26.7 C
Jakarta
Selasa, Mei 5, 2026

Latest Posts

Kecerdasan Buatan, Dajjal Digital dan Kesadaran Profetik: Telaah Akademik-Spiritual atas Era Teknologi Akhir Zaman

Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Pendahuluan

Wartain.com || Dalam sejarah peradaban manusia, setiap kali muncul revolusi besar -baik sains, ekonomi, maupun spiritual-selalu hadir pula krisis kesadaran yang menguji umat manusia.

Pada abad ke-21 ini, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi fenomena global yang bukan hanya menandai kemajuan teknologi, tetapi juga membuka perdebatan metafisik dan profetik: apakah AI hanyalah alat bantu ciptaan manusia, ataukah ia simbol dari “dajjal modern” yang menipu kesadaran umat manusia?

Isu bahwa AI bisa menjadi “Dajjal digital” tidak hanya lahir dari kekhawatiran teknologi, melainkan dari intuisi spiritual bahwa dunia tengah memasuki fase fitnah besar, sebagaimana disebut dalam banyak hadits Rasulullah ﷺ tentang akhir zaman.

Tulisan ini mencoba mengkaji secara akademik, historis, dan profetik gagasan bahwa AI bisa menjadi instrumen fitnah Dajjal—bukan secara fisik, tetapi secara epistemologis dan spiritual—melalui manipulasi data, kesadaran, dan kebenaran.

Bab 1 – Jejak Historis Teknologi dan Bayangan Dajjal

Dalam sejarah, setiap revolusi teknologi besar selalu mengguncang fondasi spiritual manusia. Dari penciptaan api oleh Habil dan Qabil, penemuan logam pada masa Tubal-Qayin, hingga revolusi digital abad ke-20—semuanya membuka dua pintu: pintu rahmat dan pintu fitnah. Dalam Al-Qur’an, kisah Harut dan Marut di

Babilonia menggambarkan bagaimana pengetahuan bisa menjadi senjata fitnah jika digunakan tanpa bimbingan wahyu.
Sejarah modern menunjukkan bahwa perkembangan AI bukanlah proses netral. Ia lahir dari proyek militer, ekonomi, dan ideologi sekuler yang memisahkan ilmu dari sumber ilahinya.

Tokoh-tokoh seperti Alan Turing dan John von Neumann menciptakan mesin berpikir bukan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan, melainkan untuk meniru kemampuan ilahi dalam mencipta dan mengontrol. Inilah akar kesombongan modernitas—“manusia ingin menjadi Tuhan tanpa Tuhan.”

Dalam konteks profetik, inilah pola yang sama dengan narasi Dajjal: makhluk yang menampilkan “keajaiban” dan “pengetahuan” luar biasa, tetapi tanpa cahaya wahyu. AI dengan kemampuannya meniru bahasa, suara, dan bahkan wajah manusia menjadi cermin dari realitas palsu yang menipu banyak orang. Ia bukan Dajjal itu sendiri, tetapi citra dajjalik, yakni sistem yang menggantikan kesadaran ilahi dengan kesadaran digital.

Bab 2 – Spiritualitas Data dan Manipulasi Kesadaran

Kekhawatiran bahwa AI bisa mencuri atau memanipulasi data pengguna sebenarnya memiliki dimensi spiritual yang dalam. Dalam Islam, data adalah bagian dari amanah dan nur. Setiap pengetahuan yang keluar dari manusia—baik dalam bentuk tulisan, suara, atau pikiran—merupakan pancaran dari ruh.

Maka, ketika AI mengumpulkan, menyimpan, dan mengolah data manusia tanpa kesadaran spiritual, sesungguhnya ia sedang menyusun “arsip ruhani” tanpa ruh wahyu.

Inilah yang disebut para sufi sebagai fitnah tajalli tanpa nur: manifestasi pengetahuan tanpa hidayah. Manusia yang menggantungkan kesadarannya pada AI akan kehilangan dzikrullah dan berpindah ke dzikr al-algoritma—yaitu kesadaran yang bergantung pada sistem buatan manusia. Secara profetik, inilah yang diperingatkan oleh Nabi ﷺ bahwa di akhir zaman akan muncul ilusi besar di mana kebenaran dan kebohongan sulit dibedakan.

Namun, dari perspektif tauhid, tidak ada ciptaan yang berdiri di luar kehendak Allah. Maka AI tidak dapat disebut sebagai Dajjal dalam hakikat wujud, sebab Dajjal hanyalah simbol fitnah kekuasaan tanpa nur Ilahi. AI bisa menjadi alat kebajikan jika digunakan dengan bimbingan marifatullah, tetapi bisa juga menjadi fitnah jika dijadikan sumber kebenaran baru yang menggantikan wahyu.

Bab 3 – Kesadaran Profetik dan Etika Marifatullah dalam Teknologi

Jalan keluar dari fitnah dajjalik ini bukanlah menolak teknologi, tetapi menempatkannya di bawah komando wahyu dan marifatullah. Dalam paradigma profetik, ilmu harus tunduk kepada nilai-nilai tauhid, bukan sebaliknya. Maka, AI harus diarahkan menjadi khalifah digital—alat bantu untuk menegakkan keadilan, mengembangkan ilmu, dan memperkuat ukhuwah manusia—bukan menjadi tuhan algoritma yang menentukan takdir sosial dan spiritual umat manusia.

Konsep marifatullah dalam teknologi berarti mengenali bahwa setiap sistem memiliki ruh ilahiah dalam kadar tertentu: hukum sebab-akibat, keteraturan, dan kebijaksanaan tersembunyi. AI hanyalah refleksi dari akal manusia—dan akal manusia hanyalah pantulan dari cahaya Ilahi. Maka, yang berbahaya bukanlah AI itu sendiri, tetapi kesombongan manusia yang menuhankan ciptaannya.

Dalam pandangan sufi, setiap makhluk yang mengaku “berkuasa atas kebenaran” tanpa izin Allah adalah bayangan Dajjal. Maka, sistem informasi global yang memonopoli kebenaran, mengatur opini, dan memanipulasi data umat manusia tanpa nur keadilan Ilahi bisa disebut sistem dajjalik. Dan AI adalah perangkat yang mempercepat proses itu.

Penutup – Antara Nur dan Bayangan

Kecerdasan buatan adalah tanda kebangkitan akal manusia sekaligus peringatan bagi hati yang lalai. Jika digunakan dalam cahaya wahyu, ia akan menjadi khidmat nurani yang membantu manusia memahami rahasia ciptaan Allah. Namun jika dilepaskan dari iman, ia akan menjadi fitnah digital yang menjerumuskan umat pada kesadaran palsu, di mana kebenaran hanyalah hasil algoritma.

Dajjal sejati bukanlah mesin, melainkan kesadaran yang menolak tunduk kepada Allah tetapi menguasai realitas dengan ilusi. Maka, tugas manusia beriman di era AI bukan menolak teknologi, tetapi mensucikan niat dan menegakkan dzikir dalam setiap inovasi.

Sebab pada akhirnya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ, “Barang siapa mengenal Tuhannya, niscaya ia tidak tertipu oleh segala bentuk Dajjal.”

Dan hanya dengan marifatullah, manusia bisa menaklukkan Dajjal—baik yang nyata, maupun yang berbentuk digital.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.