini masih menunda, apakah akan kembali maju di Pilgub Jabar atau hijrah ke Pilgub DKI.
Peta politik di Jabar, kata dia, akan berbeda jika nantinya Bima Arya dan Ridwan Kamil bersaing memperebutkan kursi Gubernur. Keduanya, kata dia, memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih masyarakat Jabar.
“Kalau Bima diusung PAN dan berhadapan dengan RK, maka skema koalisi Nasional menjadi tidak berlaku di Jabar. Kecuali, Bima mau menjadi Cawagubnya RK, maka ceritanya akan lain,” ucapnya.
Bima Arya pun, kata dia, harus mencari pasangan yang representatif untuk mendampingi dirinya, sekaligus mengimbangi lawan politiknya nanti.
“Secara nilai jual, Bima Arya potensial karena kepemimpinan di Bogor selama dua periode cukup baik. Tinggal kembali lagi bagaimana mengemas keunggulan tersebut ke dalam strategi komunikasi yang tepat pada saat kampanye, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan peluang untuk terpilih,” katanya.
Menurutnya, bukan tidak mungkin partai-partai besar seperti Nasdem dan Demokrat bakal melirik Bima Arya seperti saat Pilkada Kota Bogor.
“Sekarang yang menjadi tantangan adalah mungkin atau tidak lobby Golkar dan PDIP dilakukan. Jika ini bisa berjalan, maka tidak menutup kemungkinan juga untuk membentuk koalisi yang kuat,” katanya.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Redaksi)
