26.7 C
Jakarta
Selasa, Maret 17, 2026

Latest Posts

Integrasi Tauhid, Fiqih dan Tasawuf : Representasi kembali kepada Fitrah

Oleh : Ikin Abdurrahman/Direktur Majelis Dzikir Dan Sholawat RI 1 Prabowo Subianto, Yayasan Merah Putih 08

Wartain.com || Dalam Surat Ali-Imran ayat 19 Allah SWT berfirman :

إِنَّ ٱلدِّینَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَـٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam”.. (QS. 3 : 19).

Kemudian Masih dalam surat Ali-Imran pada ayat yang berbeda yaitu ayat 85, Allah SWT menegaskan penolakan corak beragama apapun Selain Agama Islam.

وَمَن یَبۡتَغِ غَیۡرَ ٱلۡإِسۡلَـٰمِ دِینࣰا فَلَن یُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”
(QS. 3 : 85).

Lantas apa dan bagaimana Agama Islam itu..!?

Yang Mulia Kangjeng Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan kepada kita tentang apa dan bagaimana Agama Islam itu. Dalam hadits Jibril AS berikut diriwayatkan :

“Dari Umar radhiallahu ‘anhu dia berkata :
Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) seraya berkata :
” Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
“ISLAM adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”,
kemudian dia berkata : “anda benar”…
Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi : ” Beritahukan aku tentang IMAN”. Lalu beliau bersabda : “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”,
kemudian dia berkata : “anda benar”…
Kemudian dia berkata lagi : “Beritahukan aku tentang Ihsan”.

Lalu beliau (Rasulullah) bersabda : “IHSAN adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka Dia melihat engkau”.

Kemudian dia berkata : “Beritahukan aku tentang As-Sa’ah -hari kiamat- (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda : “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya”.

Dia berkata : “Beritahukan aku tentang tanda-tandanya”, beliau bersabda : ” Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya”, kemudian orang itu berlalu dan aku (Umar) berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya : “Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata : ” Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda : “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) “MENGAJARKAN AGAMA” kalian”.
(Riwayat Muslim)

Bahwa Hadits Shahih tersebut diatas memuat 3 Rukun Agama Islam (Arkanu Dienil Islam), yaitu Iman, Islam, dan Ihsan,

“Rukun” menurut bahasa berasal dari kata “Ruknun” dan jamaknya adalah “Arkanun” yang berarti “asas atau dasar”.

Sedangkan menurut istilah ialah ketentuan yang harus (wajib) dipenuhi dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan ibadah, apabila salah satu rukun itu tidak dipenuhi maka ibadah / pekerjaan tersebut menjadi tidak sah alias batal. Misalkan membasuh muka dalam berwudhu, atau membaca surah Al-Fatihah dalam shalat, dan sebagainya.

Dengan demikian maka tiga Rukun Agama ini yaitu Iman, Islam, dan Ihsan merupakan tiga hal yang tidak bisa dipisahkan dan tentunya harus dipenuhi sekaligus dalam beragama Islam.

Jika ketiga hal tersebut tidak terpenuhi atau gugur salah satunya maka cacatlah keberagamanya alias tidak sah dalam beragama Islamnya.

Berkaitan dengan Iman, Islam, dan Ihsan tentunya secara praktis sudah ada sejak zaman Nabi dan zaman Sahabat Nabi SAW, tetapi berupa susunan ilmu atau kodifikasi ilmu yang tersusun secara sistematis dalam catatan kitab mulai dirintis oleh para Ulama sejak zaman Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in dan para ulama setelahnya.

Tentang IMAN dijabarkan oleh para ulama dengan fan Ilmu Tauhid, yaitu hal-hal yang wajib diyakini oleh seorang mukallaf (orang yang telah dewasa yang wajib menjalankan hukum agama), yang terdiri dari ketuhanan, kenabian, dan hal-hal yang sam’iyyat (masalah-masalah ghaib). Dengan ilmu Tauhid ini seorang hamba akan mengenal Allah sehingga tidak salah menyembah dan mengabdi kepada-NYA.

Tentang amaliyah ISLAM dipelajari dalam Ilmu Fiqih, yaitu ilmu tentang hukum-hukum syari’at yang diwajibkan dan apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT untuk dilakukan para mukallaf (kaum muslimin dan muslimat).

Tentang IHSAN dijelaskan oleh para ulama dengan kodifikasi Ilmu Tasawuf, yaitu ilmu akhlak batin sehingga bisa menghadap Allah secara khusu’. Ilmu Tasawuf merupakan hal-hal yang menyelamatkan, wajib dijadikan hiasan oleh seorang hamba, dan dijelaskan pula hal-hal yang dapat merusakkan hati dan jiwa yang mesti dijauhi dan ditinggalkan.

Ketiga cabang ilmu ini, yaitu Tauhid, Fikih, dan Tasawuf, memiliki peran penting dalam memantapkan iman seseorang, mengantar kepada bagaimana tata cara beribadah yang benar kepada Allah SWT, dan bagaimana membangun kesadaran akan hubungan dengan Allah dalam semua aspek kehidupan.

Menurut Mushannif (pengarang) kitab Kifayatul Atqiya’, hukum mempelajari ketiga ilmu tersebut (Tauhid, fiqih, dan Tasawuf) adalah fardhu ‘ain. Konsekuensinya setiap muslim harus terus belajar dan faham ketiga ilmu ini. Tujuannya adalah agar hidup kita selalu berada dalam koridor apa yang digariskan oleh agama Islam itu sendiri.

Oleh Karena itu maka pada kitab-kitab klasik, seperti kitab ihya Ulumiddin Imam Ghazali, kitab Tanwirul qulub karya Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi dan sebagainya, dalam menjelaskan Agama ini (Islam) para Ulama salaf selalu membaginya pada tiga pembahasan pokok yaitu Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf. Tiga hal Itu (Tauhid, fiqih, dan tasawuf) adalah representasi dari tiga rukun Agama Islam yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.

Dengan demikian maka dalam memahami setiap seruan Allah SWT tentang Dienul Islam di dalam Al-Qur’an maka objeknya adalah seruan kepada tiga rukun tersebut sekaligus dan tidak boleh memisah memisahkannya atau mengambil salah satu dan meninggalkan sebagian yang lainnya.

Umpamanya mengambil pokok-pokok tauhid dan mengamalkan Fiqih tapi meninggalkan Tasawuf, atau mengambil amaliyah fiqih dan tasawuf tapi tauhid nya disepelekan, atau amaliyah fiqih nya hanya diambil sebagian-sebagian saja sesuai selera saja. jelas hal itu merupakan tindakan memecah belah Agama yang terlarang.

Mari sejenak kita renungkan teguran Allah SWT dalam surat Al-An’am ayat. 159 :

{ إِنَّ ٱلَّذِینَ فَرَّقُوا۟ دِینَهُمۡ وَكَانُوا۟ شِیَعࣰا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِی شَیۡءٍۚ إِنَّمَاۤ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ ثُمَّ یُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ یَفۡعَلُونَ }

Artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.
[Surat Al-An’am : 159]

Alhasil, mengintegrasikan iman Islam dan Ihsan -tauhid, fiqih, dan tasawuf- pada diri setiap Muslim adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar tawar lagi, Dalam Surat Al-Baqarah Ayat 208 Alloh swt Berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah : 208)

Akhirnya kita semua bermohon kepada Alloh semoga pada hari raya ‘Iedul Fithri 1446 H ini kita betul-betul menjadi bagian dari orang -orang yang kembali kepada keadaan yang suci dan termasuk orang-orang yang berhasil, yaitu kembalinya seorang muslim kepada fithrah beragamanya dengan lurus,

{ فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّینِ حَنِیفࣰاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِی فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَیۡهَاۚ لَا تَبۡدِیلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلدِّینُ ٱلۡقَیِّمُ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ }

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
[Surat Ar-Rum : 30]

Selamat Hari Raya ‘idul Fithri 1446 H.
Minal ‘aidin wal Faizin. (***)

Foto : Ilustrasi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.