Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Jumat bukan sekadar penanda hari dalam kalender, melainkan simpul waktu yang sarat makna. Ia datang sebagai pertemuan antara langit dan bumi, antara kehendak Ilahi dan kesadaran manusia. Dalam tradisi Islam, Jumat disebut sebagai sayyidul ayyām—penghulu segala hari—karena pada hari inilah manusia diundang untuk kembali menata niat, membersihkan hati, dan menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Jumat adalah hari cinta, anugerah, dan pengampunan; hari di mana Allah membuka pintu rahmat-Nya lebih luas bagi hamba yang mau hadir dengan kesadaran sejati.
Segala amal dalam Islam bermula dari niat. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa nilai suatu perbuatan tidak ditentukan oleh bentuk lahiriahnya, melainkan oleh niat yang melahirkannya. Niat adalah arah batin, kompas ruhani yang menentukan ke mana langkah manusia akan berujung. Pada hari Jumat, manusia diingatkan kembali: untuk siapa ia hidup, bekerja, beribadah, dan bercita-cita. Apakah semua itu berhenti pada kepentingan diri, ataukah melampaui ego menuju ridha Allah semata.
Dalam kehidupan, manusia mengenal dua bentuk ibadah: ibadah yang tampak sakral seperti shalat, puasa, dan haji; serta ibadah yang tersembunyi dalam keseharian seperti bekerja, memimpin, dan melayani sesama. Jumat menyatukan keduanya. Ketika seseorang melangkah ke masjid untuk shalat Jumat, ia meninggalkan sejenak urusan dunia. Namun sesungguhnya, Allah tidak memerintahkan manusia meninggalkan dunia, melainkan meluruskan niat dalam mengelolanya. Setelah shalat selesai, manusia diperintahkan kembali bertebaran di bumi, mencari karunia Allah dengan kesadaran yang telah dibersihkan.
Di sinilah pertanyaan hakiki muncul: siapakah “aku” yang berniat? Ketika seseorang berkata, “Aku berniat shalat,” atau bahkan “Aku berniat menjadi pemimpin,” aku yang manakah yang sedang berbicara? Apakah aku yang dikuasai nafsu, yang mengejar pujian dan kekuasaan? Ataukah aku yang telah disadarkan oleh hati, yang ingin menjadi jalan bagi keadilan dan kasih sayang Allah di muka bumi?
Islam mengajarkan bahwa diri manusia bukanlah entitas tunggal yang sederhana. Ada aku jasmani, ada aku nafsani, ada aku akal, dan ada aku ruhani. Jumat hadir sebagai momentum untuk menundukkan aku yang rendah, agar aku yang hakiki—sebagai hamba—dapat tampil ke permukaan. Dalam khutbah Jumat, ayat-ayat Allah dibacakan bukan untuk menambah pengetahuan semata, tetapi untuk mengguncang kesadaran: bahwa manusia bukan pemilik apa pun, melainkan pemegang amanah.
Cinta kasih Allah SWT pada hari Jumat tampak dalam undangan-Nya yang lembut namun tegas. Allah memanggil hamba-hamba-Nya tanpa membedakan status, jabatan, atau masa lalu. Raja dan rakyat berdiri sejajar, bersujud di atas lantai yang sama. Di hadapan Allah, yang tersisa hanyalah niat dan kejujuran hati. Inilah wajah keadilan Ilahi yang sejati: bukan persamaan dalam kekuasaan, tetapi kesetaraan dalam kehambaan.
Jumat juga mengajarkan bahwa kekuasaan, jika diniatkan karena Allah, dapat menjadi ibadah yang agung. Menjadi Presiden, Gubernur, pemimpin, atau siapa pun, bukanlah tujuan itu sendiri. Ia hanyalah alat. Ketika niatnya lurus—untuk menegakkan keadilan, menjaga amanah, dan melayani makhluk Allah—maka setiap keputusan, keringat, dan pengorbanan bernilai ibadah. Namun ketika niat menyimpang, kekuasaan berubah menjadi fitnah yang menjerumuskan jiwa.
Pada akhirnya, Jumat adalah cermin. Ia memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya dan ke mana arah hidup kita menuju. Ia mengajarkan bahwa hidup bukan tentang menjadi siapa di mata manusia, tetapi tentang siapa kita di hadapan Allah. Dalam keheningan doa pada hari Jumat, manusia diajak berbisik: “Ya Allah, luruskan niatku, sucikan hatiku, dan jadikan aku jalan bagi cinta-Mu.”
Semoga setiap Jumat menjadi titik balik kesadaran, tempat niat diperbarui, dan cinta kasih Allah mengalir dalam seluruh denyut kehidupan kita.***
