Wartain.cim – Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, memperluas kiprah dakwahnya hingga ke Jepang. Sebanyak lima santri tingkat mahasiswa dijadwalkan bertolak ke Negeri Sakura untuk menjalankan misi pembinaan keagamaan di sejumlah masjid yang tersebar di empat kota.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pesantren dalam memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat Muslim diaspora, sekaligus melanjutkan program Ustadz Garis Depan (UGD) yang sebelumnya berfokus pada wilayah terpencil di Indonesia.
Lima santri tersebut akan ditempatkan di sejumlah masjid, di antaranya Masjid At-Taqwa di Kota Ibaraki, Masjid Baiturrahman Athiya di Wakayama, Masjid Al Hidayah di Tokishi, Gifu, serta masjid di Kota Nagano.
Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana, menjelaskan bahwa pengiriman para santri tersebut merupakan respons atas permintaan komunitas Muslim di Jepang yang membutuhkan tenaga pembina untuk menghidupkan aktivitas masjid.
Menurutnya, sejumlah masjid di Jepang telah dibangun melalui swadaya masyarakat Muslim setempat. Namun, keterbatasan sumber daya manusia menjadi tantangan dalam menjalankan kegiatan keagamaan secara rutin.
“Masjid di sana sudah berdiri kokoh berkat swadaya muslim setempat, tetapi mereka kekurangan sumber daya manusia untuk memakmurkan dan mengurus kegiatan harian. Oleh karena itu, kita mengirimkan ustadz secara berkala setiap tiga bulan sekali,” kata Fajar, Kamis (5/11/2026).
Ia menuturkan, program dakwah lintas negara ini merupakan pengembangan dari UGD yang sebelumnya telah mengirimkan santri untuk melakukan pembinaan di berbagai daerah terpencil di Indonesia, termasuk Pulau Buru, Maluku.
Pengalaman pengabdian tersebut menjadi bekal bagi para santri sebelum menjalankan tugas di lingkungan masyarakat Jepang yang memiliki latar belakang budaya berbeda.
Rencananya, keberangkatan lima santri akan dilakukan pada 13 November 2026. Dalam perjalanan tersebut, Fajar turut mendampingi sekaligus melaksanakan safari dakwah di beberapa kota di Jepang.
Selama berada di Jepang, para santri akan menjalankan sejumlah tugas keagamaan, mulai dari menjadi imam salat berjamaah, mengisi pengajian rutin, hingga memberikan bimbingan fikih ibadah praktis kepada umat Muslim setempat.
Pembinaan tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari, seperti tata cara wudhu, bersuci, pengurusan jenazah, pernikahan, hingga penyembelihan hewan sesuai ketentuan agama.
Fajar mengatakan, keberadaan ustadz di tengah komunitas Muslim diaspora diharapkan dapat membantu menjawab berbagai kebutuhan keagamaan yang selama ini belum terlayani secara optimal.
“Tugas mereka di sana itu menjadi imam sholat. Kedua, ngisi pengajian tiap hari, tiap malam buat muslim di sana. Kedua, memakmurkan masjid. Juga memimpin pengajian. Karena di sana itu juga pahamnya ahlussunnah wal jamaah, maka dimakmurkan dengan salawatan dan marhaban,” katanya.
Selain itu, para santri juga dituntut memiliki pemahaman yang memadai mengenai persoalan fikih yang kerap dihadapi umat Muslim di Jepang, termasuk dalam memilih makanan halal dan menjalankan ibadah di lingkungan yang berbeda.
“Begitu juga memahami tentang bab pernikahan, ya karena ada yang nikah konsultasinya ke ustadz kita, mereka juga harus memahami tentang pemotongan hewan kurban, mereka harus memahami juga bab yang namanya air, bab wudhu, bab najis, bab suci, ini mereka harus ngerti, karena di Jepang itu banyak warung-warung juga tidak berjualan makanan halal,” lanjutnya.
Pelaksanaan program dakwah diaspora ini didukung melalui kolaborasi dan rekomendasi sejumlah lembaga, di antaranya Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sukabumi dan pusat, Baznas tingkat nasional maupun daerah, Kopertais, serta Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI).
Fajar memastikan program tersebut tidak berhenti pada keberangkatan lima santri kali ini. Pesantren berencana melanjutkan penugasan secara berkala dengan sistem pergiliran santri yang telah memenuhi kriteria.
Ia menegaskan, pendekatan dakwah yang diterapkan harus mengedepankan sikap santun, toleransi, dan penghormatan terhadap masyarakat serta lingkungan tempat para santri bertugas.
“Jadi jangan sampai kita datang ke sana malah menimbulkan kekacauan di negara orang, ini berbahaya, sehingga dakwahnya dakwah santun, dakwah wali-wali songo yang kita ajarkan, dakwah yang menjaga kerukunan umat beragama,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang santri yang akan diberangkatkan, Muhammad Fakhrul Rozi, menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia mengaku siap menjalankan tugas pembinaan keagamaan di Jepang.
Fakhrul sebelumnya telah mengikuti berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, mulai dari menjadi relawan bencana di Cugenang, Cianjur, pembinaan sosial bersama Dinas Sosial Jawa Barat, hingga pengabdian di Pulau Buru.
Pengalaman tersebut menjadi bekal dalam menghadapi tantangan selama menjalankan misi dakwah di luar negeri.
“Tugas kami di sana meliputi memakmurkan masjid, mengimami shalat lima waktu, mengumandangkan azan, memimpin pengajian, serta membimbing ibadah praktis sehari-hari bagi warga muslim setempat,” kata Fakhrul.
Untuk menunjang kelancaran tugas, para santri juga telah menjalani sejumlah persiapan, mulai dari pembelajaran bahasa Jepang dasar, percakapan sehari-hari, hingga penguatan keterampilan menyampaikan tausiah dan memahami fikih ibadah praktis.
“Untuk persiapannya kita alhamdulillah mungkin mulai dari minggu kemarin kita sudah bersiap yang pertama dari bahasa. Kita alhamdulillah sudah belajar bahasa Jepang juga, ee tentang bahasa percakapan sehari-hari, bahasa dasar, terus ee kemudian belajar skill juga, keterampilan juga, baik dalam ilmu agama, terus dalam menyampaikan tausiah, dalam melaksanakan fikih-fikih praktis,” jelasnya.
Melalui program ini, Ponpes Dzikir Al-Fath berharap para santri dapat berkontribusi dalam memperkuat kehidupan keagamaan umat Muslim di Jepang sekaligus membawa nilai-nilai Islam yang damai, moderat, dan menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama.***(RAF)
Editor: Aab Abdul Malik
