Oleh: Siti Ratna Maymunah – CEO Wartain.com dan Bendahara SMSI Sukabumi Raya
Wartain.com – Setiap 1 Juni kita merayakan Hari Lahir Pancasila. Tapi peringatan ini tidak akan bermakna jika nilai-nilainya hanya dibacakan di podium. Salah satu ujian paling nyata Pancasila hari ini adalah bagaimana kita memaknai sila ke-2 “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan sila ke-5 “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” dalam konteks penyetaraan gender.
Pancasila tidak mengenal kata “laki-laki” atau “perempuan” saat bicara hak dan martabat. Pancasila hanya mengenal kata “manusia”. Maka, ketika masih ada anak perempuan putus sekolah karena dianggap “nanti juga nikah”, ketika upah perempuan lebih rendah untuk pekerjaan yang sama, ketika ruang publik belum aman untuk semua, berarti kita belum sepenuhnya hidup dalam Pancasila.
Penyetaraan gender bukan soal menjadikan perempuan “meniru laki-laki”. Penyetaraan gender adalah memastikan laki-laki dan perempuan punya akses, kesempatan, dan perlindungan yang setara untuk tumbuh. Itu yang dimaksud keadilan sosial. Tidak ada yang diistimewakan, tidak ada yang ditinggalkan.
Di dunia pers yang saya geluti di Wartain.com, kami melihat sendiri dampaknya. Redaksi yang memberi ruang sama untuk jurnalis perempuan dan laki-laki justru melahirkan liputan lebih lengkap dan berempati. Ketika ada bencana, suara ibu-ibu di pengungsian bisa terekam. Ketika ada kebijakan, dampaknya ke pekerja perempuan bisa diulas. Itu jurnalisme berjiwa Pancasila.
Pemerintahan Prabowo yang kini menekankan keberpihakan pada rakyat harus menjadikan penyetaraan gender sebagai indikator keberhasilan. Angka pertumbuhan ekonomi akan terasa hampa jika separuh tenaga kerja perempuan masih terjebak kerja informal tanpa jaminan. Keadilan sosial baru nyata ketika puskesmas punya layanan kesehatan reproduksi, sekolah aman dari perundungan, dan UU TPKS dijalankan konsisten.
Sila ke-3 “Persatuan Indonesia” juga bertumpu pada gender. Keluarga yang harmonis lahir dari relasi setara antara suami-istri. Desa yang maju lahir dari ibu-ibu PKK yang diberi pelatihan, bukan hanya diberi bantuan. Negara kuat lahir dari generasi muda yang sejak kecil diajarkan menghormati, bukan merendahkan, karena jenis kelamin.
Tantangannya besar. Budaya patriarki, stereotip, dan bias kebijakan masih mengakar. Tapi Pancasila mengajarkan kita gotong royong. Pemerintah, dunia usaha, ormas, kampus, media, dan keluarga harus jalan bersama. Laki-laki harus jadi sekutu, bukan saingan. Perempuan harus diberi ruang memimpin, bukan hanya “melengkapi”.
Untuk generasi muda Sukabumi dan Indonesia: Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 ini jadikan momentum introspeksi. Cek diri sendiri. Apakah kita sudah menghargai teman perempuan di kelas, kolega perempuan di kantor, ibu kita di rumah, sebagai manusia seutuhnya? Karena perubahan besar selalu mulai dari hal kecil.
Saya percaya, Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai jika semua sumber daya manusia, laki-laki dan perempuan, diberdayakan. Tidak ada bangsa maju yang membiarkan setengah potensinya terkunci di dapur atau dipinggirkan dari ruang keputusan. Pancasila menuntut kita berpikir dan bertindak demikian.
Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip semangat Abah Anom Ketua PWI Sukabumi: jadikan 1 Juni titik balik untuk kerja lebih jujur dan lebih kompak. Mari kita tambah satu: lebih adil. Adil untuk semua manusia Indonesia. Karena hanya bangsa yang adil pada warganya, yang akan disegani dunia.
Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari kita wujudkan, bukan hanya hafalkan.!(***)
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
