Wartain.com, Sukabumi || Penantian panjang warga akan datangnya hujan, kini sudah mulai ada tanda-tanda. Kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia, membuat sengsara masyarakat. Mulai dari bencana kekeringan, polusi udara, kebakaran, sampai asap tebal yang menghalangi pandangan.
Memasuki bulan Oktober, tanda-tanda musim hujan pun tiba. Salahsatunya yang dirasakan oleh sebagain warga Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.
Hari ini, Sabtu 07/10/2023, hujan pun tiba. Tapi, ada hal yang aneh dirasakan oleh warga Nagrak sekaitan dengan datangnya hujan tersebut. Ada fenomena yang tidak biasa, yaitu rintikan hujannya berbentuk bongkahan es sebesar kelereng.
Hujan yang disertai petir dan hembusan angin kencang, datang secara tiba-tiba mengguyur sebagian wilayah Nagrak. Tentunya selain disambut suka cita juga ada rasa kaget, karena jatuhan air hujannya berbentuk es. Kejadian ini berlangsung sekitar 5 (lima) menit saja, dan selanjutnya air hujan turun seperti biasa.
Sontak saja, kejadian ini membuat warga Nagrak semakin penasaran, tidak hanya anak kecil, orang tua pun banyak yang keluar rumah. Mereka penasaran ingin menyaksikan jatuhnya air hujan yang berbentuk es tersebut.

Kepada wartain.com, salah seorang warga, Yeti (52) tahun mengatakan, bersyukur datangnya hujan ini, tapi ia sedikit kaget karena awal mula datangnya hujan, air yang turun sebesar biji kelereng.
“Alhamdulillah akhirnya hujan datang, cuma saya kaget, kok suara air yang menimpa genting rumah keras sekali. Setelah dilihat ternyata hujan es,” kata warga KP. Nagrak RT 02 RW 03, Desa Nagrak Selatan tersebut.
Melansir laman BMKG, fenomena hujan es biasa terjadi apabila pada posisi musim pancaroba, baik dari kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Biasanya hujan es datang disertai petir dan angin kencang.
Menurut situs BMKG, penyebab terjadinya fenomena hujan es adalah karena dipicu oleh adanya pola konvektifitas di atmosfer dalam skala lokal-regional yang signifikan. Hujan es dapat terbentuk dari sistem awan konvektif jenis Cumulonimbus (Cb).
Umumnya awan jenis Cumulonimbus memiliki dimensi menjulang tinggi yang menandakan bahwa adanya kondisi labilitas udara signifikan dalam sistem awan tersebut. Sehingga hal ini dapat membentuk butiran es di awan dengan ukuran yang cukup besar.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(Tim Red)
