26.7 C
Jakarta
Minggu, Mei 24, 2026

Latest Posts

“Iqra,” Bacalah ! Dalam Tinjauan Ahli Dzikir

Oleh : Ikin Abdurrahman/Direktur Majelis Dzikir Dan Sholawat RI 1 Prabowo Subianto Yayasan Merah Putih 08

Wartain.com || Metode Makrifatnya :

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

(1) “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu” (Bismi Allah), Dzat Yang Telah Menciptakan.

Ayat pertama memberi tau kita bahwa menyebut Nama Tuhan (ismu Dzat-Allah) merupakan metode “membaca” (menemukan jawaban) tentang hakikat yang kita cari. Ayat pertama diturunkan untuk menjawab kebutuhan paling mendasar manusia tentang “adanya” Sang Khalik serta “metode makrifat” tentang-Nya. Pada ayat pertama ini pula termuat visi utama kenabían, yaitu memperbaiki akhlaq. “Akhlaq” berakar pada kata “khaliq”. Akhlaq yang baik akan terwujud manakala ada Khaliq dalam diri kita. Akhlaq adalah perwujudan sifat-sifat ilahiyah Sang Khaliq. Dzikir merupakan metode mensucikan diri, memanggil-manggil, menghadirkan atau men-download karakter Khaliq (Allah).

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

(2) “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”

Pada ayat kedua, Allah menjelaskan bahwa dalam diri manusia ada “segumpal darah” (‘alaq). Inilah tempat bersemayamnya qalbu ruhaniah, atau Hakikat dari insan. Dzikir bertujuan menghidupkan qalbu. Kita tidak pernah bisa menjangkau Allah yang *laitsa kamislihí syaiun* itu. Namun Allah dapat menghampiri qalbu yang tenang. Pada diri para sufi ditemukan dimensi ‘alaq (hati dalam dimensi material) yang bergetar, setelah qalbu mereka (hati dalam dimensi jiwa) dihidupkan dengan dzikir.

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka”
dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
(QS. Al-Anfàl : 2).

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

(3)“Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia/Pemurah (Akram)”

Pada ayat ketiga ini Allah berbicara tentang karomah yang bisa diperoleh manusia jika senantiasa berdzikir, membaca atau mengulang-ulang Asma-Nya. Allah itu pemilik segala bentuk “akram” (kemuliaan). Siapapun akan memperoleh kemurahan dari Allah ketika jiwa sudah bersama-Nya. Namun kita tidak bisa memaksa diri untuk berjumpa dengan-Nya. Dia sendiri yang memilih dengan siapa Dia ingin bertemu. Kita berhasil bukan karena usaha kita. Melainkan karena kebaikan-Nya sendiri. Kalau mau dihitung-hitung, lalai dan dosa kita lebih banyak daripada ‘amal shalih. Kita selamat semata-mata karena kasih sayang-Nya. Kemurahhatian Allah lah yang kita cari.

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

(4)“Yang mengajar dengan perantaraan Qalam”

Pada ayat keempat Allah menjelaskan, bahwa Dia mengajarkan kita dengan “perantara” (wasilah), yaitu qalam. Dalam pengertian zhahir-lahiriah, qalam adalah “péna” untuk menulis. Namun belum ada tradisi mengasah pena dalam dunia Arab sa’at itu. Jadi, pengertiannya lebih kepada makna bathiniah. Yang dimaksud qalam disini adalah qalam ‘ala, “qalam awwal” atau entitas pertama yang diciptakan Allah, yang dengannya semua memperoleh wujud.[1] Itulah *Nur Muhammad*, sebuah perantara atau wasilah yang dengannya Tuhan menciptakan dan mengajarkan (membimbing) manusia. Ada banyak sebutan untuk *Qalam Awwal* : ruh, ruhul akbar, ruhul quddus, ruhul muqaddasah, rasulullah, hakikat muhammad, ahmad, nur muhammad, ‘aqlu awwal, malak, ruh ilahi, amar Allah, nur, nurullah, atau nurun ‘ala nurin.

عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(5) “Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya”

Para ahli dzikir seperti nabi dan wali-wali-Nya merupakan qalam Allah yang terus hadir sepanjang zaman. Melalui perantaraan mereka Allah mengajarkan manusia esensi pengetahuan. Rahasia-rahasia langit dan sesuatu yang tersembunyi menjadi diketahui karena adanya para nabí dan orang-orang kasyaf lainnya. Untuk memperoleh kebenaran tertinggi seperti yang dimiliki para kekasih Allah, kita mesti riyadhah bermujahadah. Dengan ritual iqra’ (membaca dengan menyebut-nyebut Nama Allah) ruh manusia terkoneksi dengan ruh yang lebih tinggi (ruhul quddus). Ruhul quddus merupakan qalam Allah, pena awwal atau bathin Al-Qur’an. Melalui proses dzikir dan penyucian jiwa seseorang memiliki ketersambungan dengan qalam Allah ini :

لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلْمُطَهَّرُونَ.

“Tidak ada yang dapat menjangkaunya kecuali orang-orang yang disucikan”
(QS. Al-Waqi’ah : 79).

Dan, merupakan anugerah kesempatan dari Allah bahwa kita memasuki ‘idul fithri setelah Ramadhan ini. Ada malam-malam tertentu (disebut malam qadar) yang baik untuk kita melakukan riyadhah sehingga memungkinkan untuk terkoneksi dengan dimensi malakut dan ruh ini :

تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ.

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ar-Ruh (malaikat Jibril) dengan idzin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
(Al-Qadar : 4).***

Foto : Ilustrasi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.