26.7 C
Jakarta
Selasa, Mei 12, 2026

Latest Posts

Spirit Palabuhanratu: Mengawal MBG sebagai Jalan Kedaulatan Ekonomi dan Investasi Langit Sukabumi

Wartain.com – Di tengah desau angin malam dan hangatnya aroma kopi di Bale-Bale Pantai Citepus, Palabuhanratu, Senin malam (11/05/2026), sebuah narasi besar tentang masa depan Sukabumi lahir dari diskusi santai namun bernas. Adalah Penasihat SMSI Sukabumi Raya, Aam Abdul Salam, Ketua didampingi Bendahara SMSI Sukabumi Raya, Eman ‘Sule’ Sulaeman dan Siti Ratna M; bersama Sekjen Rumah Literasi Merah Putih, Dede Heri, yang membedah program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar sebagai kebijakan teknis, melainkan sebagai sebuah revolusi multisektoral.

Diskusi di tepian samudera ini menyepakati satu hal: MBG adalah momentum “emas” yang harus ditangkap Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk menggerakkan tiga pilar utama: ekonomi, budaya, dan spiritual.

Pilar Ekonomi: Menghidupkan Dapur Desa, Menggerakkan Petani

Dari perspektif ekonomi, MBG adalah stimulus pasar yang nyata bagi masyarakat pedesaan. Sulaeman panggikan akrab Kang Sule menegaskan bahwa program prioritas Presiden Prabowo ini harus menjadi lokomotif terciptanya lapangan kerja baru. Ibu-ibu di pelosok desa tidak lagi sekadar menjadi objek pembangunan, tetapi subjek produktif sebagai relawan dan pengelola dapur lokal.

Lebih dari itu, MBG harus menjadi “pembeli siaga” bagi hasil bumi Sukabumi. UMKM, pelaku usaha, kelompok tani, hingga peternak lokal wajib menjadi rantai pasok utama. Jangan sampai bahan baku dapur MBG didatangkan dari luar daerah, sementara petani kita hanya menjadi penonton. Ini adalah jalan kedaulatan pangan tingkat lokal yang akan memutar roda ekonomi desa secara signifikan.

Pilar Budaya: Menghidupkan Kembali Literasi Gotong Royong

Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih melihat ini sebagai penguatan budaya literasi sosial. Program ini secara tidak langsung mendidik masyarakat tentang pentingnya gizi dan pola hidup sehat. Secara kultural, keterlibatan warga di sekitar lokasi dapur akan menghidupkan kembali semangat gotong royong yang sempat memudar. Budaya “saling jaga” melalui ketersediaan pangan bagi anak-anak, ibu hamil, dan bayi menyusui adalah investasi sosial yang tidak ternilai harganya bagi ketahanan masyarakat Sukabumi.

Pilar Spiritual: Memuliakan Generasi, Menjemput Keberkahan

Dalam dimensi spiritual, sebagaimana yang mengemuka dalam diskusi tersebut, MBG adalah bentuk nyata dari memuliakan manusia. Menyiapkan generasi muda yang cerdas dengan kualitas SDM mumpuni adalah tugas suci. Upaya menekan angka stunting bukan sekadar mengejar angka statistik, melainkan ikhtiar batiniah untuk memastikan anak-anak Sukabumi tumbuh sehat akal dan fisiknya untuk menjadi pemimpin masa depan. Ada nilai ibadah dalam setiap porsi makanan yang disajikan dengan penuh tanggung jawab.

Harapan: Kawalan Ketat Hingga Tingkat Desa

Aam Abdul Salam mengingatkan pentingnya pengawalan total dari jajaran dinas hingga perangkat desa/kelurahan. Pemkab Sukabumi tidak boleh membiarkan program ini berjalan secara mekanis tanpa pengawasan. Keberhasilan MBG di Sukabumi adalah keberhasilan kolektif untuk memastikan tidak ada celah bagi kegagalan distribusi maupun kualitas.

Dari obrolan di Bale-Bale Citepus ini, pesannya jelas: Program MBG adalah “hajatan besar” rakyat Sukabumi. Jika dikawal dengan hati (spiritual), dikelola dengan kebersamaan (budaya), dan dioptimalkan melalui pemberdayaan lokal (ekonomi), maka Sukabumi bukan hanya akan bebas dari stunting, tapi juga akan menjadi daerah yang mandiri secara ekonomi dari akar rumput, di setiap pelosok desa dan sudut sudut perkotaan.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.