26.7 C
Jakarta
Jumat, Mei 15, 2026

Latest Posts

Ketika Tahu Tak Lagi Menggetarkan : Mengapa Ilmu Tak Mencegah Dosa?

Oleh :  Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com ||  Ada yang patah di dalam jiwa manusia hari ini. Ia tahu, tapi tidak takut. Ia mengerti, tapi tidak gentar. Ia hafal ayat, hadis, dan hukum, tapi tetap melangkah menuju maksiat seolah Allah tak melihat.

Inilah zaman ketika pengetahuan tentang Allah tidak lagi membuat orang tunduk, ketika hafalan dalil tak lagi meneteskan air mata, ketika khutbah demi khutbah hanya menggema di udara tanpa menyentuh daging dan darah.

Ilmu jadi hiasan, bukan jalan keselamatan.
Para ahli ilmu menyampaikan larangan, menjelaskan keharaman, merinci dosa. Tapi kehidupan mereka tak mencerminkan kedahsyatan ayat yang mereka lantunkan. Masyarakat pun ikut mendua: mulutnya mengucap Allah, tangannya merangkul dunia, hatinya kosong dari rasa hadir-Nya.

Apa yang salah? Bukan pada ilmunya. Tapi pada hatinya. Ilmu telah kehilangan roh, kehilangan rasa takut, kehilangan cinta. Ia jadi kering, dingin, dan dangkal. Ia hanya ada di kepala, tak turun ke dada.
Dulu, ilmu membawa getar. Hari ini, ilmu sekadar gelar.

Tahu bahwa zina itu haram, tapi tetap melakukannya. Tahu bahwa riba dilaknat, tapi tetap menjalaninya. Tahu bahwa lidah bisa mencelakakan, tapi terus menyebar fitnah. Tahu Allah Maha Melihat, tapi bertindak seolah Dia absen.

Inilah tahu yang tak lagi menyelamatkan.
Maka bukan sekadar dakwah yang dibutuhkan. Tapi kebangkitan jiwa. Gerakan sadar hati. Aksi penyadaran yang menusuk. Bukan sekadar ceramah, tapi penyeruan yang mengguncang.

Kita butuh mereka yang berilmu dan hidup dalam ilmu. Yang berbicara dan tubuhnya menangis. Yang menyeru dan hatinya bergetar. Kita butuh wajah yang mengingatkan akhirat hanya dengan menatapnya.

Aksi yang dibutuhkan bukan revolusi sosial, tapi revolusi spiritual.
Saat ilmu bertemu rasa takut, lahirlah nurani. Saat tahu bertemu cinta, lahirlah taat. Saat dalil bertemu hati yang hidup, lahirlah manusia yang bersujud, menangis, dan lari dari dosa meski bisa bersembunyi.
Hari ini, ilmu sudah ada. Tapi ruhnya hilang. Yang harus dicari bukan pengetahuan baru, tapi penyucian jiwa.

Karena hanya hati yang hidup yang bisa mendengar suara Allah — bahkan di balik pintu maksiat yang terkunci rapat.
Mari beraksi: bukan dengan banyak bicara, tapi dengan banyak menggugah jiwa.
Bukan menambahkan hafalan, tapi menambahkan getaran.

Karena dosa tak akan berhenti dengan tahu. Ia hanya tunduk pada hati yang mencintai dan takut kepada-Nya.***

Foto : Ilustrasi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.