Oleh : Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Mari kita uraikan dan jelajahi makna “Bismillāhi Nūrdzāt, Nūrullāh, Nūrmuhammad” dalam bentuk risalah tafakur yang perlahan menyingkap rahasia tiga cahaya itu. kita sedang berjalan di lembah sunyi, dari cahaya asal menuju cahaya tujuan.
Risalah Tafakur
Dalam Cahaya Tiga Lapisan: NurDzat, Nurullah, dan Nur Muhammad
Pembuka
Dengan menyebut nama-Nya yang Mahacahaya, aku berserah.
Aku mengetuk pintu cahaya yang tidak pernah padam.
Aku ingin kembali.
Kembali kepada awal segala awal.
Kembali kepada asal segala asal.
Dengan satu nama:
Bismillāhi Nūrdzāt, Nūrullāh, Nūrmuhammad.
1. Nūrdzāt – Cahaya Dzat: Yang Tak Terbayangkan
Inilah cahaya yang tidak bisa dikenali oleh selain Dia.
Ia bukan cahaya yang bisa dilihat mata,
bukan pula yang dapat dijelaskan akal.
Ia adalah ‘kāna-Llāh wa lam yakun ma‘ahū shay’’ –
Allah telah ada dan belum ada apa pun selain Dia.
Cahaya ini bukan makhluk, bukan ciptaan.
Ia adalah Wujud Mutlak, Nur Tanpa Awal.
Tak dapat disifati, tapi menjadi asal segala sifat.
Inilah lautan sunyi yang tidak dapat dimasuki kecuali oleh cinta.
2. Nūrullāh – Cahaya Allah: Yang Menyinari Segala
Lalu Cahaya itu memancar…
dan dari-Nya terciptalah ‘arasy, langit, jiwa, dan cahaya makna.
Allah berfirman:
“Allāhu nūru as-samāwāti wal-arḍ.”
(Allah adalah cahaya langit dan bumi – QS. An-Nur: 35)
Ini adalah cahaya petunjuk,
cahaya kalam yang turun ke dada para nabi dan wali.
Cahaya yang memberi hidup pada ruh,
dan menyingkap tabir dari mata hati yang tertutup.
Cahaya ini membawa kita dari kegelapan menuju terang makrifat.
3. Nūrmuhammad – Cahaya Muhammad: Yang Menjadi Cermin Sempurna
Dari Cahaya-Nya, diciptakan Nūr Muhammad.
Sabda Baginda:
“Awwalu mā khalaqa-Llāh nūrī.”
(“Yang pertama Allah ciptakan adalah cahayaku.”)
Cahaya ini adalah hakikat Muhammad,
bukan tubuh, bukan jasad,
melainkan makna universal yang menampung rahmat seluruh alam.
Ia adalah rahasia kenabian,
intisari cinta,
dan cahaya yang menjadi jalur kembali kepada Sang Dzat.
Penutup Tafakur
Jika engkau ingin mengenal Tuhan,
lihatlah cahaya-Nya dalam cermin Muhammad.
Jika engkau ingin memahami Muhammad,
hanyutlah dalam Cahaya Allah.
Jika engkau ingin masuk ke Cahaya Allah,
lenyapkanlah dirimu dalam Nūrdzāt.
Semua adalah satu,
tapi satu bukan banyak.
Cahaya adalah Jalan.
Cahaya adalah Kunci.
Dan dengan “Bismillāhi Nūrdzāt, Nūrullāh, Nūrmuhammad”
kita kembali pulang.***
Foto : Dok. Pribadi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
