Alumni Lintas BEM Garut Berkumpul, Soroti Kultur Sosial yang Dinilai “Sakit Akut”
Wartain.com – Sejumlah alumni lintas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Garut kembali berkumpul. Bukan sekadar bernostalgia dengan masa-masa pergerakan di kampus, pertemuan tersebut justru menjadi ruang refleksi untuk membaca persoalan sosial Garut yang dinilai semakin kompleks.
Dalam pertemuan itu, para alumni membicarakan perubahan kultur sosial masyarakat, menyempitnya ruang dialog, menguatnya fragmentasi kepentingan, hingga kecenderungan perbedaan pandangan yang lebih mudah berubah menjadi gesekan.
Bagi mereka, persoalan tersebut tidak cukup dibaca dari berbagai gejala yang tampak di permukaan. Ada persoalan yang lebih mendasar mengenai bagaimana masyarakat membangun relasi, menyikapi perbedaan, serta merawat ruang publik sebagai tempat bertemunya berbagai kepentingan.
Alumni BEM, Elvan Syah Muharam, melihat bahwa perubahan kultur sosial perlu dibicarakan secara terbuka. Persoalan masyarakat, menurutnya, tidak dapat terus-menerus diselesaikan melalui respons sesaat ketika konflik sudah muncul.
“Ruang dialog yang sehat menjadi penting karena masyarakat membutuhkan tempat untuk berbeda pendapat tanpa harus saling menegasikan. Ketika ruang tersebut semakin sempit, perbedaan kepentingan dapat dengan mudah berkembang menjadi konflik sosial,” ungkapnya.
Pandangan serupa disampaikan Salman Rizkatillah. Menurutnya, pengalaman gerakan mahasiswa semestinya tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan bangku perguruan tinggi.
“Kampus dan organisasi mahasiswa bukan hanya tempat memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga ruang pembentukan tradisi berpikir kritis, keberanian menyampaikan pendapat, solidaritas, serta kepekaan terhadap persoalan publik,” ucap Salman.
Karena itu, pertemuan alumni lintas BEM tersebut tidak dimaknai sekadar sebagai nostalgia gerakan mahasiswa. Ada kegelisahan mengenai bagaimana nilai-nilai kritis yang pernah tumbuh di ruang kampus dapat kembali dibawa ke tengah kehidupan masyarakat.
Istilah “sakit akut” kemudian muncul sebagai gambaran keras terhadap kondisi kultur sosial yang mereka rasakan. Istilah itu digunakan untuk menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar gejala yang muncul sesekali, melainkan sesuatu yang dianggap membutuhkan perhatian lebih serius dan pendekatan yang lebih mendasar.
Fragmentasi masyarakat akibat kepentingan, identitas kelompok, derasnya arus informasi, serta minimnya ruang dialog dinilai menjadi sejumlah persoalan yang perlu dibaca secara bersama-sama.
Bagi para alumni BEM, kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi generasi yang pernah mengalami tradisi gerakan mahasiswa.
Sebab, gerakan mahasiswa idealnya tidak selesai ketika seseorang menyandang status alumni. Nilai keberpihakan terhadap masyarakat, tradisi intelektual, keberanian melakukan kritik, dan kemampuan membangun dialog justru diuji ketika seseorang kembali berada di tengah kehidupan sosial.
“Garut membutuhkan ruang-ruang sosial yang memungkinkan masyarakat berbeda tanpa harus bermusuhan. Kritik tidak semestinya selalu dipersepsikan sebagai ancaman, sementara perbedaan tidak seharusnya berakhir pada upaya saling menyingkirkan,” tegas Salman.
Pertemuan lintas alumni BEM itu pada akhirnya menjadi semacam ruang diagnosis sosial: jika kultur masyarakat memang sedang mengalami persoalan, maka yang harus dicari bukan hanya siapa yang salah, tetapi apa yang membuat persoalan tersebut terus berulang.
Pertanyaan berikutnya pun menjadi lebih penting:
Apakah alumni gerakan mahasiswa akan berhenti sebagai generasi yang pernah bergerak, atau kembali mengambil peran dalam memperbaiki ruang sosial Garut hari ini?(***)
Editor: Aab Abdul Malik
(SAL/Biro Garut)
