26.7 C
Jakarta
Jumat, Juni 5, 2026

Latest Posts

Amarta yang Ditata Ulang: Kresna, Bima, dan Jalan Sunyi Sang Raja

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Di suatu masa yang senyap, setelah Bharatayudha usai dan darah kering di Kurukshetra, negeri Amarta tidak serta-merta menjadi negeri yang damai. Musuh telah kalah, tetapi sisa-sisa kuasa lama masih bersembunyi di balik istana, lumbung, dan padepokan. Para Pandawa memahami satu hal: perang terbesar bukan lagi di medan laga, melainkan di dalam tata negara.

Yudhistira, sang raja dharmika, duduk di singgasana dengan hati yang bening namun beban yang berat. Ia tahu, menghancurkan musuh di medan perang jauh lebih mudah daripada menata ulang kekuasaan yang telah lama berurat akar. Maka ia memanggil Kresna, sang penuntun zaman, yang memahami watak manusia, kuasa, dan waktu.

Kresna tidak menyarankan pembersihan total. “Jika engkau mencabut semua pohon tua sekaligus,” ujar Kresna, “tanah akan longsor dan Amarta akan hancur dari dalam.” Maka ditempuhlah jalan yang sunyi dan sering disalahpahami: penguasa lama tidak disingkirkan seluruhnya, tetapi ditempatkan, diawasi, dan diikat oleh sistem baru.

Di sinilah strategi besar dimulai.
Sebagian bekas Kurawa yang tersisa tidak diusir dari istana, melainkan ditempatkan sebagai patih, senapati, dan penasihat. Bukan karena mereka suci, tetapi karena kekuatan mereka dikenal, kelemahan mereka dipahami, dan gerak mereka kini berada di bawah cahaya. Ini bukan kompromi nilai, melainkan penjinakan kuasa.

Bima, sang Werkudara, awalnya murka. “Mengapa musuh diberi tempat?” tanyanya. Bima adalah suara rakyat, suara kejujuran yang ingin segala sesuatu bersih seketika. Namun Kresna menepuk bahunya. “Engkau adalah gada, bukan jaring. Negara tidak hanya butuh kekuatan, tapi juga pengikatan.”

Bima kemudian diberi tugas lain: menjaga fondasi. Ia tidak sibuk di singgasana, tetapi mengawasi lumbung, prajurit, dan tanah rakyat. Ia menjadi simbol kekuatan negara yang tidak berisik, namun siap menghantam bila garis batas dilanggar. Inilah peran kekuatan sejati: hadir tanpa perlu diumumkan.

Strategi ini menyerupai langkah seorang raja di zaman kini—Prabowo Subianto—yang memilih jalan berliku daripada jalan sorak. Penguasa lama tidak seluruhnya disingkirkan, bahkan sebagian ditempatkan sebagai wakil dan menteri. Banyak yang mencibir, mengira sang raja tunduk pada bayang-bayang masa lalu.

Padahal, seperti Kresna, Prabowo memahami satu hal: menghadapi oligarki bukan dengan frontal, tetapi dengan menguras pengaruhnya dari dalam.

Menempatkan bekas penguasa dalam struktur negara bukan berarti menyerahkan kendali, melainkan memindahkan medan tempur. Dari luar sistem ke dalam sistem. Dari bebas ke terikat. Dari gelap ke terang. Mereka kini berada dalam sumpah jabatan, hukum, dan sorotan publik. Kesalahan kecil menjadi besar, dan manuver sempit mudah terbaca.

Yudhistira pun perlahan menata hukum, ekonomi, dan pasukan. Tanpa teriak revolusi, tanpa pembalasan dendam. Negara disusun ulang seperti papan catur, satu langkah demi satu langkah. Kresna tahu, waktu adalah sekutu terbesar seorang pemimpin.

Bima akhirnya mengerti. Ia tetap menjadi kekuatan pamungkas, tetapi kini berdiri di belakang, bukan di depan. “Saat gada diangkat,” kata Kresna, “itu tanda semua jalan damai telah habis.”

Amarta pun tidak menjadi negeri tanpa konflik, tetapi menjadi negeri dengan arah. Rakyat mungkin belum sepenuhnya puas, namun fondasi telah diletakkan. Dan sejarah akan mencatat: raja yang besar bukan yang paling keras memukul musuhnya, tetapi yang paling sabar mengikat kekuasaan.

Begitulah kisah Amarta yang ditata ulang. Kisah lama yang selalu berulang dalam wajah zaman yang berbeda.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.