26.7 C
Jakarta
Rabu, Februari 11, 2026

Latest Posts

Bima vs Mahkamah Langit

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || Di suatu zaman ketika hukum diturunkan dari langit dalam bentuk titah dan prasasti, berdirilah sebuah lembaga yang disebut Mahkamah Langit. Ia dikatakan suci, tak tersentuh, dan mewakili kehendak para dewa. Segala keputusan yang keluar darinya dianggap mutlak benar, meski tak semua manusia memahami isinya.

Bima, Werkudara, ksatria berotot baja dengan hati lurus, tidak pernah diajari untuk membantah langit. Sejak kecil ia diajarkan patuh pada dharma. Namun Bima juga diajarkan satu hal yang lebih penting: kejujuran tidak boleh dikalahkan oleh ketakutan.

Suatu hari, Mahkamah Langit mengeluarkan titah-titah baru. Isinya halus, bahasanya indah, tetapi tafsirnya lentur. Atas nama ketertiban kahyangan dan stabilitas jagat, suara-suara keras di bumi mulai dipanggil, diadili, dan dibungkam. Para pendeta berkata, “Ini demi kebaikan semua.”

Bima mulai gelisah

Ia melihat rakyat kecil takut bicara. Ia melihat ksatria jujur diseret dengan alasan melanggar tata krama langit, sementara para raksasa licik berlindung di balik jubah hukum. Mahkamah Langit tidak salah secara teks, kata para ahli, tetapi pelaksanaannya terasa timpang.
Bima pun naik ke kahyangan.

Dengan langkah berat dan dada terbuka, ia berdiri di hadapan Mahkamah Langit. Para penjaga gemetar, bukan karena Bima membawa senjata, tetapi karena ia datang membawa kebenaran yang tidak bisa dibantah dengan pasal.

“Aku tidak menentang langit,” kata Bima.
“Aku menentang mereka yang memakai langit untuk menindas bumi.”
Para hakim langit murka. Mereka berkata, “Siapakah engkau, manusia, berani menggugat hukum para dewa?”
Bima menjawab tenang, “Aku adalah yang akan pertama kali dihantam hukummu jika hukum itu dipakai salah.”

Mahkamah Langit lalu membuka kitab hukum mereka. Pasal demi pasal dibacakan. Semuanya tampak sah. Semua tampak suci. Tetapi Bima bertanya satu hal yang membuat kahyangan senyap:
“Siapa yang menentukan tafsirnya?”

Tak ada yang menjawab

Di situlah Kresna muncul, bukan sebagai dewa perang, melainkan sebagai penjaga keseimbangan. Ia tidak membela Bima sepenuhnya, tetapi juga tidak membela Mahkamah Langit. Kresna berkata, “Langit yang tidak mau diuji akan runtuh oleh kebohongannya sendiri.”

Ia menoleh ke para hakim langit. “Hukum bukan untuk melindungi kekuasaan, tetapi untuk membatasi keserakahan. Jika hukummu hanya berani ke bawah, maka ia bukan hukum, melainkan alat.”

Bima tidak memukul Mahkamah Langit. Ia tahu, kekerasan hanya akan membenarkan mereka. Ia memilih cara lain: menjadi pengingat yang terus berdiri. Setiap kali hukum dipakai salah, nama Bima disebut rakyat. Setiap kali pasal dipelintir, bayangan Bima muncul di ruang sidang.

Mahkamah Langit akhirnya mengerti

Bukan karena takut pada gada, tetapi karena takut kehilangan legitimasi. Sejak itu, hukum tetap ada, tetapi diawasi. Langit tetap tinggi, tetapi tidak lagi merasa kebal.
Kisah ini bukan tentang melawan hukum. Ini kisah tentang melawan penyalahgunaan kesucian hukum. Negara mana pun yang mengaku menjunjung keadilan harus siap diuji oleh Bima-Bima di zamannya: suara rakyat, nurani publik, dan keberanian moral.
Karena hukum yang benar tidak takut ditanya.

Dan langit yang adil tidak takut pada ksatria yang jujur.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.