26.7 C
Jakarta
Sabtu, Juli 18, 2026

Latest Posts

Tradisi Ruwatan di Kampung Budaya Pasir Astana Terus Dilestarikan sebagai Bentuk Ikhtiar dan Warisan Leluhur

Wartain.com – Tradisi ruwatan atau rajah masih dilestarikan masyarakat adat di Kampung Budaya Pasir Astana, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Ritual ini selalu dilakukan sebelum memulai suatu kegiatan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan permohonan kepada Allah SWT.

Bagi warga setempat, tradisi budaya bukan sekadar seremoni. Ruwatan dimaknai sebagai ikhtiar memohon keselamatan, kelancaran, dan perlindungan setiap kali menyelenggarakan kegiatan.

Sesepuh Kampung Budaya Pasir Astana, Uloh Saepuloh, menjelaskan prosesi ruwatan atau rajah selalu menjadi pembuka setiap kegiatan di lingkungan kampung budaya.

“Insyaallah atas izin Allah, diawali ruwatan, harapannya setiap kegiatan berada dalam lindungan Allah SWT, diberi kelancaran, dan dijauhkan dari berbagai energi negatif maupun musibah,” ujar Uloh.

Ia menegaskan keyakinan masyarakat adat tetap hanya kepada Allah SWT. Ruwatan diposisikan sebagai doa dan ikhtiar, bukan penentu mutlak keselamatan.

Hal serupa juga disampaikan Uloh usai menghadiri pelantikan pengurus SMSI Sukabumi Raya, Sabtu (18/7/2026) di Gedung Pendopo Kabupaten Sukabumi.

Menurutnya, tradisi tolak bala seperti ini juga dikenal di berbagai daerah. Salah satunya pada momentum Rebo Wekasan yang diisi dengan doa bersama atau ritual tolak bala agar terhindar dari bencana.

Uloh menegaskan, ruwatan bukanlah jaminan seseorang akan terbebas dari musibah. “Semua tetap atas kehendak Allah SWT. Ruwatan hanyalah sarana ikhtiar, sedangkan keselamatan dan perlindungan sepenuhnya berasal dari Allah,” tegasnya.

Tradisi ini, kata Uloh, merupakan amanah yang diwariskan leluhurnya yang berasal dari kawasan Gunung Gede. Amanah itu terus dijaga hingga kini sebagai bagian dari identitas budaya Kampung Pasir Astana.

“Sejak dahulu para leluhur kami mewariskan tradisi ini. Hingga sekarang kami tetap menjalankannya setiap kali ada kegiatan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya,” tuturnya.

Bagi masyarakat adat, melestarikan ruwatan juga menjadi cara menjaga jati diri Sunda. Nilai-nilai leluhur diwariskan agar tidak punah di tengah perkembangan zaman.

Meski menjadi tradisi turun-temurun, Uloh menekankan tidak ada unsur paksaan dalam pelaksanaan ruwatan. Setiap orang bebas menentukan sikap sesuai keyakinan masing-masing.

“Siapa pun yang mencintai budaya leluhur dipersilakan ikut melestarikannya. Yang terpenting, keimanan dan keyakinan tetap hanya kepada Allah SWT. Ruwatan hanyalah bagian dari tradisi budaya yang kami jaga hingga sekarang,” pungkasnya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.