26.7 C
Jakarta
Senin, Mei 25, 2026

Latest Posts

Evaluasi Satu Tahun Pemerintahan Kabupaten Sukabumi: Antara Luas Wilayah dan Keterbatasan Daya Kelola

Oleh : Mantra Sugrito – Wakil Ketua OKK DPD KNPI Kabupaten Sukabumi

Wartain.com || Satu tahun pemerintahan daerah adalah waktu yang cukup untuk membaca arah, meski belum cukup untuk menghakimi hasil. Di Kabupaten Sukabumi, tantangan terbesar bukan semata pada siapa yang memimpin, melainkan pada struktur persoalan yang diwariskan: wilayah yang sangat luas, kapasitas fiskal terbatas, dan birokrasi yang belum sepenuhnya adaptif.

Sebagai salah satu kabupaten terluas di Pulau Jawa dengan pusat pemerintahan di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi menghadapi persoalan klasik: jarak geografis yang berdampak langsung pada kualitas pelayanan publik. Warga di wilayah utara seperti Cicurug dan Cibadak harus menempuh perjalanan jauh untuk mengakses layanan administratif. Ketika akses jalan belum sepenuhnya baik, maka pelayanan terasa lambat—bukan semata karena kinerja, tetapi karena desain tata kelola yang belum menjawab realitas spasial.

Ketimpangan Pembangunan: Persepsi atau Fakta?

Pembangunan yang lebih terlihat di wilayah industri utara memunculkan kesan bahwa selatan dianaktirikan. Persepsi ini penting dicermati secara serius. Ketimpangan, jika tidak dikelola dengan komunikasi yang transparan dan perencanaan berbasis data, dapat berkembang menjadi ketidakpercayaan publik.

Pemda perlu memastikan bahwa setiap prioritas pembangunan memiliki dasar yang jelas dan terpublikasi secara terbuka. Transparansi bukan hanya soal laporan, tetapi soal narasi yang menjelaskan mengapa suatu wilayah didahulukan dan bagaimana wilayah lain akan menyusul dalam tahapan perencanaan.

Ketergantungan Fiskal dan Ruang Gerak yang Sempit

Kelemahan struktural berikutnya adalah ketergantungan tinggi terhadap dana transfer pusat. Ketika Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum optimal, ruang inovasi menjadi sempit. Potensi pariwisata pesisir, pertanian, dan perikanan sejatinya bisa menjadi pengungkit ekonomi lokal jika dikelola dengan pendekatan hilirisasi dan kemitraan investasi yang sehat.

Di sisi lain, belanja pegawai yang menyerap porsi besar APBD membuat fleksibilitas anggaran semakin terbatas. Kondisi ini menuntut efisiensi, bukan sekadar penghematan. Reformasi birokrasi harus diarahkan pada peningkatan produktivitas, bukan hanya penyesuaian struktur.

Reformasi Birokrasi: Mendesak dan Tidak Bisa Ditunda

Di era digital, pelayanan publik yang masih berlapis dan belum sepenuhnya terintegrasi menjadi ironi. Sistem perizinan dan administrasi kependudukan perlu bergerak ke arah yang lebih sederhana dan berbasis teknologi.

Merit system dalam penempatan pejabat juga menjadi kunci. Publik membutuhkan keyakinan bahwa jabatan diberikan atas dasar kompetensi, bukan kedekatan atau senioritas semata. Reformasi birokrasi bukan hanya jargon, melainkan prasyarat untuk mempercepat pelayanan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Pengawasan dan Lingkungan: Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan

Alih fungsi lahan produktif dan isu kerusakan lingkungan harus menjadi perhatian serius. Ketahanan pangan dan kelestarian ekosistem bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga isu ekonomi jangka panjang. Pengawasan yang lemah akan berujung pada biaya sosial yang lebih besar di masa depan.

Pemda perlu memperkuat fungsi kontrol—baik melalui pengawasan internal maupun kolaborasi dengan masyarakat sipil dan media. Pencegahan jauh lebih murah dibanding pemulihan.

Komunikasi Publik: Dari Reaktif ke Proaktif

Di era media sosial, respons lambat terhadap isu viral dapat memperburuk persepsi publik. Pemerintah daerah harus membangun sistem deteksi dini dan manajemen krisis komunikasi yang profesional. Transparansi anggaran juga perlu ditingkatkan, misalnya melalui dashboard publik yang mudah diakses dan dipahami warga.

Kritik masyarakat bukan ancaman, melainkan energi korektif. Pemerintahan yang sehat adalah pemerintahan yang mau mendengar dan memperbaiki diri.

Catatan Penutup: Membangun dengan Kesadaran Realitas

Evaluasi satu tahun ini menunjukkan bahwa tantangan Kabupaten Sukabumi bersifat struktural dan kompleks. Luas wilayah yang besar membutuhkan desain tata kelola yang berbeda dari kabupaten lain. Desentralisasi pelayanan, optimalisasi PAD, reformasi birokrasi berbasis merit, serta penguatan pengawasan menjadi agenda mendesak.

Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengingatkan bahwa harapan masyarakat tidak pernah kecil. Pemerintah daerah memiliki kesempatan untuk menjadikan tahun kedua sebagai momentum pembenahan yang lebih terukur dan berani.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya pada serapan anggaran, tetapi pada seberapa jauh kebijakan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga—dari pesisir selatan hingga kawasan industri di utara.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.