Wartain.com – Di tengah padatnya kawasan industri Panggeleseran, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, berdiri sebuah kedai dengan konsep berbeda. Namanya Kedai Jendela Kopi, tepat di belakang Bank BNI KCP Panggeleseran, Jl. Pelabuhan II KM 12.
Kedai UMKM yang baru buka pada Agustus 2026 ini langsung menarik perhatian. Bukan hanya karena racikan kopinya, tetapi juga bangunannya yang mempertahankan rumah klasik dengan banyak jendela kayu zaman dulu.
“Karena dari model rumahnya yang banyak jendela zaman dulu dan ini sangat khas, hanya rumah ini yang punya model seperti ini di lingkungan sini, makanya kami sepakat pakai nama Jendela Kopi,” ujar pemiliknya, Dwi saat ditemui, Rabu 07/10/2026.
Awalnya, kedai UMKM ini lahir dari hobi sederhana. Dwi Febiyanti, S.Pd, yang merupakan penikmat kopi gemar meracik kopi sendiri di rumah. Dari beberapa racikan yang dirasa pas, muncul keinginan untuk membagikannya ke orang lain. Ide itu pun mendapat dukungan penuh dari sang suami yang memfasilitasi modal awal. Kini, omsetnya sudah mencapai belasan juta rupiah.
“Alasan pertama itu karena saya sendiri penikmat dan pecinta kopi, jadi selalu buat racikan sendiri. Begitu dapat beberapa racikan yang pas, timbul inspirasi supaya orang lain juga bisa menikmati kopi hasil racikan saya,” ungkapnya.
Seiring ramainya pengunjung, menu Jendela Kopi terus berkembang. Kini tersedia kopi dan non-kopi hingga kudapan. Untuk kopi, favoritnya adalah Kopi Susu Aren dan Kopi Butterscotch. Sementara kudapan yang paling diburu adalah Pisang Goreng Saus Karamel dan Mie Goreng Cekaw.
Mie Cekaw sendiri menjadi pembeda. Kuliner legendaris khas Sukabumi ini cukup langka karena tidak dijual di pasaran umum maupun supermarket. Dwi mendapatkannya langsung dari pabriknya di kawasan Odeon, Sukabumi, sehingga cita rasanya tetap otentik.
Konsep yang ditawarkan bukan sekadar tempat ngopi. Jendela Kopi juga menjadi ruang nostalgia. Di dalam kedai, pengunjung akan menemukan berbagai koleksi barang antik dan jadul yang sengaja dipajang pemilik, yang memang kolektor barang antik.
“Harapan ke depannya Jendela Kopi ini semakin dikenal orang, bisa jadi tempat kuliner sekaligus tempat bernostalgia melihat barang-barang antik atau jadul yang ada di rumah ini. Karena kami pun salah satu pecinta atau kolektor barang-barang antik zaman dulu,” tutur Dwi.
Suasana kedai yang hangat membuatnya cocok untuk berbagai kalangan, mulai dari pekerja kawasan industri yang butuh jeda sejenak, anak muda yang mencari spot nongkrong estetik, hingga keluarga yang ingin kulineran santai. Pada jam sibuk, aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan interior kayu klasik menciptakan kenyamanan tersendiri.
Daftar menunya pun ramah di kantong. Untuk varian kopi tersedia Kopi Tubruk, Americano, Lemon Rock, Coldbrew, Kopi Susu Aren, Kopi Butterscotch, Salted Caramel, Hazelnut, Pistachio, dan Vietnam Drip. Minuman non-kopi ada Iced Matcha, Iced Chocolate, Ocean Blue, dan SuLe (Susu Lemon). Sedangkan makanan ada Pisang Goreng Saus Caramel, Tempe Mendoan, Milo Lava Toast, Macaroni Scotel, Salad Sayur Telur, Mie Goreng Cekaw, dan Salad Sayur Ayam.
Bagi warga yang tidak sempat datang langsung, Jendela Kopi juga sudah tersedia di aplikasi GoFood dan GrabFood.
Kedai ini beroperasi setiap hari. Hari biasa (weekday) buka pukul 09.00 – 21.00 WIB, sementara akhir pekan (weekend) buka lebih panjang hingga pukul 09.00 – 00.00 WIB.***
Editor: Aab Abdul Malik
(DH/Yosep)
