26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 30, 2026
Beranda blog Halaman 74

Sungai Cangehgar Meluap, Fasum dan Fasos Terendam

0

Wartain.com – Kampung Cangehgar, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kembali dilanda banjir akibat luapan sungai setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dengan intensitas tinggi dan berlangsung cukup lama, Minggu (24/5/2026).

Hujan mulai turun sekitar pukul 13.30 WIB hingga pukul 18.00 WIB dan belum juga reda. Debit air Sungai Cangehgar diketahui mulai meningkat sejak pukul 15.00 WIB sebelum akhirnya meluap sekitar pukul 16.30 WIB.

Luapan air sungai menyebabkan Jalan Raya Pelabuhanratu tergenang banjir. Kondisi tersebut membuat kendaraan roda dua maupun roda empat terpaksa berhenti karena arus air cukup tinggi dan menghambat akses lalu lintas.

“Air naiknya cepat sekali setelah hujan deras turun terus menerus. Jalan raya sampai tidak bisa dilalui kendaraan karena genangan cukup tinggi,” ujar Arif (37), salah seorang warga setempat.

Selain menggenangi jalan raya, banjir juga merendam sejumlah fasilitas umum, termasuk Puskesmas Palabuhanratu. Ketinggian air diperkirakan mencapai lebih dari satu meter di area sekitar bangunan puskesmas.

Rumah warga yang berada di dekat aliran sungai tepatnya di Kampung Cangehgar RT 02/RW 03 turut terdampak banjir.

Berdasarkan penuturan salah satu warga, Bayu (40) menuturkan, sedikitnya tujuh rumah terendam air. Sejumlah toko di pinggir jalan juga ikut tergenang akibat luapan Sungai Cangehgar.

“Ada sekitar 7 rumah warga terendam banjir, toko-toko juga sama terus ini puskesmas ngeri selalu tinggi airnya,” tutur Bayu

Sementara itu, memasuki pukul 18.45 WIB, genangan air di Jalan Raya Pelabuhanratu mulai surut dan arus lalu lintas kembali normal. Meski demikian, material lumpur yang tertinggal di badan jalan masih menjadi perhatian warga dan pengguna jalan.

“Sekitar magrib air mulai perlahan surut dan kendaraan sudah bisa lewat lagi. Tapi kondisi jalan masih dipenuhi lumpur sehingga pengendara harus tetap hati-hati saat melintas,” tambah Bayu.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Mahasiswa di Sukabumi Jadi Garda Pelestarian Budaya di Tengah Arus Digital

0

Wartain.com – Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi, peran generasi muda dinilai semakin penting dalam menjaga identitas budaya bangsa. Hal itu mengemuka dalam kegiatan Harmoni Budaya yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB di IPB Kota Sukabumi, Minggu (24/5/2026).

Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana menyebut kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga ruang kolaborasi dan edukasi yang memperkuat semangat persatuan melalui keberagaman budaya.

“Harmoni Budaya menjadi ruang kolaborasi, ruang edukasi, sekaligus ruang pemersatu di tengah keberagaman budaya bangsa Indonesia,” ujar Bobby.

Ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang dinilai menunjukkan kepedulian nyata terhadap pelestarian budaya di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari bahasa, adat istiadat, kesenian hingga tradisi yang menjadi identitas sekaligus kekuatan bangsa. Namun kekayaan tersebut membutuhkan keterlibatan generasi muda agar tetap hidup dan relevan.

Bobby menilai mahasiswa saat ini tidak cukup hanya menjadi peserta pendidikan formal, tetapi juga perlu hadir sebagai agen perubahan yang menjaga nilai kebangsaan melalui kegiatan seni dan budaya.

“Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seni dan budaya menunjukkan masih kuatnya kepedulian generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan dan akar budaya yang dimiliki Indonesia,” tuturnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa juga diberikan ruang untuk menyalurkan kreativitas dan menampilkan berbagai ekspresi budaya yang diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap keberagaman Indonesia.

Pemerintah Kota Sukabumi berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan melahirkan inovasi baru di bidang seni dan budaya yang tidak hanya bernilai pelestarian, tetapi juga memberi dampak sosial, pendidikan, hingga ekonomi.

“Budaya dinilai bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai kekuatan masa depan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan pendidikan bagi masyarakat,” tegas Bobby.

Di akhir kegiatan, Bobby mengajak generasi muda untuk terus menjaga dan mencintai budaya Indonesia sebagai bagian dari identitas bangsa sekaligus modal menghadapi masa depan.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Persib Bandung Juara Tiga Kali Beruntun, Dedi Mulyadi Lepas Konvoi dan Janjikan Bonus Rp1 Miliar

0

Wartain.com – Ribuan warga dan pendukung setia Bobotoh memadati kawasan Gedung Sate, Kota Bandung, pada Minggu (24/5/2026). Lautan manusia tersebut antusias menyambut konvoi tim Persib Bandung yang merayakan keberhasilan merengkuh gelar juara untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Dalam prosesi pelepasan konvoi bertajuk Persib Juara tersebut, pelatih Bojan Hodak bersama seluruh punggawa tim dilepas langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Manajer Persib Bandung Umuh Muchtar.

Sebelum resmi melepas iring-iringan Maung Bandung Dedi Mulyadi mengungkapkan rasa bangganya atas konsistensi prestasi yang ditunjukkan oleh Persib. Ia pun menaruh harapan besar agar tren positif ini terus berlanjut di musim depan.

“Hari ini luapan kegembiraan bobotoh merayakan prestasi luar biasa karena tiga kali jadi juara adalah sesuatu luar biasa. Tapi kalau empat kali jadi juara berarti di atas luar biasa spesial,” kata Dedi.

Dedi juga berpesan agar euforia perayaan ini tetap menjaga ketertiban, penuh kedamaian, dan membawa pesan damai bagi masyarakat luas.

“Dan seluruh perayaan ini harus menjadi perayaan kebahagiaan, penuh cinta dan membangun citra yang positif bahwa Bandung dan Jabar merupakan ruang terbuka bagi siapapun untuk berbahagia di sini,” tambah Dedi.

Selain memuji performa di lapangan, Dedi Mulyadi turut mengapresiasi tata kelola manajemen Persib Bandung. Menurutnya, Persib telah membuktikan diri sebagai potret klub sepak bola modern yang mandiri dan sehat secara finansial tanpa bergantung pada sokongan negara.

“Paling utama, Persib merupakan klub profesional tanpa harus dapat campur tangan pemerintah. Saya tegaskan Persib klub profesional, tanpa campur tangan pemerintah, dan jadi juara itu profesional sejati,” tegas Dedi.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Sule)

Banjir! Sungai Cipalabuan Rendam Permukiman Warga di Kampung Gumelar Palabuhanratu

0

Wartain.com – Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, menyebabkan Sungai Cipatuguran meluap dan merendam permukiman warga di Kampung Gumelar, Minggu (24/5/2026).

Luapan air sungai mulai menggenangi rumah-rumah warga yang berada di bantaran sungai. Ketinggian air terus meningkat seiring hujan deras yang turun sejak pukul 13.30 WIB hingga pukul 17.30 WIB belum juga reda.

Air sungai bahkan dilaporkan sudah menyentuh bagian bawah jembatan penghubung yang menjadi akses utama masyarakat menuju Pasar Palabuhanratu. Kondisi tersebut membuat warga khawatir jembatan tidak dapat dilalui apabila debit air terus bertambah.

“Saya sudah khawatir dari tadi karena air naik sangat cepat. Warga juga panik karena takut air masuk lebih besar ke rumah,” ujar Aldi (30), warga Kampung Gumelar.

Warga setempat pun berupaya menyelamatkan barang-barang berharga milik mereka ke tempat yang lebih aman. Sejumlah warga terlihat berjaga di sekitar rumah sambil memantau kondisi debit air sungai yang terus meningkat akibat hujan deras.

“Selain di Kampung Gumelar, banjir juga terjadi di beberapa titik lain di wilayah Palabuhanratu. Sampai sekarang kami belum melihat petugas dari pemerintah maupun Forkopimcam datang ke lokasi,” kata Aldi.

Banjir yang terjadi di sejumlah titik wilayah Palabuhanratu membuat aktivitas warga terganggu. Masyarakat berharap pemerintah daerah dan petugas terkait segera turun ke lokasi untuk melakukan penanganan serta membantu warga terdampak banjir.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

BPKAD Sukabumi Meriahkan Gebyar Nagrak dan Nobar Persib

0

Wartain.com – Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Sukabumi ikut ambil bagian dalam menyukseskan kegiatan Gebyar Olahraga, Seni dan Budaya yang digelar di Lapang Sepak Bola Gumbira, Kecamatan Nagrak, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan nonton bareng pertandingan Persib Bandung melawan Persijap Jepara dan disambut antusias ribuan warga.

Sejak pagi, masyarakat memadati lokasi acara untuk mengikuti berbagai kegiatan mulai dari senam bersama, jalan santai, hiburan seni budaya hingga menikmati layanan publik yang disediakan pemerintah daerah. Suasana kebersamaan tampak begitu terasa di tengah semangat warga yang hadir dari berbagai wilayah.

Kepala BPKAD Kabupaten Sukabumi, Haerul Imam, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat melalui kegiatan yang sehat, edukatif, dan menghibur.

Menurutnya, kolaborasi antar perangkat daerah dalam kegiatan kemasyarakatan seperti ini sangat penting untuk membangun semangat persatuan dan meningkatkan kedekatan pelayanan kepada warga.

“Acara seperti ini bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat dengan pemerintah. Ini hal positif yang perlu terus dijaga,” ujarnya.

Selain hiburan dan olahraga, masyarakat juga memanfaatkan berbagai pelayanan yang tersedia, seperti pemeriksaan kesehatan gratis, pelayanan administrasi kependudukan, pasar murah, hingga bazar UMKM lokal yang ramai dikunjungi pengunjung.

Haerul Imam berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan karena mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun budaya.

Ia menilai antusiasme masyarakat dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan warga dapat menciptakan suasana yang harmonis dan penuh semangat kebersamaan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Festival Silat Pelajar, Bupati Dorong Prestasi dan Budaya

0
Oplus_131072

Wartain.com – Bupati Sukabumi H. Asep Japar membuka langsung Festival Pencak Silat Pelajar Kabupaten Sukabumi yang digelar di GOR Pemuda Cisaat, Minggu, 24 Mei 2026. Kegiatan yang diikuti sekitar 250 pesilat pelajar ini menjadi ajang unjuk kemampuan sekaligus seleksi tim Popwilda Kabupaten Sukabumi.

Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya olahraga prestasi, melainkan bagian dari identitas budaya bangsa yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

“Pencak silat bukan sekadar cabang olahraga, tetapi warisan budaya bangsa yang mengandung nilai luhur. Festival ini menjadi upaya bersama untuk melestarikan budaya sekaligus mencetak atlet-atlet berprestasi,” ujar H. Asep Japar.

Festival yang berlangsung selama dua hari, 24-25 Mei 2026, mempertandingkan kategori tanding dan seni. Para atlet pelajar dari berbagai wilayah di Kabupaten Sukabumi tampil menunjukkan kemampuan terbaiknya di hadapan para official, pelatih, dan masyarakat yang hadir.

Menurut Bupati, kegiatan tersebut menjadi wadah penting dalam membangun karakter generasi muda, terutama dalam menanamkan nilai sportivitas, disiplin, persatuan, dan cinta terhadap budaya lokal.

“Melalui festival ini saya berharap lahir bibit-bibit atlet muda yang mampu mengharumkan nama Kabupaten Sukabumi di tingkat yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Bupati pun berpesan kepada seluruh peserta agar bertanding dengan menjunjung tinggi sportivitas dan menjadikan kompetisi sebagai sarana belajar untuk memperkuat mental juara.

“Menang kalah adalah hal biasa, namun semangat juang dan sikap sportif adalah yang utama,” tegasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Kadisdik Sukabumi: IGTKI PGRI Pilar Pendidikan Anak Usia Dini

0

Wartain.com – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menyampaikan ucapan selamat Hari Ulang Tahun ke-76 kepada Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI PGRI).

Ucapan tersebut disampaikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi para guru taman kanak-kanak dalam membangun fondasi pendidikan anak usia dini di Kabupaten Sukabumi.

Dalam pesannya, Deden Sumpena berharap momentum HUT ke-76 IGTKI PGRI menjadi semangat baru bagi para pendidik untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan guru.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam mubarakatuh. Saya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi mengucapkan selamat Hari Ulang Tahun ke-76 untuk IGTKI PGRI. Semoga guru taman kanak-kanak semakin sejahtera dan pendidikan semakin maju,” ujarnya, Minggu (24/05/2026).

Ia menilai, peran guru TK sangat penting dalam membentuk karakter, kreativitas, dan kemampuan dasar anak sejak usia dini. Karena itu, keberadaan IGTKI PGRI dinilai menjadi mitra strategis dalam mendukung kemajuan dunia pendidikan, khususnya di jenjang pendidikan anak usia dini.

Deden juga berharap para guru TK terus menjaga semangat pengabdian, inovasi, dan profesionalisme dalam mendidik generasi penerus bangsa.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Intan)

Prabowo Instruksikan BMKG Antisipasi El Nino 2026 dengan Perkuat Modifikasi Cuaca

0

Wartain.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino akan mulai melanda Indonesia pada Juni 2026 hingga Maret atau Mei 2027.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan BMKG untuk memperkuat langkah mitigasi di berbagai daerah.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fatani, mengatakan Presiden Prabowo meminta agar operasi modifikasi cuaca (OMC) diperkuat guna menghadapi dampak El Nino yang berpotensi terjadi bersamaan dengan musim kemarau.

Menurut Faisal, arahan tersebut diberikan agar pemerintah dapat mengantisipasi risiko kekeringan dan cuaca ekstrem yang diperkirakan meningkat pada puncak musim kemarau tahun ini.

“Bapak Presiden memberikan arahan kepada BMKG agar memperkuat operasi modifikasi cuaca sehingga kita dapat mengantisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino sebaik mungkin,” ujar Faisal di Senayan, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Ia menjelaskan, operasi modifikasi cuaca akan dilakukan secara bertahap di sejumlah wilayah Indonesia. Langkah tersebut difokuskan untuk menjaga ketersediaan air di waduk, embung, serta kawasan tangkapan air selama musim kemarau berlangsung.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026. Kondisi El Nino yang muncul bersamaan dengan kemarau diprediksi menyebabkan cuaca lebih panas dan kering dibandingkan rata-rata kondisi dalam 30 tahun terakhir.

“El Nino dapat menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan lebih kering,” kata Faisal.

Selain ancaman kekeringan, BMKG juga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di enam provinsi yang memiliki kawasan gambut luas di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Faisal menyebutkan beberapa daerah yang menjadi fokus pengendalian karhutla di antaranya Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Saat ini pemerintah bersama lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah tengah melakukan pemetaan titik panas atau hotspot di wilayah rawan karhutla sebagai langkah pencegahan dini.

BMKG juga memanfaatkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait kondisi air tanah di lahan gambut. Jika permukaan air berada di bawah ambang tertentu, operasi modifikasi cuaca akan segera dilakukan guna meningkatkan kelembapan lahan agar tidak mudah terbakar.

Menurut Faisal, strategi pencegahan tersebut dinilai cukup efektif dalam membantu menekan jumlah kebakaran hutan dan lahan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Ujeng)

Di Balik Kesederhanaan: Ciri Kepribadian Orang yang Tak Suka Pamer di Media Sosial

0

Wartain.com – Perkembangan media sosial membuat banyak orang berlomba menunjukkan pencapaian, gaya hidup, hingga aktivitas pribadi di ruang digital. Namun di tengah arus tersebut, ada sebagian orang yang memilih hidup lebih tenang dan tidak gemar memamerkan kehidupan pribadinya di media sosial.

Pilihan untuk tidak banyak tampil bukan berarti tidak sukses, tidak bahagia, atau tidak mengikuti perkembangan zaman. Justru, sikap tersebut sering kali mencerminkan kepribadian tertentu yang lebih mengutamakan makna dibanding pengakuan publik.

Berikut beberapa ciri kepribadian orang yang cenderung tidak suka pamer di media sosial:

1. Lebih Mengutamakan Kehidupan Nyata

Mereka biasanya lebih fokus menikmati momen secara langsung dibanding sibuk mendokumentasikan semuanya untuk diunggah. Kebahagiaan dianggap cukup dirasakan, tanpa harus selalu mendapatkan validasi dari orang lain.

2. Tidak Haus Pengakuan

Orang dengan karakter ini umumnya tidak menjadikan jumlah “like”, komentar, atau pengikut sebagai ukuran nilai diri. Mereka merasa percaya diri tanpa harus membuktikan sesuatu di dunia maya.

3. Menjaga Privasi

Sebagian orang memahami bahwa tidak semua hal perlu diketahui publik. Kehidupan keluarga, kondisi ekonomi, hingga urusan pribadi dianggap lebih aman jika tidak diumbar secara berlebihan.

4. Cenderung Rendah Hati

Sikap sederhana sering menjadi alasan utama mereka tidak suka pamer. Mereka percaya bahwa pencapaian lebih baik dibuktikan lewat tindakan nyata dibanding sekadar tampilan di media sosial.

5. Lebih Selektif dalam Berteman

Orang yang tidak gemar pamer biasanya lebih nyaman memiliki hubungan sosial yang berkualitas daripada sekadar terlihat populer di internet. Mereka lebih menghargai komunikasi yang tulus.

6. Memahami Dampak Media Sosial

Sebagian orang sadar bahwa media sosial bisa memicu tekanan sosial, iri hati, hingga gaya hidup semu. Karena itu, mereka memilih menggunakan media sosial seperlunya saja.

Fenomena ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menjalani kehidupan digital. Ada yang aktif membagikan aktivitasnya, ada pula yang memilih hidup lebih tenang tanpa banyak sorotan.

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat komunikasi. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mewah unggahan mereka, melainkan dari sikap, karya, dan manfaat yang diberikan kepada lingkungan sekitar.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Dinamika Geopolitik Global dan Domestik 2025-2026: Antara Ketegangan Struktural dan Ketahanan Institusional

0
Oplus_131072

Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com – Geopolitik global tahun 2025-2026 bergerak di titik temu antara fragmentasi dan realignment kekuasaan. Di tingkat domestik, Indonesia menghadapi paradoks yang sama: pertumbuhan ekonomi yang diumumkan tinggi berjalan berdampingan dengan tekanan sosial dan finansial yang nyata. Pertanyaannya, apakah kondisi ini menunjukkan tanda-tanda keretakan negara dan kepemimpinan, atau justru fase penyesuaian dalam sistem yang masih berfungsi?

1. Fragmentasi Global dan Pergeseran Poros Kekuasaan

Lanskap global ditandai oleh tiga dinamika utama. Pertama, persaingan AS-China yang semakin transaksional. Pada Mei 2026, Presiden Donald Trump dan Presiden Vladimir Putin secara terpisah mengunjungi Beijing dalam rentang satu minggu. Simboliknya jelas: Beijing menjadi titik temu bagi dua rival besar, menandakan pergeseran arsitektur kekuasaan global ke arah multipolaritas yang berporos pada China.

Kedua, krisis Timur Tengah kembali menjadi pemicu ketidakstabilan ekonomi global. Blokade dan ketegangan di Selat Hormuz menyebabkan perdagangan minyak hampir berhenti, memicu lonjakan harga energi dunia. Prancis bahkan menyiapkan resolusi PBB untuk misi internasional di selat tersebut karena resolusi AS-Bahrain terancam diveto Rusia dan China.

Ketiga, PBB memangkas proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 2,5% dari 3,0% pada 2025, dengan alasan konflik Timur Tengah dan tekanan inflasi. Dunia tidak sedang runtuh, tetapi sedang menata ulang aturan mainnya.

2. Dinamika Domestik: Paradoks Pertumbuhan dan Tekanan Sosial

Di dalam negeri, pemerintahan Prabowo Subianto menghadapi situasi serupa. Pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61%, tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Namun pada saat yang sama, rupiah melemah ke Rp17.743 per dolar AS, IHSG turun 19,55% year-to-date, dan sekitar 40.000 pekerja manufaktur kehilangan pekerjaan pada Januari-April 2026.

Paradoks ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ditopang oleh belanja pemerintah dan stimulus, bukan oleh daya saing struktural. Program Makan Bergizi Gratis, Cek Kesehatan Gratis, dan Koperasi Desa Merah Putih mulai berjalan, tetapi dampaknya belum menyentuh kelas menengah yang rentan terhadap inflasi dan kualitas layanan publik.

Survei Populi Center Oktober 2025 menunjukkan 81,7% publik masih yakin Prabowo-Gibran mampu membawa Indonesia lebih baik. Namun 41,1% responden menyatakan pendapatan rumah tangga menurun. Ini adalah “garis patah kelas menengah” yang bisa menjadi sumber ketidakpuasan jika janji pertumbuhan 6,3% tidak tercapai.

3. Tanda-Tanda Keretakan atau Koreksi Sistemik?

Tanda-tanda keretakan negara biasanya muncul dari empat hal: hilangnya legitimasi, gagalnya fungsi fiskal, runtuhnya kohesi elite, dan pecahnya kontrak sosial. Sejauh ini, belum terlihat runtuhnya legitimasi secara menyeluruh. Kepuasan publik masih tinggi. Fungsi fiskal dijaga dengan target defisit di bawah 2,5% PDB.

Namun ada sinyal yang perlu diwaspadai. Reshuffle kabinet keenam dalam kurang dari dua tahun menunjukkan kesulitan membangun kohesi tim yang stabil. RUU Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing menuai kritik karena berpotensi menjadi alat pengheningan kritik domestik. Di bidang kedaulatan, pembahasan overflight clearance pesawat militer AS menimbulkan pertanyaan tentang batas kedaulatan udara Indonesia.

Di tingkat global, negara-negara yang jatuh biasanya mengalami kombinasi: ketergantungan ekonomi eksternal, utang tinggi, dan hilangnya kepercayaan publik. Indonesia belum masuk kategori itu. Cadangan devisa dan struktur ekonomi masih relatif kuat, dan tekanan berasal lebih pada penyesuaian struktural daripada krisis sistemik.

4. Keterbatasan & Saran Riset Lanjutan

Kajian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dicatat. Pertama, data ekonomi dan sosial yang digunakan bersifat preliminary per September 2026. Angka resmi BPS untuk tahun penuh 2026 belum tersedia, sehingga evaluasi dampak jangka panjang program seperti Makan Bergizi Gratis belum dapat dilakukan.

Kedua, analisis politik domestik mengandalkan survei publik dan pemberitaan media. Survei mencerminkan sentimen pada titik waktu tertentu dan dapat berubah cepat akibat peristiwa politik atau ekonomi mendadak.

Ketiga, kajian belum memasukkan analisis komparatif dengan periode pemerintahan sebelumnya dan belum mengukur indikator tata kelola seperti indeks persepsi korupsi, kebebasan pers, dan ruang sipil secara sistematis.

Untuk riset lanjutan, disarankan tiga hal:

1. Melakukan studi longitudinal dampak program prioritas terhadap kemiskinan dan ketimpangan dengan data BPS 2026-2027.
2. Memetakan “garis patah kelas menengah” melalui wawancara kualitatif untuk memahami persepsi dan ekspektasi kelompok ini.
3. Menggunakan kerangka teori keruntuhan negara dari Jack Goldstone dan Peter Turchin untuk menguji apakah indikator dini keretakan sudah muncul di Indonesia.

5. Penutup

Geopolitik 2025-2026 adalah dunia tanpa “Goldilocks”. Inflasi struktural lebih tinggi, pertumbuhan lebih rendah, dan kompetisi teknologi serta sumber daya semakin tajam. Bagi Indonesia, risikonya bukan keruntuhan mendadak, tetapi stagnasi jika reformasi struktural ditunda.

Tanda-tanda keretakan belum terlihat sebagai ancaman eksistensial. Yang ada adalah tekanan koreksi: terhadap kebijakan fiskal, tata kelola, dan cara negara mengelola harapan publik. Negara dan pemimpin jatuh ketika menolak koreksi. Selama ruang debat, koreksi kebijakan, dan akuntabilitas masih terbuka, sistem masih memiliki katup pengaman.

Dinamika saat ini lebih tepat disebut sebagai ujian ketahanan institusional, bukan pertanda kejatuhan. Ujian itu akan menentukan apakah Indonesia masuk fase konsolidasi atau terjebak dalam siklus krisis yang berulang.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)